Wednesday, 3 July 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 5 Part 2

Keesokan harinya, langit cerah mengiringi langkah anak-anak menuju sekolah.

Ha Na sampai di depan kelas tapi langkahnya terasa ragu untuk masuk kesana. Ia melihat suasana kelas dari luar pintu. Ia melihat Na Ri sedang bersenda gurau dengan teman lainnya. Ha Na merasakan badannya tak enak karena kehujanan tadi malam. Ia agak batuk dan mencoba merasakan suhu tubuhnya. Ia mengeluh, apa sekarang dirinya sakit.
Ha Na memantapkan hatinya, ia tak boleh terlihat sakit dimata teman-temannya. Ia menarik nafas panjang dan melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Ia tersenyum gembira menyapa, “Halo teman-teman!”

Mereka yang tadi bersenda gurau terdiam mendengar suara Ha Na. Mereka menatap Ha Na sejenak dan kembali melanjutkan obrolan mereka tanpa menjawab sapaan Ha Na. Mereka cuek. Bo Mi dan Seo Hyun memandang reaksi teman-teman mereka yang mengabaikan sapaan Ha Na. Ha Na yang tadi tersenyum ceria ketika menyapa langsung terdiam begitu teman-temannya mengabaikan sapaannya.
Ha Na tersenyum menghampiri meja Na Ri yang ngobrol bersama Sun Young dan Hwa Jung. “Halo...!” sapa Ha Na pada Na Ri dan dua temannya yang lain. Tapi mereka sama sekali tak memandang Ha Na. Mereka mengabaikan dan tetap pada obrolan mereka.

Ha Na mengakrabkan diri walaupun dicuekin seperti itu. “Na Ri, kau membeli gaun baru ya?” Ha Na melihat baju baru yang dipakai Na Ri. “Cantik sekali, aku iri.” ucap Ha Na tapi Na Ri tak mempedulikannya.
“Benar. Cantik sekali...!” sahut Hwa Jung.

Na Ri heran, “Siapa? dengan siapa kau bicara?” tanya Na Ri pada Hwa Jung.

“Aku tak dengar apa-apa.” seru Sun Young. “Apa kau melihat sesuatu?” tanya Na Ri pada kedua temannya.

“Benarkah? aku lelah sekali jadi mungkin aku melihat sesuatu.” Ujar Hwa Jung.
Ha Na terdiam kedatangannya sama sekali tak dianggap oleh mereka. Ia jelas-jelas menyapa tapi mereka menganggap ia tak ada. Ha Na menunduk sedih, Na Ri melirik sinis kearah Ha Na.
Dong Goo masuk ke kelas dan mengajak Ha Na untuk mempersiapkan kelas. Mendengar Dong Goo berkata begitu Na Ri bertanya, Dong Goo sedang bicara dengan siapa. Sun Young juga ikut bertanya, apa Dong Goo melihat hantu. Hwa Jung menebak jangan-jangan Ibu Dong Goo seorang cenayang. 

Dong Goo terdiam menoleh menatap Ha Na yang berdiri di sampingnya. Ia bisa mengerti maksud mereka yang tak menganggap kehadiran Ha Na.
Dong Goo tentu saja marah dan mendorong Sun Young, “Apa kau mau mati?” Sun Young ikut marah dirorong seperti itu, “Apa yang kau lakukan, kenapa kau mendorongku?” Dong Goo berkata kalau mereka sudah bersikap kekanak-kanakan dengan mengucilkan Ha Na. 

Mereka tak mengakuinya, “Siapa? Memangnya kami melakukannya pada siapa?” Dong Goo makin kesal, “Pada Shim Ha Na. Apa kalian menyebut diri kalian ini teman?” Mereka pun ribut.
Tepat saat itu Guru Ma datang dan menanyakan kenapa di dalam kelas ribut sekali. Melihat kedatangan Guru Ma anak-anak langsung duduk rapi di tempat mereka. Guru Ma berkata kalau ia sudah menyuruh mereka untuk duduk dan menyelesaikan soal dengan tenang. Ia bertanya pada setiap ketua kelompok, siapa saja tadi yang bicara.
Mereka diam, tapi Bo Mi mengangkat tangan dan berdiri. “Shim Ha Na berteriak-teriak dan Oh Dong Goo membuat kekerasan.” Ha Na terkejut Bo Mi mengatakan itu. Dong Goo menahan jengkel pada Bo Mi.

Guru Ma menilai kalau Ha Na ini seseorang yang tiada hari tanpa membuat masalah. Ia menghukum kelompok 6 untuk tetap tinggal di kelas usai sekolah dan membersihkan ruangan. Ha Na hanya bisa menunduk diam. Mereka menyeringai puas karena Ha Na yang disalahkan.
Bo Mi mengawasi anggota kelompoknya yang dihukum membersihkan ruangan. Ia sudah seperti mandor saja. Dong Goo menyuruh Bo Mi lebih baik pulang saja. Tapi Bo Mi berkata kalau ia sengaja disini untuk mengawasi anggotanya yang sedang dihukum.
 “Oh begitu ya. Baik, terserah saja!” seru Dong Goo jengkel. Bo Mi juga kesal dengan tingkah Dong Goo. Ia pun akan pergi sebentar dan akan kembali lagi. Jadi ia harap mereka bertiga membersihkan kelas dengan baik. “Oh iya iya kami pasti akan mematuhi perintahmu!” sahut Dong Goo dengan tingkah konyolnya sambil menahan jengkel.
Setelah Bo Mi pergi Ha Na bertanya pada teman-temannya apa Bo Mi baik-baik saja. Dong Goo heran siapa yang Ha Na maksud. Ia melihat Ha Na tampak tak sehat, “Apa kau demam?

Ha Na menjawab tidak, bukan dirinya ia sedang membicarakan Bo Mi. Dong Goo heran memangnya ada apa dengan Bo Mi. Dia itu bersungguh-sungguh untuk menjadi ketua kelompok. Ha Na merasa ada kesalahpahaman antara dirinya dengan Bo Mi sejak penampilan di festival itu. Ia merasa tak bisa terus seperti ini. Dong Goo menyarankan lebih baik Ha Na khawatirkan diri sendiri. Ha Na harus menemukan pencuri sebenarnya dan menghapus kesalahpahaman itu.

Ha Na yang sepertinya pilek sesekali menahan ingusnya. Ia tak mengerti Bo Mi dan yang lainnya kenapa bersikap seperti ini. Ia merasa kalau semuanya berpihak pada nenek sihir itu.
Ha Na meminta saran Seo Hyun apa ada solusi. Seo Hyun berkata kalau ia setuju dengan ucapan Dong Goo. Sekarang Ha Na tak perlu mencemaskan orang lain, dalam keadaan seperti ini apa pun yang Ha Na katakan teman-teman tak akan percaya.
Dong Goo langsung menampilkan aksi konyolnya, “Seperti motto yang Nyonya Oh pegang teguh ‘kalau kau tak bisa menjauhinya, maka lupakan saja.’” Dong Goo mengingatkan kedua temannya kalau Bo Mi itu sama seperti anak lain. Lupakan tentang mereka dan bagaimana kalau kita bermain bersama, kita sudahi saja bersih-bersihnya, Dong Goo mengajak keduanya bermain. Permainan tembak-tembakan dan mereka tak akan stres lagi.
Ha Na menilai Dong Goo ini menyedihkan. “Ketika berurusan dengan orang di sekitarmu kau bersikap bodoh. Tapi ketika ada masalah kau hanya melarikan diri. Itu pengecut. Seperti yang Guru Ma katakan, bukankah pengecut membutuhkan rasa kasihan? Anak sepertimu yang tumbuh tanpa kasih sayang ibu ......” ups Ha Na langsung terdiam merasa tak enak sudah keceplosan bicara seperti ini.
Dong Goo juga terdiam, ia menyadari betul kalau ucapan Ha Na tak salah. Ia memang tumbuh tanpa pernah merasakan belaian kasih sayang ibunya. Ha Na menunduk merasa bersalah dan menyesal. Dong Goo berusaha tak sedih di depan kedua temannya dan membenarkan perkataan Ha Na. Ia memang seperti itu kok, ia minta maaf. Dong Goo keluar dari kelas.
Ha Na terdiam menyesal sudah mengatakan hal itu. Ia kesal pada dirinya sendiri. Seo Hyun memberi tahu kalau Dong Goo sejak kemarin mencemaskan Ha Na dan apa yang Ha Na katakan tadi sudah keterlaluan. Ha Na juga tak mengerti dengan dirinya kenapa ia jadi seperti ini. Ia memegang kening dengan telapak tangan, apa ia demam.
Ha Na ke ruang UKS. Disana ada ibu kepala sekolah mengukur suhu tubuhnya. Ibu kepsek bilang kalau Ha Na benar demam. Ia memberikan obat dan menyuruh Ha Na untuk meminum obat itu. Ia juga menyuruh Ha Na lebih baik pulang saja dan beristirahat.

Ha Na diam saja tak segera minum obat. Ibu kepsek heran, ia mengatakan kalau Ha Na tak perlu khawatir terhadap obat yang ia berikan. Ia sudah memiliki izin medis kok. Ia memberi tahu kalau ia pernah bertugas selama satu bulan di klinik ketika guru UKS sedang keluar. Ha Na pun meminum obatnya.
Ibu kepsek bertanya siapa dia. Ha Na tak mengerti apa maksudnya. Ibu kepsek berkata bukankah Ha Na bilang bukan pencurinya, siapa pencuri yang sebenarnya. Ha Na menunduk, ia tak menyangka kalau ibu kepsek tahu tentang masalah ini.

Ibu kepsek : “Memangnya aku bodoh? Bagaimana aku tak tahu tentang kejadian kemarin? Aku juga mendengar kalau kau bersikeras bukan kau pelakunya. Lalu siapa? kalau bukan dirimu, lalu siapa pelakunya?”

Ha Na terbata-bata tak bisa mengatakannya. Ibu kepsek bisa menebak kalau Ha Na pasti tahu siapa pelaku sebenarnya. Ha Na yang bingung berkata kalau ini sebuah dilema baginya. Ia tak ingin mengadukan temannya yang menjadi pelaku, tapi jika dirinya yang disalahkan seperti ini tentu saja membuat sakit dan frustasi.

Ha Na meminta pendapat ibu kepala sekolah, kalau ini terjadi pada ibu kepsek apa yang akan Bu kepsek lakukan. Ibu kepsek tampak berfikir, ia menilai tak ada bedanya kalau hal itu menimpa dirinya.
Ha Na berterima kasih dan akan keluar dari ruang UKS. Tapi ibu kepsek berkata sesuatu, “Dari apa yang aku pelajari dari kehidupanku tidak semua pertanyaan di dunia ini memiliki jawaban yang benar seperti ketika ujian. Jadi kau juga tidak harus memberikan jawaban sebelum ujian itu berakhir. Gunakan waktumu dan berfikirlah dengan hati-hati. Kemudian lakukan sesuai dengan kata hatimu. Benar begitu kan?”

Ha Na mengangguk membenarkan. Ibu kepsek berpesan kalau sakit lagi Ha Na bisa datang padanya. Ia meyakinkan kalau dirinya ini benar-benar memiliki izin medis. Ha Na tertawa mengiyakan. 
Keesokan harinya di kelas, Dong Goo tak masuk sekolah. Ha Na menoleh ke belakang tempat duduk Dong Goo yang kosong. Ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah atas ucapannya kemarin. 
Dimana Dong Goo? Dia bermain baseball sendirian di lapangan kecil tepi sungai ditemani oleh boneka kesayangannya. Ia bolak-balik sendirian melakukan lemparan dan pukulan. Ia berteriak kegirangan sendiri menikmati permainan baseball.
Menyadari kalau kesenangan ini ia ciptakan sendirian dan ia nikmati sendirian. Ia pun jadi terdiam. Ia benar-benar sendirian tak ada siapapun bersamanya.
Dong Goo tiduran terlentang di tanah. “Ini tak ada artinya,” Dong Goo bicara dengan bonekanya dan dijawab oleh dia sendiri, “apa kau tak pergi sekolah?” “Aku berhenti.” “Bagaimana dengan Shim Ha Na?” “Anak itu, lagi pula dia mungkin bisa hidup lebih baik tanpa aku.” “Dia terlihat sakit kemarin, mereka juga mengucilkannya.” Dong Goo menghela nafas sambil menatap langit cerah.
Di jam pelajaran berikutnya di kelas 6-3. Guru Ma menyuruh In Bo membacakan teks bacaan di buku pelajaran.

Ha Na membuka buku pelajaran miliknya, tapi ia tercengang begitu melihat bukunya penuh dengan coretan dan sobek. Ha Na menyembunyikan buku dibawah meja, itu tak boleh diketahui orang lain. Ia panik sendiri dan menutup bukunya. Apa ini teror yang dilakukan teman-teman Ha Na. Na Ri cs menyeringai puas.
Guru Ma melihat gerak-gerik Ha Na dan menyuruh In Bo berhenti membaca. Ia menyuruh Ha Na untuk melanjutkan bacaan yang tadi dibaca In Bo. Ha Na bingung, ia tak tahu harus membaca bagian mana karena halaman yang ada di bukunya sobek tak ada dan penuh coretan. Ha Na menyembunyikan buku di laci mejanya. Ia berdiri berkata sambil menunduk kalau ia tak membawa buku pelajarannya.
Guru Ma pun menghukum Ha Na berdiri di luar tak boleh mengikuti pelajaran. Na Ri tampak tersenyum puas. Ha Na keluar kelas dan berdiri di koridor depan kelasnya.
Di saat istirahat Ha Na bicara dengan Soo Jin dan teman-teman Soo Jin. Soo Jin menanyakan apa yang ingin Ha Na katakan. “Apa kau mau meminta kami membelikanmu buku pelajaran?” Ha Na menjawab tidak.

Na Ri yang yang baru saja masuk ke kelas terkejut melihat Ha Na bicara dengan Soo Jin. Ia mendengarkan apa yang mereka perbincangkan.
Ha Na menjelaskan pada Soo Jin bahwa kejadian dompet itu ia hanya sedikit bertanggung jawab. Meskipun yang mencuri dompet itu bukan dirinya tapi ia menyadari kalau dirinya juga ikut bertanggung jawab. Ha Na minta maaf pada Soo Jin. Soo Jin heran, kenapa Ha Na minta maaf kalau memang bukan pencurinya. “Lalu siapa pencuri yang sebenarnya?” Ha Na bingung mengatakannya. 
Soo Jin mendesak Ha Na mengatakan yang sebenarnya supaya ia bisa memutuskan perkataan Ha Na ini bisa dipercaya atau tidak. Na Ri yang mendengar percakapan mereka tampak cemas. Ia takut Ha Na mengatakan perihal sebenarnya. Seo Hyun dan Bo Mi juga mendengarnya. Ha Na berkata kalau ia tak bisa mengatakannya. Na Ri tampak sedikit lega tapi masih khawatir.

Soo Jin kesal, apa ini, apa Ha Na sedang berusaha berbohong supaya tak dianggap sebagai pencuri. Ga Eul membenarkan ucapan Soo Jin dan menilai Ha Na bersikap begini karena memang berbohong supaya tak disebut sebagai pencuri.

Ha Na mengatakan kalau ia dan temannya sudah berjanji. “Teman itu berjanji padaku akan mengatakan sendiri kebenarannya dan mengatakan padaku untuk menunggu tapi ini ternyata lebih lama dari yang kukira.” Ia akan menunggu sampai temannya ini mengatakan sendiri yang sebenarnya. “Guru Ma bilang bodoh sekali mempercayai yang namanya persahabatan tapi aku percaya pada temanku itu.”

Na Ri terdiam mendengar apa yang dikatakan Ha Na.

Soo Jin kembali menanyakan apa benar Ha Na pencurinya. Ha Na sekali lagi bilang bukan. Orang yang mencuri dompet Soo Jin bukan dirinya.
Na Ri berada di toilet memandangi foto dirinya bersama Ha Na. Ia terdiam merasa bersalah. Tapi ia juga tak ingin teman-teman tahu kalau pelaku sebenarnya adalah dirinya. Tiba-tiba terdengar dari luar toilet Soo Jin dan teman-temannya bicara.

“Apa kalian percaya ucapan Ha Na?” Soo Jin menilai kalau Ha Na bohong kemungkinan Ha Na pasti akan sangat menyesal dan kalau memang apa yang dikatakan Ha Na benar maka Ha Na memang yang terbaik, bukankah dia yang tetap melawan nenek sihir itu sampai akhir.
Na Ri membuka sedikit pintu toilet dan melihat siapa yang sedang membicarakan Ha Na.

Mereka bertanya-tanya kalau bukan Ha Na pelakunya lalu siapa. Soo Jin bilang siapapun itu, mereka pasti akan menemukannya. Orang itu bukan hanya pencuri tapi juga pembohong. Soo Jin akan memastikan kalau pelaku itu tertangkap ia akan terus menjahili si pelaku bahkan hingga masuk ke SMP nanti. Ia akan mengatakan pada semua orang kalau dia pencuri.

Na Ri yang mendengar itu tampak cemas. Mereka tak boleh tahu kalau pelaku sebenarnya adalah dirinya.
Dong Goo masih berada di tempatnya bermain baseball. Ia yang haus meminum minuman seadanya. Ia bergumam haruskah ia ke sekolah ya setidaknya untuk makan. Ia benar-benar lapar.

Dong Goo bicara pada Miss Rosa, “Ini bukan karena aku mengkhawatirkan Ha Na lho ya.” Dong Goo ingat kalau membersihkan kelas setelah olahraga itu sangat berat bahkan hari ini juga membuang sampah. Ia mengkhawatirkan Ha Na yang harus bersih-bersih tanpa dirinya. Ia sangat yakin kalau Eun Bo Mi tak akan membantu. Sedangkan Kim Seo Yeon dia itu tipe orang yang hanya mengerjakan pelajaran sekolah. “Apa aku harus pergi ke sekolah hanya ketika bersih-bersih saja?” Dong Goo menghela nafas panjang.
Dong Goo merasa ada yang aneh karena tiba-tiba sinar matahari tertutup. Ia melihat ada bayangan hitam. Dong Goo menoleh ke belakang dan terkejut bukan main ketika tahu siapa yang ada di belakangnya. Jantungnya hampir copot karena kaget. Ternyata itu Guru Ma.
Dong Goo berdiri dan heran ia menanyakan kenapa Guru Ma ada disini. Guru Ma balik bertanya apa Dong Goo tak mau ke sekolah. Dong Goo tertawa apa Bu Guru sengaja datang menemuinya untuk mengajaknya ke sekolah.
Dong Goo berkata kalau niat Guru Ma seperti itu, maka tak akan ada gunanya. “Aku Oh Dong Goo memutuskan untuk mengkahiri karir sekolah dasarku sekarang. Jika seorang pria sudah menarik pedangnya, maka dia harus memperjuangkannya.”

(Nih anak di pelajaran kurang tapi kok bisa membuat ungkapan ya hahaha)
Guru Ma memuji kalau Dong Goo sudah membuat keputusan yang hebat. Dong Goo terkejut Guru Ma menyetujui keputusannya. Guru Ma berharap kalau keputusan Dong Goo yang bulat itu tak akan berubah. Dong Goo dengan lirih berkata tentu saja.

Guru Ma mengingatkan kalau yang namanya pendidikan dasar itu wajib. Dong Goo harus lulus pendidikan dasar, itu tak boleh gagal. Dong Goo tertawa, apa hanya itu saja. Guru Ma bilang tidak, ia sudah menyiapkan sesuatu untuk Dong Goo.
Guru Ma menyerahkan sebuah map berisi ijazah pada Dong Goo. Dong Goo heran kenapa Guru Ma memberinya ijazah. Guru Ma berkata kalau Dong Goo tak mau sekolah, maka Dong Goo harus lulus ujian atau pindah ke sekolah yang baru. Tapi hal itu hanya akan menyusahkan Dong Goo dan dirinya. Dong Goo membenarkan ucapan Gurunya.

Guru Ma : “Aku tak memberikanmu kertas cetakannya, tapi hanya janji kelulusan yang sebenarnya. Aku harus menandai absenmu tapi sebagai wali kelas aku bisa merubah sedikit. Bahkan kalau kau tak datang ke sekolah mulai hari ini, kau bisa tetap lulus dan tentang SMP, kau putuskan itu sendiri.” 

Guru Ma pergi meninggalkan Dong Goo. Dong Goo membaca tulisan yang tertulis di ijazah. Disana tertulis namanya. Oh Dong Goo lahir 25 desember 2001 SD Sandeul. Disana terulis tahun kelulusannya tahun 2014. Dong Goo tampak terdiam. (Guru Ma seperti meminta Dong Goo untuk berfikir tentang sekolah)
Anak-anak kelas 6-3 ada di kolam renang. Jam pelajaran olahraga kali ini renang ya hehe. Ha Na renang menggunakan alat bantu. 
Ha Na terlihat akrab dengan Soo Jin, Ga Eul dan Ji Min. Keempatnya tertawa-tawa dan saling menyiram air. Na Ri yang melihat itu cemas kalau Ha Na akan mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tak ingin Ha Na dekat dengan Soo Jin.

Mereka pun selesai berenang dan bersiap membilas tubuh dan berganti pakaian.
Ha Na selaku ketua kelas harus membereskan perlengkapan renang. Penjaga kolam renang bertanya apa Ha Na bisa membantunya beres-beres. Ha Na bilang tentu saja.
Di ruang ganti cewek. Mereka tentu saja dandan hahaha. Na Ri berkata pada teman-temannya kalau ia menemukan ponsel di lantai, apa teman-temannya tahu ponsel ini milik siapa. Sun Young tahu itu ponsel milik Ha Na. “Oh punya Ha Na, kalau punya dia aku tahu passwordnya.”
Na Ri membuka ponsel Ha Na. Tapi sesaat kemudian Na Ri terkejut begitu melihat ponsel Ha Na, “Apa ini?” Na Ri menatap Soo Jin dengan tatapan tak percaya. Ia menunjukan sesuatu dari ponsel Ha Na pada Soo Jin.
Soo Jin melihatnya dan terkejut melihat foto dirinya mengenakan pakaian renang yang tengah membilas badan. “Apa-apaan ini?” Soo Jin tampak marah. Teman yang lain juga melihatnya, Kenapa Ha Na diam-diam mengambil fotomu?” tanya Hwa Jung. Ga Eul menilai Ha Na pasti sudah gila. 
Choi Bit Na tahu kalau Soo Jin itu terkenal jadi mungkin ingin mengaupload foto seperti itu ke internet dan menaikan popularitas Soo Jin. Na Ri berkata bukankah Soo Jin akan mengikuti audisi tahun ini. Kalau foto seperti ini ada di internet bukankah itu akan menjadi masalah. Soo Jin menahan marah. Sun Young juga ikut marah, dia pura-pura minta maaf pada Soo Jin dan diam-diam melakukan ini. Ga Eul berkata bukankah pencuri yang mencuri dompet itu Ha Na juga.
Soo Jin benar-benar marah, ia memukulkan ponsel Ha Na ke loker hingga membuat loker tergores. 

“Kalian dengarkan aku baik-baik!” kata Soo Jin yang marahnya sudah diubun-ubun.
Ha Na selesai merapikan perlengkapan renang. Ia menuju ruang ganti. Begitu Ha Na masuk ke ruang ganti, ia heran karena teman-temannya masih ada disana belum kembali ke kelas. Tiba-tiba brak.. Soo Jin melempar ponsel Ha Na membuat Ha Na terkejut setengah mati. Soo Jin yang menahan marah menanyakan apa yang suda Ha Na lakukan.
Mereka mendekat mengerumuni Ha Na. Ha Na yang tak mengerti dan tak tahu apa-apa bingung kenapa dengan teman-temannya.

Soo Jin : “Kau keterlauan, apa kau ini tak punya otak. Apa perlu aku memberi tahu kalau kau melakukan kesalahan lagi? Kenapa kau mau minta maaf?”
Ha Na benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Mereka pun menarik paksa Ha Na dan menguncinya di lemari.
Ha Na berteriak, “Ada apa dengan kalian? Teman teman tunggu dulu. Tolong buka. Soo Jin, Na Ri..!!”

Soo Jin yang marah menggebrak pintu lemari supaya Ha Na diam. “Apa yang mau kau lakukan dengan foto-ku?” Ha Na tak mengerti foto apa. Na Ri berdiri diam di belakang.
Sun Young yang ikut kesal menanyakan apa Ha Na punya bukti siapa yang mencuri dompet itu. Hwa Jung menilai Ha Na sudah keterlaluan. Ha Na semakin tak mengerti kenapa teman-temannya jadi seperti ini. Soo Jin dan yang lainnya segera keluar dari ruang ganti meninggalkan Ha Na yang mereka kunci di lemari.

Ha Na berteriak meminta teman-temannya membuka pintu dan jangan pergi. Ha Na terus berteriak dan mengedor-gedor pintu lemari memanggil teman-temannya.
Na Ri kembali lagi masuk ke ruang ganti dan berdiri di depan Ha Ha yang dikurung di lemari. Melihat Na Ri kembali lagi, Ha Na meminta bantuan agar Na Ri membukakan pintunya.

Na Ri menatap dingin, “Kau dan aku sekarang bukanlah teman lagi, ini sudah berakhir.” Na Ri meninggalkan Ha Na sendirian yang dikurung disana. Ha Na berteriak memanggil nama Na Ri dan menggedor-gedor pintu lemari.
Ha Na melihat di dalam lemari ada tabung pemadam kebakaran. Ia mengambil dan memukulkannya keras ke pintu supaya terbuka. Tak ada yang mendengar karena baik di area kolam renang atau pun di kamar mandi sudah tak ada siapa-siapa.
Anak-anak kelas 6-3 kembali ke kelas mereka. Na Ri, Soo Jin dan yang lain tos senang karena mereka sudah menghukum Ha Na. Seo Hyun menatap mereka penuh tanda tanya.

Bo Mi yang baru masuk juga memperhatikan mereka yang tertawa-tawa. Bo Mi tampak menahan kesal. Ia menoleh ke belakang mengkhawatirkan sesuatu. Seo Hyun memperhatikan sikap Bo Mi dan melihat kursi Ha Na yang masih kosong.
Ha Na terus berusaha sekuat tenaga memukulkan tabung pemadam ke pintu lemari agar terbuka. Pintu berhasil terbuka tapi Ha Na terjatuh hingga membuat kaki kanannya terkilir.
Ha Na berusaha untuk bangun dan cepat-cepat berganti pakaian. Tapi pakaian miliknya tak ada di tempat. Pakaiannya hilang. Ia tentu saja tak mungkin kembali ke kelas dengan pakaian renang seperti ini.
Ha Na keluar dari ruang ganti dan melihat pakaiannya ada di dalam kolam renang. Mereka sengaja membuang pakaian kering Ha Na ke dalam air. Ha Na berjalan tertatih merasakan kakinya yang sakit karena terkilir.

Ha Na dengan sabar membereskan perlengkapan miliknya yang sengaja mereka buang. Ia berjalan menyeret kaki kanannya yang sakit. Tanpa terasa ia mulai menangis. Ha Na mengambil celana jeansnya yang sudah basah kuyup.

Air mata Ha Na semakin menetes deras, ia benar-benar sedih tak mengerti kenapa teman-temannya melakukan ini terhadapnya.
Sambil menangis sesenggukan Ha Na berusaha menggapai bajunya yang ada di kolam. Tapi kakinya terasa sakit sekali ditambah lagi bajunya terlalu ke tengah kolam yang dalam hingga membuatnya sulit menggapainya.
Ha Na memundurkan kaki kanannya agar tak tertekuk ketika menggapai baju. Tapi naas ia tergelincir dan jatuh ke kolam bagian dalam.
Kolam itu sangat dalam untuk dirinya yang masih anak-anak. Kakinya tak bisa menggapai dasar kolam. Ditambah lagi tak ada alat bantu untuknya berenang. Ha Na hampir tenggelam. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kolam menggapai tubuh Ha Na yang tenggelam.
Guru Ma mengangkat tubuh Ha Na ke permukaan air. Ha Na terkejut mengetahui siapa yang menolongnya.

Guru Ma menatap marah, “Apa kau masih berfikir kalau aku salah dan kau benar?” Ha Na yang mencoba mengatur nafas hanya bisa menatap terkejut.

Bersambung ke episode 6

Komentar :

Nyesek waktu lihat Ha Na ke sekolah dan dikucilkan. Dia menyapa ramah tapi Na Ri cs menganggapnya tak ada. Untung Ha Na orangnya sabar. Yang jadi sasaran kekesalan Ha Na malah Dong Goo. Ha Na benar-benar menyesal tuh sudah keceplosan bicara. Teror yang diterima Ha Na sudah kelihatan lagi, buku yang disobek dan dicoret-coret. Kira-kira teror apa lagi yang akan menimpa Ha Na.

Benar kan, Na Ri semakin menjadi. Ketika di toilet sepertinya Na Ri akan mengaku kalau dia yang mengambil dompet Soo Jin. Tapi setelah mendengar perkataan Soo Jin yang tak akan melepas siapapun pelaku sebenarnya Na Ri kembali berubah pikiran dan tak ingin orang lain tahu kalau ia pelaku sebenarnya. Jadi ketika melihat Ha Na akrab dengan Soo Jin, ia cemas takut kalau-kalau Ha Na mengatakan bahwa pelaku pencurian itu dirinya. Ia berusaha membuat Soo Jin membenci Ha Na dan mungkin foto di ponsel itu kerjaannya dia.

Dong Goo, walaupun dia tampak ceria di luar tapi dalam hatinya ia kesepian. Ia benar-benar peduli terhadap Ha Na, kepeduliannya tumbuh karena keduanya sama-sama merasakan menjadi ketua kelas yang selalu mendapatkan perlakukan keras.

13 comments:

  1. ga ngebayangin kalo jaman sd aja udah kayak gini bully nya... -_- apa hal kayak gini udah biasa di korea ya? tapi aku tetep menantikan terus, masih bingung kenapa sm guru ma ini? ada apa dengan masa lalunya yg bikin dia kayaknya ga suka sama yg namanya persahabatan...

    ReplyDelete
  2. Kemarin Bo Mi yg bikin kesel skarang Na Ri,
    Wahhh ngak jauh2..

    ReplyDelete
  3. sya rasa guru ma sengaja membuat hana dan bo mi berfikir jangan percya dgn persahabatan karena di dunia nyata (real) mereka akan dikhinatin oleh orng terdekatnya
    bahkan sesaat hana terlihat goyah haruskah dia mengatakan sejujurnya ?
    tapi untung ada ibu kepsek yg membantu menasehati hana
    nari tega memfitnah bahkan memutar balikan fakta bgt klo kta. jaksa doyeon (IHYV) bisa dikenakan tindakan percobaan pembunuhan
    bu kepsek tau gak ya masa lalu guru ma kenapa tindakannya sedingin itu terhadap murid2nya ???
    semangat mba nulis sinopsisnya ...

    ReplyDelete
  4. Semangat yeah mbak, lanjut terus sinopsisx. Semakin penasaran kelanjtanx.
    Terima kasih :)

    ReplyDelete
  5. thanx sinopnya...
    semangat lnjtin sinopnya
    yg plg bikin aku penasaran adlh guru ma yg misterius.

    ReplyDelete
  6. nyesekk banget bacanya. kasian hana.. aku sih lebih suka hana bcr sejujurnya ttg nari pd guru ma. ya spy nari jg dpt pelajaran. makasih ya mb anis, drama ini bener2 deh bikin geregetan.

    ReplyDelete
  7. Gregetan sendiri baca sinopsis ini drama. Mana tahan jd si hana, kl punya temen2 begitu udah aku bejek2 jadi sambel buat rujak. -_- *waks*

    ReplyDelete
  8. Semakin seru nih drama......makasih buat mb anis yg sdh bikin sinop ni drama, smoga g bosen.....ditunggu kelanjutannya, fighting....

    ReplyDelete
  9. na ri nyebelin banget sumpah.. Baca ini nyesek banget aaaa~

    ReplyDelete
  10. mewek....klo aq jd hana, jelas tak kasih tahu siapa yg nyuri tuh dompet, emng beneran ada ya orang seperti HANA?? demi persahabatan....

    ReplyDelete
  11. nangis terus bacanya..gue bener tahu rasanya jadi ha na di usia sd.meskipun gag sesadis itu juga..seakan gue ngliat bku hitam gue lg.semoga ha na menang dan bangkit. pasti menyenangkan dan tanpa balas dendam.

    ReplyDelete
  12. Ya ampun sampe terharu baca episode 5 ini.. Keluar juga ni air mata, Ha na hebat banget dengan kepercayaanya tentang persahabatanya..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...