Monday, 9 December 2013

Sinopsis Suspicious Housekeeper Episode 15 Part 2

 Sang Chul yang marah bergerak maju, ia ingin sekali membungkam mulut Do Hyung dengan tinjunya. “Mempermainkan hati wanita, apa itu cara anda mengencaninya?”


Do Hyung mencibir, “Sepertinya kau ingin menarik kerah bajuku? atau apa kau ingin memukulku?”

“Apa anda menginginkannya?” Sang Chul tambah marah.

Song Hwa berusaha menenangkan Sang Chul, “Apa yang kau lakukan?” Ia mengajak Sang Chul bicara di luar. Song Hwa menarik Sang Chul keluar ruangan. Setelah keduanya keluar, Do Hyung tampak menahan marah.
Song Hwa harap Sang Chul jangan ikut campur karena itu masalah Do Hyung dan Bok Nyeo. Sang Chul tak bisa, kalau hubungan mereka serius ia tak akan semarah ini. Ia merasa sepertinya Bok Nyeo masih mencurigai Do Hyung itu Seo Ji Hoon dan Do Hyung mempermainkan Bok Nyeo. Apa Song Hwa tak melihat itu.

Song Hwa tanya apa yang membuat Sang Chul berpikir seperti itu. Sang Chul berkata kalau Bok Nyeo tidak tersenyum karena penyesalan atas keluarga yang terbunuh. Dia tak ada waktu untuk tertarik pada seseorang. Tapi sekarang, dia mengejar CEO Jang. apa Song Hwa pikir itu mungkin.

Song Hwa seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia menyadari kalau Bok Nyeo melarangnya mengatakan apapun pada Sang Chul. Ia pun mengatakan kalau hubungan Bok Nyeo dan Do Hyung tidak terjadi secara tiba-tiba, mereka selalu bersama. Tapi Sang Chul yakin tidak seperti itu, karena Bok Nyeo yang sekarang bukan Bok Nyeo yang dikenalnya. Ia melihat Bok Nyeo setiap hari, dia tidak terlihat seperti wanita yang jatuh cinta. Ia menebak kalau Bok Nyeo pasti berencana melakukan sesuatu yang berbahaya. Ia harus memberitahu Do Hyung bahwa Bok Nyeo masih curiga pada Do Hyung.

Song Hwa melarang, ia menahan tangan Sang Chul. Sang Chul tanya kenapa. Song Hwa bingung menjelaskannya, biar saja Bok Nyeo yang mengurus masalah ini.

“Mengurusnya?” Sang Chul menebak pasti Song Hwa tahu sesuatu. “Apa ada sesuatu antara kau, Bok Nyeo dan CEO Jang yang tidak kuketahui?” Ia melihat kalau Song Hwa sudah bertingkah aneh hari ini. “Kau bilang ada sesuatu yang ingin diberitahukan padaku setelah proyek itu dan aneh kau tiba-tiba akrab dengan Bok Nyeo. Apa itu? Apa yang kau sembunyikan dariku?”
“Sebenarnya....” mata Song Hwa berkaca-kaca, “Bok Nyeo.... tahu.” Song Hwa berhenti bicara karena ponselnya berdering. Song Hwa menerima kiriman gambar dari Do Hyung.

Seekor burung beo yang tewas berlumuran darah. Ia pun ingat dengan ancaman Do Hyung di rumah sakit. 

Apa kau tahu apa yang terjadi pada burung beo yang menirukan perkataan tuannya tanpa berpikir?

Song Hwa terkejut melihat gambar itu, tubuhnya bergidik. Sang Chul menunggu penjelasan Song Hwa, apa yang Bok Nyeo ketahui.
“Bok Nyeo tahu kalau aku bertemu dengan istrimu.” Song Hwa pun mengorbankan dirinya sendiri nih.

Sang Chul tentu saja terkejut, “Kau bertemu dengan istriku?”

Song Hwa : “Ya. Aku bertemu dengannya, aku yang membunuh istrimu.”
Sang Chul tak mengerti, “Kau membunuhnya?”

Song Hwa : “Istrimu, Woo Sun Young, akulah orang terakhir yang dia temui sebelum dia meninggal. Aku akan menghilang karena aku hanya penghalang. Itu yang dia tulis. Itu juga yang kukatakan padanya. Pertemuanku dan istrimu terekam CCTV. Karena bok nyeo memiliki video itu, kau bisa memastikannya sendiri.”

Sang Chul mematung mendengar perkataan Song Hwa perihal apa yang Song Hwa lakukan pada istrinya. 
Sang Chul berada di tepi sungai tempat istrinya meninggal. Bok Nyeo datang karena diminta datang olehnya. 

Sang Chul memandang sungai dengan mata berkaca-kaca, “Aku menyalahkan istriku. Aku pikir dia pendendam dan tidak waras...” perlahan air mata Sang Chul menetes. “Sebelum dia berpikir melakukan balas dendam aku bahkan tak bertanya pada diriku sendiri siapa yang dia temui dan apa yang dia dengar. Aku sangat malu pada diriku. Dia pasti begitu kesepian. Dia pasti menderita.” Sang Chul menunduk menangis.
Song Hwa ke rumah Jang Do Hyung. Ia tak ingin ikut campur lagi. Do Hyung tanya kenapa, apa Song Hwa sudah menceritakan semuanya. Song Hwa membenarkan, ia sudah menceritakan semuanya.

Do Hyung : “Kalau aku Seo Ji Hoon?”

Suara Song Hwa meninggi, “Aku bahkan mengatakan padanya sesuatu yang benar-benar ingin kusembunyikan darinya.”

(mengatakan pada Sang Chul, Song Hwa sebenarnya tak ingin mengatakan pada Sang Chul perihal dirinya yang merupakan orang terakhir yang ditemui Sun Young, tapi demi tak memberi tahu Sang Chul perihal Bok Nyeo sudah tahu kalau Do Hyung adalah Seo Ji Hoon, ia pun terpaksa mengatakan itu)

Do Hyung : “Apa itu? kau cantik, tapi bodoh. Aku tak tahu apa itu, tapi kau seharusnya tetap menjaga rahasia itu. Seperti aku.”

Song Hwa menitikan air mata, “Jika aku mengungkapkan rahasiamu, maka akan banyak orang yang terluka. Kenapa kau tak membunuhku? Aku tak tahu berapa lama aku bisa menanggung ini.”

Do Hyung tertawa remeh.
Soo Hyuk berada di ruangan di bar. Ia memainkan gitarnya. Seorang pria menyuruh Soo Hyuk keluar untuk membereskan kekacauan di luar. Soo Hyuk yang tak mengerti pun keluar.

Ternyata Han Gyul cs lagi konser di depan bar. Lengkap dengan kumpulan penontonnya. Soo Hyuk terkejut melihat pertunjukkan teman-temannya. Terdengar riuh penonton, ‘Kembalilah pada kami Choi Soo Hyuk. Kamu mencintaimu!”

“Apa yang kalian lakukan?” tegur Soo Hyuk.
Mereka bertiga pun bicara, Soo Hyuk, Han Gyul dan Woo Jae. Han Gyul berkata kalau ia tak akan menyerah membujuk Soo Hyuk.

Soo hyuk setuju bergabung dalam band tapi tentu saja tak mau gratis, “Berapa banyak kau akan membayarku? Aku hampir tak bisa membayar hutang ayahku bahkan jika aku menerima tips dan bermain gitar sepanjang hari. Kalian melakukannya karena kalian punya banyak waktu. Jadi jangan menggangguku saat aku bekerja.”

Soo Hyuk akan pergi tapi Woo Jae mengatakan kalau Soo Hyuk akan bisa membayar utang kalau mereka memenangkan audisi itu. Soo Hyuk mencibir, “Apa kau pikir siapapun bisa menang?”

Woo Jae : “Itulah sebabnya kami membutuhkanmu.”

Soo Hyuk tak peduli ia pergi dari sana.

Esok harinya di rumah Gyul, Bok Nyeo yang menjemur cucian mendengar tetangga sebelahnya ribut.
“Apa kau gila?” seru Tn Oh pada istrinya. “Kau mau aku minta maaf?”

Ny Oh mengingatkan bahwa tidak hanya satu, dua, atau tiga, tapi suaminya ini berselingkuh dengan 10 wanita. Tidakkah perbuatan itu pantas untuk suaminya meminta maaf.

Tn Oh : “Tidakkah kau melihat ke cermin? Kau bukan seorang wanita. Jadi pantas untukku selingkuh darimu.”

Ny Oh menangis memegang wajahnya yang menua.

Tn Oh : “Kau membangga-banggakan dirimu sejak orang di sekitarmu memperlakukanmu seperti ratu. Apa kau akan menyadarinya setelah kau bercerai dan terlantar di jalan? rumah ini, mobil, tas yang kau punya dan perhiasan. Bisakah kau memberikan semua itu? aku yakin kau tak bisa karena kau wanita materialistis sampai ke tulang-tulangmu. Kau seharusnya diam saja dan menghargaiku yang membuatmu hidup seperti ini. Beraninya kau mengancamku!”
Ny Oh yang menahan marah mengepalkan tangannya.

Bok Nyeo yang mendengar keriburan itu tetap melanjutkan menjemur cuciannya.
Ny Oh yang sedari tadi sudah menahan amarahnya mengancam, “Apa kau pikir aku tak bisa melakukannya?”

Tn Oh marah menggebrak meja, ia menantang dan membentak. “Ya pergilah. Pergi beritahu semua orang di kota dan buatlah konferensi pers.”
Ny Oh menangis tersedu-sedu keluar dari rumah. Ia ingin sekali berkeluh kesah tentang masalahnya pada orang lain dan ingin mendapatkan solusi yang baik. “Kau mendengar semuanya kan?” ucap Ny Oh pada Bok Nyeo yang menjemur cucian. Bok Nyeo menjawab ya.
Ny Oh tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. “Apa hidup seperti hantu satu-satunya jalan untukku? Tolong katakan sesuatu!” (maksudnya mungkin mati)

Bok Nyeo : “Tunjukan padanya, kalau anda seorang wanita.”
Han Gyul, Doo Gyul dan Se Gyul bermain puzzle bersama. Sementara Hye Gyul memperhatikan Bok Nyeo yang membuat kue. Mereka mendengar sesuatu. “Bukankah itu kucing?” tebak Doo Gyul yang mendengar suara kucing mengeong.

Hye Gyul memberi tahu kalau itu Bok Nyeo yang melakukannya. “Apa itu terdengar seperti kucing? Bok Nyeo-nim bisa menirukan apapun.”

Ketiga kakak Hye Gyul pun mendekat ke dapur. “Kalau begitu apa kau juga bisa menirukan cara bicara seseorang? Doo Gyul terlihat sangat antusias.

“Saya bisa!” kata Bok Nyeo.

“Bok Nyeo-nim, kalau begitu apa kau bisa menirukan suara ibuku juga?” seru Hye Gyul. Bok Nyeo tak bisa melakukannya karena ia belum pernah mendengar suara ibu Hye Gyul. Anak-anak menunduk kecewa. Tapi sesaat kemudian Se Gyul tersenyum, ia ada ide.
Mereka masih memiliki rekaman dengan ibu mereka, kelimanya menonton bersama. Anak-anak tersenyum merindukan ibu mereka.

Telepon dirumah berdering, Bok Nyeo menjawabnya. Bok Nyeo terlihat terkejut mendengar sesuatu dari si penelepon. Bok Nyeo memberi tahu anak-anak kalau ayah anak-anak pingsan dan sekarang berada di rumah sakit.
Anak-anak menunggui ayah mereka yang belum sadarkan diri. Perlahan Sang Chul membuka matanya. Han Gyul yang cemas menayakan apa ayahnya baik-baik saja. Sang Chul terlihat sangat lemah, Doo Gyul harap ayahnya memikirkan mereka dan berusaha kuat untuk lekas sehat.

“Han Gyul, Doo Gyul, Se Gyul, Hye Gyul...” Sang Chul menyebut lirih putra-putrinya.

Hye Gyul menggenggam tangan ayahnya.
Sang Chul yang sepertinya begitu tertekan setelah mengetahui semuanya dari Song Hwa perihal istrinya. Sang Chul berkata kalau ibu mereka adalah seorang wanita yang penuh kehangatan. "Dia mudah menangis dan tersenyum. Dia berbeda dengan ayah yang selalu melarikan diri. Jika dia jatuh cinta, dia akan menyerahkan segalanya untuk itu. Ayah minta maaf karena belum cukup mencintai ibu kalian.” Sang Chul menitikan air mata.

Han Gyul : “Ayah apa kau merasa telah menyakiti ibu?”

Sang Chul : “Ya. Ayah memberinya begitu banyak rasa sakit. Ayah yang membuat ibu kalian meninggal. Ayah minta maaf karena baru menyadari itu sekarang.”

“Ayah?” Hye Gyul ikut merasakan kesedihan ayahnya. Ia tetap menggenggam tangan ayahnya.
Na Young berada di tokonya. Ia menggerutu kesal karena salah satu pengunjung toko yang tak lain adalah Lee Dong Shik. Dong Shik mencoba duduk didalam salah satu tenda yang dijual. Ia mengomentari kalau tenda itu sangat kecil dan tak bisa digunakan untuk dua orang. Na Young mengatakan kalau tenda itu sudah dirancang untuk dua orang. Dong Shik tertawa ia merasa tidak demikian. Na Young kesal apa maksud Dong Shik dengan tenda itu tidak muat untuk dua orang, apa mau ia membuktikannya.
Na Young akan masuk ke tenda itu, tapi sial, cerobohnya selalu saja terjadi. Ia tersandung meja kecil. Alhasil, dia jatuh ke dalam tenda menimpa Dong Shik hahaha. Upss. Posisinya itu lho membuat keduanya bertatapan. Menyadari dirinya jatuh di pelukan Dong Shik, Na Young mendorong pria itu. Keduanya pun jadi salah tingkah. Apalagi disaat yang sama ponsel Na Young bunyi dari Han Gyul.

Na Young pun mengatakan pada Han Gyul kalau di tokonya ia sedang kesal karena melihat pria yang menyedihkan. Han Gyul memberi tahu tantenya kalau ayahnya pingsan dan dirawat di rumah sakit.
Sang Chul terlelap, matanya perlahan terbuka karena ada yang memanggilnya. “Yeobo... yeobo...”

Sang Chul bangun dan melihat bayangan seseorang di balik tirai.

“Yeobo apa kau baik-baik saja?”

“Apa kau Sun Young?” Sang Chul terkejut mendengar dan melihat bayangan serta suara istrinya.

“Yeobo, aku minta maaf telah meninggalkan anak-anak seperti itu. Aku sangat menyesalinya sekarang.”
Di luar kamar inap keempat bersaudara Gyul menguping lewat pintu. Mereka tersenyum karena suara itu mirip sekali dengan ibu mereka. Se Gyul memuji kalau dia melakukannya dengan sangat baik. Siapa? Yup ternyata ini rencananya anak-anak, mereka yang mengatur.

“Aku memberimu begitu banyak rasa sakit. Aku minta maaf. Jangan merasa bersalah. Bersemangatlah. Kau sudah kembali ke anak-anak sekarang dan kau mengerti kenapa aku meninggal dan bagaimana aku melaluinya. Aku merasa lebih baik sekarang. Jangan salahkan dirimu dan rawatlah anak-anak, Han Gyul, Doo Gyul, Se Gyul dan Hye Gyul kita. Kau seharusnya menjadi kapal layar yang kuat agar anak-anak bisa menyebrangi ombak tanpa ibu mereka. Kumohon tuntun mereka ke tujuannya. Aku kesini untuk memintamu melakukan itu.”

Di luar ruangan Han Gyul heran, apa Se Gyul menulis kalimat seperti itu juga. Se Gyul menjawab tidak. 
Yeobo....

Sang Chul menangis menitikan air mata, “Ada apa? Kenapa kau mengatakan hal-hal baik padaku? Katakan saja kalau aku ini pantas mati. Kutuk aku agar disambar petir. Aku tak pantas dicintai oleh orang sepertimu dengan kehangatanmu.”
Na Young sampai di rumah sakit dan heran melihat keempat keponakannya ada di luar kamar. “Anak-anak apa yang kalian lakukan? apa ayah kalian baik-baik saja?” Anak-anak terkejut melihat tante mereka datang. Mereka memberi kode agar Na Young diam.
Na Young nyelonong masuk ke kamar, ia heran kenapa kamarnya begitu gelap. Ia pun menyalakan lampu kamar inap Sang Chul. “Bok Nyeo-ssi?” Na Young heran Bok Nyeo ada disana.

Sang Chul terlihat bingung, ia pun membuka tirai dan yang berdiri dibalik tirai adalah Bok Nyeo. Ia terkejut itu bukan istrinya tapi Bok Nyeo. Ia merasa seperti dipermainkan oleh Bok Nyeo. Han Gyul berkata kalau semua ini bukan kesalahan Bok Nyeo, ia yang meminta Bok Nyeo melakukannya untuk menirukan suara ibu. Han Gyul menyesal dan minta maaf pada ayahnya.

Sang Chul yang merasa dipermainkan menegur Bok Nyeo karena melakukan hal seperti itu, “Bok Nyeo-ssi kau tidak seharusnya melakukan itu hanya karena anak-anak memintamu melakukannya. Apa menyenangkan membodohiku?”

“Tidak.” jawab Bok Nyeo.
Perawat masuk ke kamar dan menegur mereka yang mengganggu pasien. Ia meminta mereka keluar karena jam besuk sudah habis. Na Young minta maaf pada perawat, ia pun mengajak keponakan-keponakannya pulang. Han Gyul juga mengajak Bok Nyeo pulang bersamanya. Tapi Bok Nyeo tetap berdiri di tempatnya. Sang Chul yang merasa dipermainkan oleh Bok Nyeo menyuruh Bok Nyeo pulang saja.
“Anda salah..” ucap Bok Nyeo. “Itu salah kalau anda tidak pantas dicintai. Anda memiliki kejujuran yang tidak bisa menutupi cinta dengan kebohongan. Anda tidak pernah mengatakan kalau anda mencintai sesuatu yang tidak anda lakukan. Dan anda tidak pernah mengatakan anda tidak mencintai sesuatu yang anda lakukan. Anda masih memiliki hati nurani untuk menerima seorang wanita yang tidak anda cintai menjadi ibu anak-anak. Dan juga berharaplah anda akan bisa mencintai anak-anak dengan sepenuh hati anda.”

Sang Chul kembali menunduk menitikan air matanya. Ia meminta Bok Nyeo jangan bicara lagi dan menyuruhnya pulang.
Han Gyul terharu melihatnya, “Ayah kami sekarang percaya kalau kau menyayangi kami dengan sepenuh hatimu.”

Doo Gyul : “Kami tak bisa hidup tanpa ayah.”

Se Gyul : “Ayah, aku sangat bangga padamu.”

Hye Gyul mendekat menggenggam tangan ayahnya, “Ayah, Hye Gyul akan melindungi ayah.”
Sang Chul terharu, ia membopong Hye Gyul dan memeluknya. Ketiga putra-putri Sang Chul pun memeluknya. Tangis mereka pun pecah.

Na Young tersenyum melihat keluarga kakak iparnya utuh saling menyayangi. Bok Nyeo terharu melihat kasih sayang ayah dan anak-anak Gyul.
Keempat Gyul bersaudara duduk di ruang tunggu rumah sakit. Doo Gyul merasa kalau ini pasti sulit bagi ayah mereka untuk melalui semuanya. Se Gyul merasa kalau ia dan saudara-saudaranya terlalu egois, “Kita tidak peduli dengan yang ayah rasakan.”

Han Gyul merasa kalau mereka hanya peduli pada perasaan ibu mereka. “Ayah sangat bersalah pada ibu tapi kita memaksanya untuk menikahi Bok Nyeo-nim. Itu pasti sulit untuknya.”

Hye Gyul : “Aku merasa kasihan pada ayah. Sekarang, aku akan mendnegarkan ayah!”

Han Gyul pun mengajak adik-adiknya mendengarkan ayah mereka. Apapun yang ingin ayahnya lakukan. 
Kesehatan Sang Chul sudah membaik, ia sudah bisa beraktifitas di kantor. Dong Shik merasa kalau Sang Chul seharusnya masih istirahat. Sang Chul bilang tidak apa-apa. Ia memiliki banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Song Hwa menatap Sang Chul dan mata keduanya pun bertemu. Song Gwa merasa tak enak, karena dirinya Sang Chul jadi tertekan seperti itu.
Song Hwa dan Sang Chul bicara berdua. Song Hwa sadar kalau Sang Chul pasti tak nyaman melihatnya berada di kantor. Ia pun akan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.

Sang Chul bilang tidak perlu, ia harap Song Hwa jangan merasa bersalah lagi karena dari dulu sampai sekarang itu adalah kesalahannya. “Menyusahkanmu, membuat istriku meninggal, dan menyakiti perasaan anak-anak, itu terjadi karena aku plin-plan dan pengecut. Aku pikir kau sudah banyak memikul banyak beban. Aku ingin kau melepaskan semua beban itu. Aku ingin kau menjadi dirimu apa adanya, yang penuh keyakinan.”

Song Hwa menangis mendengarnya. Sang Chul tak dendam padanya.
Di jalan, setelah pulang dari kediaman Sang Chul, Bok Nyeo menelepon Jang Do Hyung. Do Hyung yang masih berada di kantornya tersenyum begitu melihat nama Bok Nyeo yang meneleponnya. Do Hyung menjawabnya. Bok Nyeo menekan tombol merekam percakapan mereka.

Do Hyung : “Ada apa?”
Bok Nyeo : “Bisakah anda bertemu dengan saya?”
Do Hyung : “aku sibuk.”
Bok Nyeo : “Jika tidak mendesak...”
Do Hyung menyela, “Ini sangat mendesak.”

Bok Nyeo pun mengerti, ia tak memaksa.
Bok Nyeo duduk sendirian di bangku taman, ia membuka ponselnya. Ia mengingat pesan suara yang ditinggalkan Do Hyung. Ia memutar kembali pesan suara Do Hyung dan mengeditnya dengan rekaman yang baru ia rekam tadi hingga hasilnya.....

Ini aku Jang Do Hyung, aku merasa akan mati. Ini sangat mendesak. Kalau begitu...

Oh my apa yang Bok Nyeo pikirkan dan rencanakan.....
Di kantor polisi, Detektif Lee Tae Shik terkejut ketika melihat ibu mertua Bok Nyeo ada disana. Keduanya pun bicara di tempat aman. Ibu Mertua menanyakan bagaimana kabar Park Eun Soo, si iblis itu. Tae Shik berkata kalau Eun Soo baik-baik saja, dia tidak berpikir dia serius dengan keluarga itu. Ibu mertua bertanya apa mereka benar-benar tidak bisa menyelidiki kembali kasus itu. Tae Shik bilang kalau kasus itu kurang bukti, jadi tidak bisa. Ibu mertua menahan marah.
Do Hyung berbelanja di swalayan dan ternyata Bok Nyeo pun belanja di tempat yang sama, berjalan mengikuti di belakang Do Hyung sambil mendorong troli belanjaan.
Tiba di sebuah lorong keduanya berpapasan. Do Hyung bersikap jutek pada Bok Nyeo. Ia berlalu mengabaikan bok nyeo. Tapi keduanya kembali bertemu di lorong lain ketika mengambil belanjaan.

Do Hyung memperlihatkan wajah kesalnya, “Ada apa denganmu? Aku pikir kita sudah selesai bicara. Kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau penguntit?”

“Izinkan saya menjadi penguntit anda!” ucap Bok Nyeo dengan mata berkaca-kaca.

Do Hyung menatap Bok Nyeo, “Kenapa? kenapa kau mau melakukan itu?”

“Saya... tidak ingin kehilangan anda.” ucap Bok Nyeo dengan tatapan penuh air mata. “Apa anda ingin saya membuktikannya?”
“Baiklah. Jika kau tak ingin kehilangan aku,” Do Hyung mengulurkan tangannya, “Peganglah tanganku...!” 

Bok Nyeo pun memegang tangan Do Hyung.

Hati Do Hyung tersentuh melihat tindakan Bok Nyeo, ia menggenggam erat tangan Bok Nyeo.
Bersambung ke episode 16

5 comments:

  1. pikunya nyusul ya mba'

    ReplyDelete
  2. aish.. sprti nya Bok Nyoe mcba mbwt bukti. tp aku harap ga melapor ke Lee Tae Shik.. aly sama jha bohong, lah merrka komplotan toh..

    ReplyDelete
  3. episode buat ntar malam nih mbak
    makin seru aja ceritanya berarti ntar malam
    makasih udah update sinopsisnya lagi mbak
    salam kenal :)

    ReplyDelete
  4. lanjut terus kak anis sinopsisnya :)
    semangat!!!

    ReplyDelete
  5. Mudah2an bukti yng di kumpul bok nyeo tdk di berikan pd detektif,,,hufttt deg2an menunggu sinop terakhir

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...