Monday, 22 July 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 10 Part 1

Ha Na, dan Dong Goo tiba di halaman sekolah, keduanya tersenyum ceria. Seo Hyun dan Bo Mi juga sampai setelahnya. Senyum ceria mengiringi langkah mereka berempat menuju kelas.

Sampai di kelas keempatnya menyapa teman-teman mereka, tapi tak ada sahutan, anak anak sibuk dengan buku pelajaran mereka.
Keempatnya pun akan duduk tapi kursi tempat duduk mereka tak ada. Empat meja dan kursi yang biasa mereka tempati tak ada disana. Keempatnya bingung kemana perginya meja dan kursi mereka. 
 Guru Ma sampai di kelas. Choi Bit Na berdiri memimpin memberi salam pada guru. Guru Ma mengatakan kalau anak-anak akan melaksanakan tes awal pertama untuk semester dua. Karena masih berdiri tak ada tempat duduk Seo Hyun mengangkat tangan, Bu Guru. Tapi Guru Ma mengabaikannya. Anak-anak yang lain juga cuek, mereka mengerjakan soal yang dibagikan Guru Ma.
Ha Na tak mengerti apa yang terjadi, ia mengangkat tangan bertanya pada Guru Ma di mana meja dan kursi mereka. Guru Ma menoleh menatap tajam mereka berempat, “Di kelas ini tak ada tempat duduk untuk kalian!”
Ha Na terbangun dari tidur. Ternyata yang baru saja dialami itu hanya mimpi. Ha Na teringat apa yang Guru Ma ucapkan kemarin, bahwa mereka berempat harus bersiap-siap karena sudah menentukan pilihan bodoh dengan menentangnya.
Masih dalam suasana kelas khusus selama liburan semester 1. Anak-anak pun masih mengenakan kalung yang ada stiker merahnya. Ha Na merasa kalau nenek sihir itu tak akan membiarkan hal ini. Seo Hyun berkata itu karena Guru Ma sendiri yang menyatakan perang, bukankah dia memiliki suatu rencana yang tak mereka ketahui. Bo Mi juga merasa demikian.

Dong Goo berkata kalau begitu apa kita tinggalkan kelasnya sekarang. Seo Hyun berkata kalau mereka berempat akan menghadapi ini dengan berani. Bo Mi khawatir apa tidak akan apa-apa. Ha Na meminta Bo Mi tak perlu khawatir, karena mereka sekarang tak sendiri.
Guru Ma sampai di kelas. Setelah Ha Na memimpin memberi salam, Guru Ma menunggu sebentar, ternyata tak ada anak yang keluar kelas menuju kelas seni. Semuanya tetap di tempat duduk masing-masing. “Apa sekarang tak ada yang ke kelas seni?” Ia pun memulai pelajarannya.

Guru Ma menulis di papan tulis, anak-anak menyalinnya. Guru Ma memberi tugas kelompok. Tiap kelompok harus membuat dan menyerahkan laporannya besok. Kelas hari ini pun usai. Ha Na heran apa mereka sudah selesai belajar, apa hanya seperti ini saja.
Sebelum pulang Na Ri minta maaf pada Ha Na karena tak bisa membantu melaksanakan piket. Ia dan teman sekelompoknya harus menyelesaikan tugas. Ha Na tak mempermasalahkannya. Anak-anak kelompok lain pun janjian menyelesaikan tugas kelompok mereka.
Sebagai ketua kelompok Bo Mi bertanya apa yang harus mereka lakukan dengan tugas kelompok ini. Ha Na mengusulkan bagaimana kalau cepat-cepat membersihkan kelas dan mengerjakan tugas ini di rumahnya saja. Seo Hyun setuju tapi Dong Goo hanya bisa ikut piket saja, ia tak bisa ikut mengerjakan tugas karena harus segera pulang.

Bo Mi melarang Dong Goo yang akan langsung pulang. Dong Goo tak tahu mengatakan alasannya bagaimana, ia tak ingin mengatakan pada teman-temannya kalau kesehatan Nyonya Oh tak baik. Seo Hyun yang mengerti keadaan Dong Goo mengizinkan Dong Goo pulang. Ha Na yang heran mengingatkan kalau ini tugas kelompok jadi mereka harus mengerjakannya bersama-sama. Seo Hyun berkata kalau ia yang akan mengerjakan tugas bagiannya Dong Goo, jadi tak masalah kalau Dong Goo pulang, bukankah kalau dia datang hanya akan mengganggu dan berisik. Dong Goo pun pulang lebih dulu tak ikut ke rumah Ha Na.
Ibu Ha Na menyiapkan cemilan untuk menemani anak-anak ini mengerjakan tugas. Ibu senang bisa bertemu dengan Seo Hyun, ia kagum pada Seo Hyun. Ia sudah mendengar banyak tentang Seo Hyun dari Ha Na.
Ha Na yang tak merasa mengatakan apapun bertanya kapan ia mengatakan sesuatu tentang Seo Hyun pada ibunya. Ibu mengabaikan ucapan Ha Na, ia bertanya pada Seo Hyun dimana Seo Hyun bimbel. Seo Hyun menjawab kalau ia tak bimbel. Ibu yang terkejut semakin kagum ternyata Seo Hyun benar-benar bisa belajar sendiri. Ibu juga mendengar kalau ibu Seo Hyun seorang dokter, ia menebak itu sebabnya mungkin Seo Hyun jadi anak pintar. Bo Mi yang mendengar Seo Hyun dipuji seperti itu jadi minder.

Ha Na mengingatkan ibunya untuk tak mengganggu mereka mengerjakan tugas. Ibu mengerti ia tak akan mengganggu. Ibu berharap Seo Hyun sering datang ke rumahnya. Ia berjanji akan membuatkan Seo Hyun cemilan yang enak. Sebelum pergi ibu Ha Na juga berharap Bo Mi rajin belajar.
Melihat raut wajah Bo Mi, Ha Na mengerti kalau Bo Mi merasa minder. Ia jadi tak enak hati, ia pun mengeluh, “Ah... apa kita semua harus mengerjakan tugasnya Dong Goo juga?” Seo Hyun berkata kalau ia yang akan mengerjakan tugas bagian Dong Goo.
Dong Goo berada di toko-nya (di bar) Nyonya Oh. Ia mengepel lantai, Nyonya Oh memperhatikannya. “Hei Oh Dong Goo kenapa kau terus memperlakukanku seperti pasien? Sudah kubilang aku ini tak apa-apa.” seru Nyonya Oh.

Sambil terus mengepel Dong Goo berkata kalau ia memiliki bakat yang tak biasa. Ia memliki bakat bersih-bersih, setelah masuk ke kelas enam sampai sekarang, di sekolah ia hanya membersihkan kelas. “Ah... haruskah aku meminta gaji ke sekolah?” (hahaha)
Raut wajah Nyonya Oh berubah sedih. “Oh Dong Goo cepatlah kau besar!” gumam Nyonya Oh pelan. “Aku penasaran apa maksud di Rosa ini.”

Dong Goo mendengar apa yang digumamkan Nyonya Oh. Walaupun ia tak mengerti maksudnya tapi ia bisa menangkap kalau yang digumamkan Nyonya Oh berhubungan dengan ibunya.
Nyonya Oh merasakan sakit di dadanya, tapi ia berusaha menahannya. Ia bertanya kenapa akhir-akhir ini Dong Goo tak bersama Miss Rosa (bonekanya Dong Goo) Dong Goo berkata kalau ia menyuruh Miss Rosa untuk mengawasi rumah, karena sekarang di sekolah ia sudah punya teman. Nyonya Oh kembali bergumam kalau itu sungguh melegakan karena Dong Goo punya teman-teman yang baik. 
Dong Goo ingin tahu apa Nyonya Oh masih ingat, apa yang Nyonya Oh katakan ketika membawanya dari panti.

‘Apa kau suka steak hamburger?’ Ucap Nyonya Oh mengulang ucapannya dulu.

“Bukan itu. ‘Jangan pangggil aku Kakek, panggil aku Nyonya Oh’” kata Dong Goo mengucapkan ucapan Nyonya Oh dulu. Nyonya Oh tersenyum.

Dong Goo berkata kalau saat itu Nyonya Oh mengatakan padanya bahwa ketika seseorang dilahirkan apa yang ditakdirkan padanya itu tidaklah penting. Nyonya Oh bilang tentu saja, karena yang namanya sebuah panggilan itu sangat ketika seseorang hidup.

Dong Goo merasa kalau awalnya terasa aneh dengan panggilan itu, tapi sekarang ia menyukainya. “Ibu, ayah itu panggilan yang sudah umum tapi hanya ada satu Nyonya Oh di dunia ini. Karena Nyonya Oh hanya untuk Oh Dong Goo.” Wajah Nyonya Oh berubah sedih.
Anak-anak kelas 6-3 sudah mengumpukan tugas kelompok mereka. Guru Ma pun sudah memeriksanya. Ia akan memberikan nilai berdasarkan kelompok. Tapi sebelum itu... jreng jreng jreng.....

Guru Ma membagikan secarik kertas ke tiap siswa. Ia menyuruh siswanya menuliskan nama anggota kelompok yang tidak bisa bekerja sama, yang hanya sedikit memberikan kontribusi bahkan yang tidak mengerjakan tugas sama sekali. Karena ia akan memberikan nilai terendah pada siswa terburuk di tiap kelompok.
Anak-anak terlihat kesal. Seo Hyun mengangkat tangan menyampaikan pendapatnya, bahwa yang dinamakan tugas kelompok adalah tugas yang harus dikerjakan bersama. Tapi dengan memisahkan satu orang ia merasa itu tidak adil.

Guru Ma : “Tidak adil? Bukankah ini yang lebih adil? Kalian semua tahu, orang yang malas di dunia nyata dan orang yang tidak ada kemampuan sama sekali itu tidak membantu. Tapi kalau Ibu memberikan nilai yang sama, bukankah tidak adil bagi yang telah bekerja?”
Seo Hyun tak protes lagi karena merasa apa yang disampaikan Guru Ma tadi benar. Guru Ma berkata kalau anggota kelompok yang berkontribusi paling sedikit atau yang menjadi penghalang itu seharusnya dikeluarkan atau bila perlu ditinggalkan. Itulah hukum kompetisi di masyarakat. Karena orang seperti itu tidak memiliki kemampuan sama sekali, mereka akan bergantung pada orang lain dan hanya bersenang-senang mempertahankan posisi mereka. Jika karena orang seperti itu kelompok menjadi turun maka usaha mereka yang telah bekerja keras akan menjadi sia-sia.

Guru Ma pun meminta siswanya untuk memilih satu anggota kelompok yang paling buruk, kecuali kalau anak-anak ini mau berbagi hukuman dengan mereka. Kalau ada yang memberikan kertas kosong maka ia akan memberikan nilai paling rendah untuk semua anggota kelompok itu.
Anak-anak pun menuliskan nama teman yang mereka anggap tak bekerja selama kerja kelompok. Tentu saja secara rahasia tak diketahui teman sekelompoknya. Seo Hyun menulis namanya sendiri. Melihat itu Dong Goo langsung merebut kertas Seo Hyun, mencoret dan menulis namanya.
Guru Ma memerintahkan ketua kelompok untuk mengumpulkannya. Seo Hyun berusaha merebut kertas yang ada di tangan Dong Goo. Melihat kegaduhan itu Guru Ma menegur kelompok 6. 

Hasilnya... Kelompok 1 Hwang Soo Jin mendapatkan 3 suara dari anggotanya yang menyebut dia sebagai anggota yang tidak ikut bekerja sama dengan baik. Soo Jin benar-benar tak menyangka ketiga teman sekelompoknya menuliskan namanya. (anggota kelompoknya itu ada Na Ri, Kim Ga Eul n Yoon Ji Min. Ga Eul n Ji Min kan best friend-nya Soo Jin ya hahaha)

Kelompok 2 Kim Min Jae dengan 3 suara. (Anggota sekelompoknya itu ada Choi Bit Na, Sun Young n Hwa Jung) Ketiganya menuliskan nama Min Jae sebagai anggota yang menurut mereka tak melakukan apapun.

Kelompok 3 Yoo Seok Hwan dengan 3 suara. (anggota kelompoknya ada Kim Tae Sung, Pi Eun Soo dan Lee Dong Jin)

Kelompok 4 Jo Yeon Hoo (anggota kelompoknya diantaranya Lee Da In, Son In Bo dan Park Kyung Hyun)

Kelompok 5 Han Gook (anggita kelompok lainnya ada Cha Jung Soo, Jung Sang Taek, Hyuk Pil) 

Kelompok 6 Oh Dong Goo dengan 2 suara. (udah tahu kan siapa nama-nama anggota kelompok 6 ini hehe) Dong Goo langsung nyengir namanya disebut.

Siswa terburuk tersebut akan mendapatkan nilai terendah. Tugas selanjutnya harus selesai besok. 
 Setelah Guru Ma tak ada di kelas, mereka yang dinyatakan sebagai anggota kelompok terendah pun kesal dengan anggota kelompoknya. Yoon Ji Min mengatakan alasan kenapa ia menuliskan nama Soo Jin, “Kemarin kau pergi lebih dulu saat kami mengerjakan tugas.” Soo Jin benar-benar tak habis pikir mereka bertiga menuliskan namanya. Ga Eul tak ada jalan lain karena nenek sihir itu menyuruh mereka menulis satu nama. Na Ri juga kesal. Soo Jin yang kesal benar-benar tak bisa percaya ini. 
Kim Min Jae di kelompok 2 pun tak terima disebut sebagai anggota kelompok yang tidak berkontribusi, “Apa kalian memilihku karena aku ini satu-satunya namja di kelompok ini?” Choi Bit Na membela diri kalau ia sudah melakukannya dengan adil. Sun Young membenarkan, Min Jae tak mengerjakan apa-apa selama kerja kelompok. Mereka pun beradu mulut.
Jo Yeon Hoo kecewa dengan teman sekelompok yang menuliskan namanya. In Bo yang tak ada jalan lain pun berkata memangnya ia ingin menulis nama anggota kelompoknya, ini karena Guru Ma yang menyuruh mereka menulis satu nama. Yeon Hoo tak percaya begitu saja mendengar alasan In Bo. Lee Da In mengatakan kalau Yeon Hoo memang tidak mengerjakan apapun kok. Mereka ribut.

Hanya kelompok 6 yang diam memperhatikan mereka yang ribut. Seo Hyun menanyakan pada Dong Goo kenapa mencoret kertasnya dan mengganti dengan nama Dong Goo. Dong Goo tersenyum mengatakan kalau ia memang tak mengerjakan apapun, jadi tak masalah kalau ia mendapatkan nilai terendah.
Kelas benar-benar kacau karena saling menyalahkan dan tak terima disalahkan. Ha Na pun menyadari sesuatu, ia segera berdiri. “Teman-teman!” Semua menoleh diam menatap Ha Na.

Ha Na : “Kita jangan lagi tertipu oleh si nenek sihir. Menggunakan strategi yang aneh, dia berusaha memisahkan kita.”

Tae Sung : “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Ha Na tak punya solusi, ia juga bingung. Seo Hyun berdiri ia punya solusinya, “Ada satu cara. Setiap orang menulis namanya sendiri. Jadi semuanya akan sama-sama menjadi yang menang dan yang kalah.”

Ha Na menilai itu ide yang bagus, “Kalau kita melakukan apa yang Seo Hyun katakan, maka rencana Guru Ma tak akan berhasil.”
Choi Bit Na kurang percaya dengan ide Seo Hyun karena sebelumnya Seo Hyun menjilat ludah sendiri. Soo Jin juga khawatir bagaimana kalau Seo Hyun seperti yang kemarin. Seo Hyun minta maaf karena masalah yang lampau tapi kali ini apa teman-temannya ingin berkelahi satu sama lain hanya karena guru kelas. Mereka berfikir dan merasa kalau ide Seo Hyun ini masuk akal.

Jo Yeon Hoo setuju, kalau mereka melakukan apa yang Seo Hyun katakan maka mereka akan mendapatkan satu suara. Na Ri juga setuju, kalau mereka bekerja sama melakukan ini maka Guru Ma tak akan bisa berbuat apa-apa.

Anak-anak pun setuju untuk menuliskan nama masing-masing jika Guru Ma kembali meminta mereka menulsikan nama anggota kelompok yang tidak melakukan kerja kelompok.
Sebelum pulang keempat sekawan ini ngumpul minum es bersama. Ha Na memuji Seo Hyun sungguh hebat berani maju mengusulkan itu. Dong Goo benar-benar tak mengerti apa alasan Guru Ma memperlakukan mereka separah itu. Seo Hyun juga bertanya-tanya kenapa Guru Ma menerapkan metode mengajar seperti itu. Bo Mi juga heran karena Guru Ma mengetahui semua tentang mereka. 

Dong Goo menebak mungkin Guru Ma mengintai siswa lewat satelit. “Kalau bukan satelit mungkin dia menaruh alat pendeteksi pada kita tanpa kita ketahui.”
Dong Goo ingin melihat bagian punggung Ha Na apa mungkin punya bekas luka. (Jiahhhh apa hubungannya hahaha) “Hei apa yang kau lakukan?” Ha Na mendorong Dong Goo supaya menjauh. Bo Mi menarik Dong Goo untuk menjauh dari Ha Na. hahaha. Keduanya pun tukar tempat duduk. 
Seo Hyun merasa kalau tak ada hal yang mereka ketahui tentang guru kelas mereka. Ha Na juga penasaran, apa Guru Ma itu sudah menikah. Bo Mi juga ingin tahu, apa Guru Ma sudah punya anak. Seo Hyun menilai kalau saat ini Guru Ma itu sendirian. Dong Goo terkejut, apa ada sesuatu tentang Guru Ma yang Seo Hyun ketahui. Seo Hyun berkata kalau tak ada cincin di jari Guru Ma. Ha Na memuji pikiran Seo Hyun seperti detektif. Bo Mi langsung cemberut dengan kepintaran Seo Hyun. (sabar nak, kelebihan orang itu lain-lain hehe)
Dong Goo punya ide, bagaimana kalau mereka berempat yang menyerang Guru Ma lebih dulu. Ha Na tak mengerti apa maksudnya menyerang lebih dulu. Dong Goo menilai kalau nenek sihir itu pasti juga punya kelemahan, jadi mereka berempat harus mencari tahu tentang itu dan memanfaaatkan kelemahan untuk menyerang.
Tiba saatnya bagi Guru Ma pulang. Diam-diam tanpa sepengetahuan Guru Ma keempat anak didiknya membuntuti dari belakang. Ha Na yang takut ketahuan menyarankan lebih baik ini tak usah dilaksanakan. Tapi karena ketiga temannya semangat ingin tahu siapa sebenarnaya Guru Ma, Ha Na pun ikut.
Anak-anak ini sembunyi berpindah dari satu tembok ke pohon dari pohon ke mobil dan dari mobil ke tembok hahaha.
Keempatnya melihat Guru Ma akan menyebrang jalan. Tapi tiba-tiba ada seorang ibu yang baru keluar dari toko mengagetkan mereka. Ibunya Hwa Jung. Ibu Hwa Jung menanyakan akan kemana Ha Na bersama teman-teman. Ha Na bilang kalau ia mau ke sini. Ia pun memberi tahu teman-temannya kalau ibu ini ibunya Hwa Jung. Ibu Hwa Jung yang tahu Seo Hyun pintar langsung memuji dan berharap Seo Hyun bisa berteman baik dengan putrinya. Ibu Hwa Jung pun pergi.
Beruntung anak-anak ini tak kehilangan jejak Guru Ma. Mereka kembali membuntuti Guru Ma. Mereka berempat melihat Guru Ma masuk ke sebuah toko di tempat perbelanja. Setelah Guru Ma keluar dari toko mereka kembali membuntuti tapi Dong Goo penasaran apa yang dibeli Guru Ma, ia pun masuk ke toko.
Dong Goo bertanya pada ahjumma pemilik toko apa yang dibeli orang yang baru saja pergi, yang pakaiannya hitam dan setinggi ini. Ahjumma bilang kalau orang itu membeli dua botol air. Sambil keluar dari toko, Dong Goo bergumam tentu saja Guru Ma minum air dia kan manusia hehe. Ia melihat sekeliling tak menemukan teman-temannya.
Ketiga cewek ini terus mengikuti Guru Ma. Tapi sayang ketika sampai di lantai 2 mereka kehilangan jejak Guru Ma. Bo Mi menebak apa Guru Ma menghilang. Ha Na yang ketakutan menilai itu tidak mungkin.
“Apa yang kalian lakukan?” tiba-tiba Guru Ma datang menghampiri mereka. tentu saja mereka bertiga kaget bukan main. Guru Ma bertanya apa ketiga siswanya ini sedang membuntuti seseorang. Ketiganya menunduk diam.
Guru Ma menebak kalau ketiganya ini sepertinya ingin tahu kemana ia pergi. Kalau memang begitu silakan saja tapi apa mereka pikir cara yang tak berguna ini akan berhasil. Ketiganya minta maaf dan karena sudah ketahuan mereka pun tak jadi melanjutkan membuntuti Guru Ma. Ketiganya akan pulang. Guru Ma menyadari betul kalau anak-anak ini pasti penasaran dengan dirinya. (saya juga Bu guru hehehe)
Dong Goo mencari keberadaan teman-temannya. Ia yang berada di lantai atas malah melihat Guru Ma berjalan sendirian di lantai bawah.
Guru Ma melihat anak kecil yang digandeng ibunya. Ia berdiri terpaku sambil tersenyum manis melihat anak kecil yang imut itu. Pandangannya mengikuti kemana arah anak itu pergi. Tapi sesaat kemudian wajah Guru Ma berubah sedih. Ia pun melanjutkan jalannya. Dong Goo heran apa yang Guru Ma lihat, apa Guru Ma melihat anak kecil itu.
Ibu Na Ri menemui seorang jaksa yang ia suruh untuk mencari informasi tentang Guru Ma. Ia terkejut mendengar informasi kalau Guru Ma memiliki anak yang sudah meninggal. Jaksa mengatakan kalau anak kecil itu berusia 6 tahun dan meninggal karena kecelakaan. Ibu Na Ri menilai itu kejadian yang menyedihkan. Jaksa berkata bahwa berdasarkan catatan, setelah Guru Ma melewati masa sulit dia kembali mengajar di sekolah.

Ibu Na Ri : “Jadi apa karena kecelakaan itu, dia menjadi guru yang seperti itu?”

Jaksa : “Sepertinya penyebab itu karena kejadian lain.”
Seperti yang ibu Na Ri perintahkan, Jaksa memeriksa sebanyak mungkin latar belakang Guru Ma. Ia menyerahkan sebuah dokumen dari pengadilan. Di dokumen tertulis tertulis tahun 2011. Ibu Na Ri terkejut bukankah ini dokumen rahasia. Jaksa memperingatkan ibu Na Ri agar berhati-hati dengan dokumen itu. Ibu Na Ri mengerti, ia membuka apa isi dokumen itu.

Jaksa mengetahui kalau ada peristiwa besar yang terjadi di sekolah tempat dia kembali mengajar, mungkin peritiwa itu penyebab langsungnya. Tapi tentu saja ia hanya menebak. Ibu Na Ri yang terkejut membaca dokumen itu tampak tersenyum.
Karena gagal membuntuti Guru Ma ketiga cewek ini pun akan pulang. Bo Mi penasaran apa menurut kedua temannya Guru Ma itu memakai sihir karena mengetahui mereka membuntuti. Seo Hyun menilai itu karena mereka bertiga ceroboh jadi dengan mudah bisa ketahuan. Ha Na sudah merasa kalau yang mereka lakukan ini tak benar.

Ha Na heran kemana Dong Goo pergi. Tapi Bo Mi merasa senang kalau tak ada Dong Goo hehe. Ia mengajak kedua temannya makan es krim di toko ibunya. Keduanya setuju. Tapi langkah mereka terhenti karena melihat dari jauh toko ibu Bo Mi tutup. Ha Na heran apa hari ini toko ibu Bo Mi libur. Bo Mi menggeleng tak tahu.
Bo Mi melihat di depan tokonya ada si rentenir yang tempo hari berbuat onar. Ia menerima sms dari ibunya, yang menyuruh dirinya jangan pergi ke toko atau ke rumah, lebih baik ke tempat sauna di dekat jalan. Bo Mi minta maaf pada kedua temannya karena harus segera pergi. Ia tak mengatakan kemana ia pergi, ia mengatakan kalau ibunya menyuruh dia pulang karena menutup sudah toko lebih awal. Ia juga akan mentraktir keduanya makan es krim lain kali. Bo Mi pun segera pergi dari sana. 

Ha Na curiga melihat orang-orang yang berdiri di depan toko ibu Bo Mi. Ia merasa sepertinya pernah melihat orang-orang itu.
Di tempat sauna, ibu Bo Mi menyerahkan tas yang berisi pakaian Bo Mi. Ia juga memberikan sejumlah uang pada putrinya. Bo Mi yang cemas bertanya apa ia dan ibunya tak bisa pulang ke rumah, apa rentenir itu juga ada di sekitar rumah. Ibu Bo Mi yang juga cemas meminta putrinya tetap berada di tempat sauna. Ia akan pergi untuk mencari uang. Bo Mi pun ditinggal sendirian di tempat sauna berbekal uang dan pakaian dari ibunya.
Karena tak ada yang dikerjakan di tempat sauna, Bo Mi pun menggambar untuk mengisi waktu. Dua orang gadis yang lebih tua dari Bo Mi duduk di dekat sana mengeluh karena tak ada makanan yang bisa mereka makan.

“Tidak ada Oppa yang mau mentraktir kita keluar!” sahut salah satu dari mereka. Gadis berambut panjang melihat di depan Bo Mi ada telur rebus dan kimbab. Ia pun menghampiri Bo Mi. Ia bertanya apa Bo Mi sendirian. Bo Mi bilang kalau ibunya akan datang. Ia terlihat kecewa dan sesekali melihat telur rebus n kimbab yang ada di depan Bo Mi.

Bo Mi pun menawarkan telur miliknya untuk berbagi dengan kedua Eonni itu. Tentu saja keduanya senang dapat makanan gratis. Ia bertanya Bo Mi sekolahnya kelas berapa. Bo Mi menjawab kalau ia kelas enam.
Si Eonni yang satunya menyombongkan diri kalau mereka berdua itu Eonni yang paling keren ketika di SD. Eonni berambut panjang meminta temannya tak usah berbohong, “Bukankah kau itu dikucilkan saat SD?” Temnnaya langsung menyela, “Ah jangan bilang-bilang. Itu memalukan. Aku tak dikucilkan, aku yang mengucilkan orang lain.” Si Eonni berambut panjang tak percaya, “Lalu siapa yang dikunci di kamar mandi dan disiram seember air kotor?”

Terdengar pengumuman dari petugas sauna bahwa anak kecil tak diizinkan berada di tempat sauna melebihi jam 10 malam. Anak kecil yang tanpa pendamping silakan meninggalkan tempat sauna. Kedua Eonni itu menilai pengumuman itu menyebalkan. Eonni yang berambut panjang bertanya apa benar ibu Bo Mi akan datang, karena Bo Mi akan diusir dari tempat ini kalau sendirian. Bo Mi menunduk diam.
Eonni yang satunya bertanya apa Bo Mi kabur dari rumah. Bo Mi bilang tidak. Eonni itu menyarankan kalau Bo Mi tak ingin diusir dari tempat ini, lakukan apa yang ia suruh. “Pergilah ke samping tante yang tidur itu dan berbaringlah seakan-akan kau ini putrinya. Kalau tidak begitu kau akan diusir dari tempat ini!”
Petugas keliling memeriksa tempat. Semuanya sudah tidur nyenyak kecuali kedua Eonni tadi. Ketika petugas lewat keduanya pura-pura tidur. Dua Eonni ini saling menoleh. Bo Mi mencoba tidur di sebelah tante yang tidak ia kenal.
Petugas membangunkan Bo Mi yang sudah terlelap. Ibu-ibu yang tadi tidur di sebelah Bo Mi mengatakan kalau Bo Mi ini tadi bersama dua gadis penjahat itu. Mereka marah-marah pada Bo Mi, “Kemana perginya kedua gadis tadi?” Bo Mi yang baru membuka matanya tak mengerti apa yang mereka katakan. Ia melihat sekeliling di sampingnya, kedua Eonni itu tak ada disana. Ia menatap bingung.

Ahjussi penjaga sauna bertanya apa Bo Mi datang sendiri ke tempat ini tanpa pendamping. Bo Mi cemas ia takut diusir dari tempat itu malam-malam seperti ini.
Ha Na masih belajar di kamarnya. Ia mencemaskan Bo Mi. “Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tak membalas sms-ku?” Ha Na pun mencoba menghubungi Bo Mi. Tapi yang menjawab bukan Bo Mi. “Bukankah ini ponselnya Eun Bo Mi?” Mata Ha Na membesar karena terkejut mendengar sesuatu tentang Bo Mi.

Bersambung ke part 2

Ah entah kenapa saya suka ketika Guru Ma memerintahkan anak-anak untuk menuliskan nama anggota kelompok yang tidak ikut kerja kelompok. Dalam benak saya pun terencana untuk melakukan hal yang sama apa yang Guru Ma lakukan. hahaha.

Sejak menonton yang versi dorama saya mencoba, bukan menerapkan sih hanya menyampaikan bahwa mereka (anak-anak) ketika menginginkan sesuatu itu harus bagaimana. Saya selalu memberikan contoh nyata pada mereka. ‘Tuh kalau kalian seperti itu, ya itu jadinya’ dan memang membuat anak-anak berfikir tentang kenyataan itu sulit. Tapi setelah pikiran mereka terbuka, mereka pun akan bilang ‘oh iya ya Bu’ 

Tapi saya mengatakannya di kelas besar yang sudah bisa diajak berfikir secara dewasa hehehe.

14 comments:

  1. skrg giliran Bo Mi yg kena musibah. kasihan :'.. gomawo sinopnya say..

    ReplyDelete
  2. trims buat sinopsisnya...

    ReplyDelete
  3. Ditunggu kelanjutannya.....

    ReplyDelete
  4. kereeeenn...lanjuuut :)

    ReplyDelete
  5. Wah... makin menarik ceritanya. Di tunggu part 2ny.
    mba ato tth ni manggilnya? he... Ada bagian yang diterapin di kelas?wah..wah.. jadi ngiri. Beberapa saya pikir juga bisa mnginspirasi. Mudah2an nanti saya punya kelas sendiri juga ya (cepet lulus). Jadi bisa aplikasi hal-hal yang positif. Aamin. hehe...
    Makasih mba/tth...
    -Yumenas-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak aja...

      ya ada beberapa yang saya terapkan. kalau memang itu positif kenapa ga kita ambil, toh juga pasti ada manfaatnya.

      Amin ya mudah2 cepet lulus juga. (doa buat sendiri hehehe)

      Delete
  6. Semakin menarik, hana cs mulai penasaran sama guru Ma :D
    di tunggu part 2 nya :)

    ReplyDelete
  7. wkt aku nntn drama ini aku rasa suara guru ma beda kl lg ngomong sm org dewasa sm ngomong sm ank2 , rsnya kl ngomong sm org dewasa agak lembut suaranya,,, tp kl sm ank2 suaranya tegas bgt..

    ReplyDelete
  8. Terimakasih. Sinopsisnya bagus sekali..

    ReplyDelete
  9. trims sinopnya ditunggu part 2nya. Di korea udah nyampe episode berapa ya ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah sampai episode 12 dari 16 episode

      Delete
  10. sis anis cari subtitle versi dorama jepangnya dimana ya...aku udah ubek-ubek Idws tapi gak nemu, di subscene juga ga ada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya DL di doramax udah hardsub.

      nih drama softsub-nya kayaknya ga ada deh, udah hardsub maklum drama lama...

      Delete
    2. Oh gitu ya, pantas ga nemu...hehehhe, thanks sis anis...kalo gitu aku download dari gooddrama aja...

      Delete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...