Saturday, 22 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 24 Part 2

Di kediaman Presdir Jang. Geum Hee mengatakan pada suaminya kalau Chang Hee tidak buruk jika harus menjadi suami In Hwa. Tapi tetap saja hubungan masa lalu Chang Hee dengan Hae Joo sangat mengganggunya. Presdir Jang setuju ia pun merasa begitu.

Geum Hee juga mengatakan kalau sekarang In Hwa sangat keras kepala. Bukankah selama ini In Hwa hanya melihat Kang San tapi karena Chang Hee tiba-tiba bilang suka sepertinya In Hwa jadi tak bisa menilai dengan benar. Bahkan sekarang In Hwa bersikeras kalau tak ada orang lain selain Chang Hee.
Geum Hee ingin tahu apa yang dikatakan Chang Hee. Presdir Jang menjawab kalau Chang Hee bilang padanya bahwa Chang Hee menyukai In Hwa. Geum Hee heran kapan kedua anak itu berhubungan sampai sejauh ini padahal Chang Hee belum lama putus dengan Hae Joo. Presdir menyarankan bagaimanapun juga lebih baik keduanya memilikirkan masalah ini lebih jauh.
Park Gi Chul menyiapkan tas kerja Chang Hee. Ketika Chang Hee keluar kamar ia menyerahkan tas itu pada putranya. Gi Chul ingin tahu apa yang dikatakan Presdir. Chang Hee diam.
Gi Chul berkata kalau putranya sudah bekerja keras menyelesaikan kasus Il Moon. Bukankah Presdir Jang tidak menentang rencana pernikahan Chang Hee dan In Hwa. Chang Hee tak menyahut.

Gi Chul menyarankan agar putranya jangan terlalu pusing memikirkan Il Moon, bukankah sekarang Presdir Jang sedang marah pada Il Moon. Tak peduli semarah apapun Il Moon, sekarang tak akan ada gunanya.
Gi Chul memperlihatkan sweater yang ia kenakan. Ia meminta pendapat Chang Hee. Chang Hee diam saja melihatnya. Gi Chul menyampaikan kalau sweater itu In Hwa yang membelikannya. Ia merasa sweater ini sangat nyaman.

Gi Chul tertawa senang dan menebak In Hwa pasti sudah jatuh hati pada Chang Hee. Jadi ia berharap agar Chang Hee maju terus sampai akhir. Chang Hee tak mengatakan apa-apa, ia hanya pamit akan bekerja.
Il Moon menemui adiknya di kamar. Ia masih tak setuju atas keputusan In Hwa yang akan menikah dengan Chang Hee, ia mempertanyakan keseriusan adiknya. In Hwa balik bertanya apa kakaknya kemarin tak mendengar, apa kakaknya pikir ia akan berbohong mengatakan itu di depan anggota keluarga.

Il Moon merasa kalau In Hwa bertingkah seperti ini karena sedang marah setalah dicampakan oleh Kang San. In Hwa kesal, ia memperingatkan kakaknya jangan lagi membicarakan San.
Il Moon yakin pasti ada alasan dibalik keputusan adiknya, kalau tidak bagaimana mungkin In Hwa ingin menikah dengan anak pembantu. In Hwa marah kakaknya berkata seperti itu di jaman modern seperti sekarang. Ia memperingatkan jangan seenaknya berkata tentang Chang Hee.
Il Moon menilai kalau adiknya ini benar-benar jatuh hati pada Chang Hee. Ia ingin tahu apa yang dilakukan si brengsek itu sampai In Hwa jadi seperti ini. In Hwa marah ia kembali memperingatkan kakaknya jangan pernah menyebut Chang Hee dengan sebutan brengsek.
In Hwa bertanya apa kakaknya pernah memberikan perhatian padanya. Kenapa kakaknya menjadi sensitif tentang pernikahannya. “Kau selalu minum-minum, pulang larut dan menyebabkan masalah. Ketika kau dibawa ke kejaksaan apa kau tahu betapa terkejutnya aku?”

In Hwa meminta kakaknya lebih baik mengurusi urusan sendiri. Akan lebih baik lagi kalau kakaknya juga segera menikah dan jangan ikut campur dengan pernikahannya.

Il Moon ingin memberi tahu In Hwa sesuatu yang sangat penting tapi In Hwa tak mau mendengarnya. Ia menarik kakaknya keluar kamar. Il Moon berkata kalau In Hwa harus tahu hal ini. In Hwa mengunci pintu kamarnya. (hmm apa Il Moon mau bilang kalau Geum Hee bukan ibu kandung mereka)
In Hwa di depan meja rias akan kembali berdandan, tepat saat itu ponselnya berdering. San Oppa (oh ada apa San menghubungi In Hwa)
In Hwa menemui San di restorannya. Ia menanyakan kenapa San ingin menamuinya, ia minta San langsung saja mengatakan maksud tujuan San karena ia tak punya banyak waktu. San ingin tahu apa yang terjadi antara In Hwa dengan Chang Hee.

In Hwa balik bertanya apa maksud San. San berkata kalau yang ia maksud adalah kejadian kemarin. In Hwa mengerti apa San melihat itu (ciumannya dengan Chang Hee)
In Hwa memberi tahu kalau ia akan menikah dengan Chang Hee. San terkejut, apa In Hwa tulus tentang itu. In Hwa menjawab tentu saja karena ketulusan biasanya bisa menggerakan hati seseorang. Karena San tak pernah tulus padanya tentu saja San tak tahu itu.
San mengingatkan seharusnya In hwa berhati-hati ketika jatuh cinta. Kalau In Hwa jatuh cinta dengan seseorang yang impulsif pada akhirnya In Hwa sendiri yang akan terluka. In Hwa menyahut kalau luka itu tak akan sebesar luka yang ia dapatkan setelah disakiti oleh San.

San : “Kalau kau melakukan ini karena kau marah padaku, maka hantikan sekarang juga. Itu hanya akan membuatmu semakin tak bahagia.”
In Hwa berkata kalau ia akan mengurus urusannya sendiri. Kenapa San tak pergi dan urus saja urusan San dengan Hae Joo yang memiliki luka sangat banyak di hatinya. In Hwa menyadari ternyata selama ini matanya sudah salah, bagaimana bisa ia menyukai orang seperti San selama 20 tahun. Bahkan dari wajah pun Chang Hee lebih tampan daripada San, ditambah lagi Chang Hee pria yang kuat dan hangat.
San mengatakan kalau sekarang In Hwa sedang dibohongi. Tapi In Hwa tak apa-apa bila dibohongi. Karena Chang Hee adalah orang pertama yang menyatakan cinta padanya.

San : “Apa kau pikir Chang Hee sungguh mencintaimu?”

In Hwa menantang memangnya kenapa kalau itu tak benar lagi pula ia sangat percaya diri akan bisa membuat Chang Hee menjadi miliknya, “Kenapa? Apa kau menyesal sudah kehilangan aku?”

San mulai kesal dengan kekeraskepalaan In Hwa, “Apa kau tak melihat kalau aku mengkhawatirkanmu?”
In Hwa juga ikut marah, kenapa San tak mengkhawatirkan Hae Joo yang sudah dicampakaan oleh Chang Hee, “Aku adalah wanita yang dipilih oleh Park Chang Hee.”

In Hwa berdiri menantang, “Kita lihat saja nanti siapa yang akan lebih baik!”
In Hwa memanggil manajer restouran, ia menugaskan pada manajer jangan lagi menginjinkan pelanggan ini datang ke restorannya. Ia melihat sekeliling dan bergumam kalau suasana restorannya menjadi muram karena kedatangan San. In Hwa berlalu dari sana. San marah, ia mengepalkan tangan dan memukulkannya pada meja.
Hae Joo ke kantor dan menyerahkan data spesifikasi untuk kabel kapal pengebor yang baru. Wakil Jo Min Kyung menyindir kalau Hae Joo ini sangat mengesankan. Bagaimana bisa Hae Joo begitu perhatian pada perusahaan. “Kau punya kemampuan untuk melihat segala macam kesalahan dengan sumpit. Bukankah itu menakjubkan?”
Asisten Yang membenarkan karena Hae Joo bisa melihat secara sekilas kesalahan pada azimuth thruster dan itu benar-benar mengagumkan. Sejujurnya, bisa melihat kesalahan pada kabel bukankah itu kemampuan yang tak biasa. Ia menilai kalau penilaian Presdir dalam melihat masa depan memang beda dengannya.

Wakil Jo Min Kyung kesal karena Asisten Yang terus-menerus memuji Hae Joo, apa Asisten Yang ini sedang menjilat ke Hae Joo.
Chang Hee keluar dari ruangannya dan berkata pada Hae Joo kalau masalah kelistrikan pada kapal pengebor ia tahu kalau itu ditemukan oleh Hae Joo.
Hae Joo berkata kalau ia tak bermaksud mempermalukan perusahaan tapi ia yakin kalau itu merupakan suatu masalah karena hal itu akan mempertimbangkan bahaya pada ratusan jiwa yang akan berada di kapal kalau masalah sebesar itu dibiarkan. Dan itu akan menjadi masalah pada image perusahaan.

Chang Hee mengingatkan kalau sesuatu seperti itu terjadi lagi ia minta Hae Joo melaporkan hal itu padanya sebagai direktur. Tapi Hae Joo tak mau, bukankah Chang Hee menyuruhnya untuk mengikuti prosedur, ia akan melaporkannya pada Wakil Jo Min Kyung terlebih dulu. Hae Joo permisi, Jo Min Kyung kesal melihatnya.
Hae Joo ke kapal pesiar San. Disana ia melihat San tengah bersama pria asing kemarin, Mario.
San menyerahkan pada Mario sebuah surat untuk Presdir Nobel. San berkata kalau ini semua jawabannya atas pertanyaan Mario kemarin.
Mario merasa kalau Presdir Noble pasti akan kecewa karena dia membutuhkan San dimasa depan. San tersenyum ia tahu itu, ia berterima kasih karena Mario sudah berkunjung menemuinya. Keduanya berjabat tangan mengucapkan salam perpisahan. San mengundurkan diri dari Noble nih.
Setelah Mario pergi Hae Joo menghampiri San. Hae Joo langusng bertanya apa San baru saja menyerahkan surat pengunduran diri pada Noble. “Kenapa kau mengundurkan diri? Apa mungkin karena kapal pengebor itu?”

San menjawab bukan, ini karena ia ingin fokus membuat thruster. Hae Joo berkata bukankah San bilang kalau San ini sedang terlilit hutang di bank karena thruster-nya kemungkinan tidak berhasil. Mengundurkan diri karena hal itu, apa masuk akal?
San tersenyum kemudian mengangkat kedua tangannya. Dengan memegang keduanya ditiap tangan maka bisa kehilangan keduanya. (hmm apa maksudnya kalau kita ingin menggapai dua hal sekaligus kemungkinan kita tidak berhasil mendapatkan keduanya, lebih baik fokus pada satu sasaran. Gitu kah maksudnya?)
Hae Joo menebak apa mungkin San melakukan ini demi dirinya. Hae Joo tertunduk, ini karena ia mengatakan sangat ingin membuat thruster.

San meyakinkan bukan itu, bukankah ia pernah bilang kalau ia juga sangat ingin membuat thruster ini. Kenyataan kalau ia sedang berada di ujung tanduk bukankah Hae Joo juga menyadari hal itu.
“Kalau kita tak bisa menyelesaikan bagian akhir dari thruster ini aku pasti akan bangkrut sekarang juga.” San tertunduk lemas tapi lucu hehe. “Jadi kau harus bekerja lebih keras lagi. Itu kalau kau tak ingin aku berakhir di jalanan.”

Hae Joo mengangguk berjanji. San mengajak Hae Joo dan mengatakan kalau mulai sekarang ini adalah perang yang sesungguhnya.
Jaksa bawahan Jung Woo menyerahkan berkas tentang analisa peluru yang diminta Jung Woo. ia mengatakan kalau peluru itu berasal dari 9mm beretta.
Jung Woo heran bukankah itu sudah kuno, bukankah pistol jenis itu digunakan oleh intelejen Jepang. Bawahannya bilang bukan karena pihak intelejen Jepang menggunakan pistol Colt 45.

Jung Woo makin heran apa bawahannya yakin itu, bagaimana dengan pelurunya. Bawahannya mengatakan kalau peluru ini berasal dari agen intelejen kita, pistol itu digunakan oleh intelejen kita pada saat itu.
Jung Woo menatap tajam, ia sudah menduganya. Ia menahan geram dan mengingat hari dimana kakaknya dimakamkan. (kira-kira apa yang Samchoon pikirkan, apa dia sudah menebak siapa pelakunya)
Bong Hee menjemur pakaian di depan rumah. Ia bergumam kalau celana ahjumma yang dikenakannya sangat nyaman. Geum Hee mengunjungi adiknya di rumah itu dan heran melihat adiknya sedang menjemur pakaian. Ia bertanya apa yang sedang dilakukan Bong Hee. Bong Hee balik bertanya apa kakaknya tak melihat, ini cucian.

Geum Hee : “Ini bukan rumahmu, untuk apa kau mencuci?”

Bong Hee : “Tidak ada bedanya antara cucianku dan cucian mereka. Semua harus dicuci bersama.”
Keduanya pun bicara di dalam rumah. Geum Hee tak mengerti apa Bong Hee keluar dari rumah untuk melakukan ini. Bong Hee dengan santai menyahut memangnya ia ini remaja yang melarikan diri karena sekarang ia sedang berusaha mandiri.
Geum Hee membenarkan, “Seperti katamu. Kau bukannya tak punya uang. Kalau kau ingin mandiri kau seharusnya membeli rumah. Kenapa kau menumpang di rumah Jung Woo samchoon seperti ini?”
Bong Hee meralat ucapan kakaknya, ia bukan menumpang tapi tinggal bersama. Ia merasa kalau tinggal disini lebih baik daripada di rumah kakaknya. Karena disini ia merasa seperti rumah dimana manusia hidup.

Geum Hee meminta adiknya pulang ke rumah dan kembali bekerja di perusahaan karena kakak ipar Bong Hee menunggu. Tapi Bong Hee tak akan pergi dari rumah ini. Ia muak pada kakaknya, keluarga kakaknya bahkan ia juga muak pada Cheon Ji.

Geum Hee : “Kenapa kau bertingkah seperti anak-anak di usiamu sekarang? apa Jung Woo menyukai dirimu yang seperti ini?”

Bong Hee : “Aku akan membuat dia menyukainya. Aku bisa bertemu dengannya siang dan malam karena kakak ipar. Kali ini aku akan mewujudkannya. Aku akan membuatnya menjadi milikku.”

Geum Hee mengingatkan adiknya kalau ada beberapa pria yang tak menyukai wanita seperti itu. Bong Hee tanya memangnya apa masalahnya, biarkan ia menikah sekali saja bukankah kakaknya ini sudah menikah dua kali.

Geum Hee : “Apa ada yang bilang kau tak boleh menikah? Aku hanya bilang lakukanlah dengan orang yang menyukaimu.”
Tepat saat itu Jung Woo sampai di rumah. Kedua wanita ini terkejut, Jung Woo memperlihatkan wajah tak sukanya melihat Geum Hee berada di rumahnya. Setelah membuka pintu Jung Woo tak masuk ke rumahnya malah pergi lagi.
“Samchoon...!” panggil Geum Hee mengejar Jung Woo. Jung Woo mengingatkan bukankah ia sudah bilang jangan memanggilnya dengan sebutan itu.

Geum Hee minta maaf ia menyampaikan kedatangannya karena ingin bertemu dengan Bong Hee. Geum Hee tahu kalau ini akan terasa kurang nyaman tapi ia penasaran, apa Jung Woo menyukai Bong Hee.
Jung Woo : “Meskipun aku menyukainya, aku tak bisa melakukannya karena kau dan Jang Do Hyun.”

Geum Hee : “Kenapa?”

Jung Woo : “Apa kau tak tahu malu? Aku tahu kau memiliki hubungan seperti apa dengan Jang Do Hyun sebelum kau menikah dengan kakakku.”

Geum Hee terkejut, samchoon?
Jung Woo meninggikan suaranya, “Kenapa orang seperti itu menikahi kakakku?” Jung Woo sadar kalau waktu itu Jang Do Hyun orang kaya jadi Geum Hee kembali lagi pada Jang Do Hyun.

Geum Hee menolak anggapan Jung Woo.
Jung Woo masih meninggikan suaranya ia sadar kalau kakaknya dari awal memang miskin dan Geum Hee masih menyimpan hati pada Jang Do Hyun.

“Itu tak benar!” Geum Hee mencoba meluruskan.

Jung Woo membentak, “Kalau begitu kenapa kau membiarkannya masuk ke rumahmu saat kakakku meninggal?”
Geum Hee tak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana. Jung Woo memperingatkan agar Geum Hee jangan pernah muncul lagi di hadapannya. “Kubilang pergi dari hadapanku!” bentak Jung Woo.

Jung Woo langsung masuk ke rumah. Bong Hee yang dari tadi mendengar keributan keduanya menyusul Jung Woo meninggalkan kakaknya yang menangis.
Bong Hee menarik tangan Jung Woo meminta penjelasan apa maksud perkataan Jung Woo tadi kenapa bicara seperti itu pada kakaknya. Jung Woo yang marah menyingkirkan tangan Bong Hee.

Bong Hee ingin tahu apa yang terjadi, apa maksud Jung Woo tentang kakak dan kakak iparnya. Jung Woo tak ingin menjelaskannya lebih baik Bong Hee tanyakan sendiri pada kakak Bong Hee.
Bong Hee memaksa meminta Jung Woo memberi tahunya. Jung Woo menyuruh Bong Hee pulang ke rumah kakak Bong Hee. Bong Hee berkata apa Jung Woo tak tahu kenapa ia pergi dari rumah itu.
Jung Woo memperingatkan jangan pernah datang kemari lagi. Bong Hee kaget, apa? Jung Woo masuk ke rumahnya.
San dan Hae Joo berada di laboratorium penelitian. San mengatakan kalau baling-baling yang ada memperoleh daya gerak saat air menyentuh area yang ia tunjukan. Untuk menggunakan tenaga itu sebagai gantinya kita membutuhkan air untuk melaju ke arah yang ia tunjukan.
Hae Joo terkesan karena dengan begitu akan meningkatkan tekanan pada ujung baling-balingnya. San menambahkan kalau tenaga yang dihasilkan juga akan meningkat. Hae Joo senang mendengarnya.
Hae Joo kembali membuat design azimuth thruster dengan tangannya. San memberi intruksi padanya. Keduanya tampak serius dan tersenyum.
Keduanya melakukan uji thruster di air yang sudah ditambahkan dengan cairan (apa itu ga tahu haha) keduanya terus melakukan uji coba.

Bagaimanakah hasil yang ditunjukan model baling-baling itu?
Hasilnya baik, ini berhasil... ga ngerti apa maksud alat itu yang pasti meningkat bagus lah.
Hae Joo dan San tak menyangka. Keduanya senang. Hae Joo berhambur memeluk San. San terkejut karena tiba-tiba Hae Joo memeluknya.
San jadi terdiam bengong mematung hehe. ia hampir pingsan dengan pelukan Hae Joo hehe.
Hae Joo membawa model thruster buatannya. Ia dan San keluar dari lab. Hae Joo terus-menarus tertawa senang sambil memandang model thruster buatannya.
San tak menyangka kalau Hae Joo begitu senang. Hae Joo berkata kalau ia tak bisa mengungkapkan rasa senangnya dengan kata-kata. Ia sangat putus asa ketika berada diujung tanduk tapi sekarang berhasil dan sukses ia merasa seolah bisa terbang.
San berkata bukankah Hae Joo bisa terbang karena sekarang Hae Joo memiliki sayap. Hae Joo menarik nafas panjang memeluk baling-baling seolah ia sedang terbang. “Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku.”
San menawarkan haruskah ia membuat Hae Joo bertambah senang. Hae Joo tak mengerti apa maksudnya. San mengatakan kalau ia sudah berbaikkan dengan kakek.

Hae Joo tentu saja senang mendengarnya, “Aku bahagia sekali sampai rasanya mau mati.” Ia merasa kalau keputusan San sudah bagus.

San ingin ekspresi perasaan Hae Joo jangan hanya diungkapkan lewat mulut saja. Ia tersenyum, “Kau bisa memberiku pelukan seperti di dalam tadi. Tapi bagaimana kalau kali ini dengan ciuman?” (wakakakaka Kang San somplak haha)
Hae Joo melirik kesal ia tahu sifat nakal San mulai keluar lagi. Ia pun tersenyum mengangguk, “Baiklah!” kata Hae Joo.
“Benarkah?” San tak percaya Hae Joo mengiyakan.
“Sini mendekat!” ucap Hae Joo melambaikan tangannya agar San mendekat.
“Ok.. baik-baik tunggu sebantar!” San membersihkan mulutnya dulu dan menggerakan otot-otot mulutnya.
San memejamkan mata dan memonyongkan mulutnya. Hae Joo pun sama tapi ia tak menutup matanya... apa yang terjadi... hmmmmmmm......
Hae Joo mencubit kedua pipi San. hahahahaha....
“Coba kau ulang sekali lagi. Ulang sekali lagi. Kusobek mulutmu!” gertak Hae Joo.
San kesakitan memegang kedua pipinya. Hae Joo dengan santai berlalu meninggalkan lab. San berteriak, “Hei.. kau, apa sih susahnya memberiku ciuman? Aduh sakit...”
San dan Hae Joo merayakan keberhasilan dengan minum bersama kakek dan Sang Tae di ruang kantor pabrik. Kakek mengatakan kalau setiap kali mereka gagal itu membuatnya kesal. San juga kesal, apa kakek mau bilang kalau kakek tak percaya padanya.

Kakek bilang kalau masalahnya bukan percaya atau tidak percaya (sub-nya ada yang ilang nih ga tahu kakek ngomong apa) yang pasti kakek bilang kalau ia sedikit menderita kerugian. Hae Joo menyahut bukankah mereka sudah berhasil.

Sang Tae ingin tahu lalu apa yang akan terjadi sekarang (Hmm ingin tahu apa mencari tahu nih) San mengatakan kalau ia akan membuat thruster itu di pabrik sendiri dan menjualnya. Sang Tae tanya menjualnya pada siapa, apa pada Cheon Ji.
Plok... kakek menggaplok kepala Sang Tae, “Kau ini kenapa kau selalu bicara seperti ini.” Ia tak akan pernah menjualnya pada Cheon Ji apapun alasannnya.

Sang Tae kesal kenapa kakek malah memukulnya. Kakek mengatakan kalau ia sudah berjanji akan bekerja sama dengan perusahaan pembuatan kapal yang lain. Ia merasa ini akan menjadi batu loncatan buat mereka agar mampu membangun kembali Hae Poong.
Kakek menuangkan minuman untuk Hae Joo. Hae Joo mengatakan kalau ia tak akan bisa apa-apa tanpa bantuan San dan kakek. “Kau melakukannya dengan tanganmu yang cantik!” sahut San. Hae joo berkata kalau ia bertambah senang karena kakek dan San sudah berbaikan.

Sang Tae yang tak tahu permasalahannya heran apa San dan kakek bertengkar, siapa yang menang. Haha. Akibat keingintahuannya, ia pun mendapatkan pukulan di kepalanya dari kakek. “Anak ini apa penting siapa yang menang dan kalah?” Sang Tae melindungi kepalanya.
San punya ide bagaimana kalau mereka melakukan pertandingan ronde ketiga atas keberhasilan ini, Tentunya dengan taruhan sama seperti sebelumnya. Kakek sedikit cemas dan berbisik pada San kalau kemampuan minum Hae Joo itu tak biasa haha (nyerah nih) kakek menggeleng.
Sang Tae menebak apa sebelumnya kakek kalah dari Hae Joo. Ia mengungkapkan kalau ia pernah sekali melawan Hae Joo minum soju dan akhirnya ia pingsan 4 hari 3 malam. Hae Joo langsung membungkam mulut kakaknya. Haha.

San kesal, “Jadi bagaimana ini. Mau apa tidak?”

Kakek : “Kubilang aku tak mau!”

Mereka pun kembali tertawa senang.
Chang Hee berada di ruangannya terdiam menatap langit-langit. Il moon berdiri di depannya, “Hei bangun dari mimpimu. Beraninya kau mengincar In Hwa. Kau harus sadar dari mana asalmu!”
Chang Hee menatap Il Moon dan mengingatkan bukankah seharusnya Il Moon bekerja keras. “Apa kau tak tahu kau tak bisa disini tanpa seijin Presdir?”
Il Moon menggertak, “Aku jelas memberi tahumu, jangan berani menyakiti In Hwa atau kau mati. Aku tak bercanda!”

Chang Hee tertawa ia mengatakan kalau ia juga tak bercanda. “Siapa yang akan mati, haruskah kita mencobanya?”
“Apa?” Il Moon marah, ia mengambil papan nama dan akan melemparkannya ke arah Chang Hee tapi tepat saat itu ponselnya berdering.

Il Moon menjawab teleponnya, “Sang Tae?” Ia bicara menjauh keluar dari ruangan Chang Hee. Chang Hee menatap heran untuk apa Sang Tae menghubungi Il Moon.
Il Moon menanyakan apa ada masalah. Sang Tae memberi tahu kalau semua akhirnya selesai. Il Moon senang mendengarnya. Sang Tae berkata kalau ia sudah menepati janjinya mengatakan kalau pembuatan model azimuth thruster sudah selesai.
“Sang Tae, apa kau mau menghasilkan uang?” Il Moon menawarkan kerja sama. Tanpa sepengetahuan Il Moon, Chang Hee menguping percakapannya dengan Sang Tae.
Sang Tae menjawab tentu saja mau. Il Moon bertanya apa Sang Tae tahu dimana model baling-baling dan blue print-nya. Sang Tae mengira-ngira kalau baling-baling itu seharusnya ada di kapal yatch milik San.

Il Moon memerintahkan Sang Tae membawa model baling-baling itu padanya. Sang Tae terkejut, “Kau ini bicara apa? Itu namanya mencuri.”

Il Moon berjanji kalau ia akan memberi Sang Tae uang 3 kali lipat. Tapi Sang Tae menolak karena ini terlalu beresiko. Ia melihat sekeliling dan mulai cemas. Il Moon menambahkan uang imbalannya kalau Sang Tae membawakan yang ia minta. Sang Tae akan mendapatkan 10 kali lipat, 50 juta won. (berarti yang kemarin dikasih 5 juta ya) Sang Tae terkejut dengan imbalan yang ditawarkan Il Moon.
Il Moon berkata kalau ini tak akan melukai adik Sang Tae (Hae Joo) karena ini hanya akan melukai Kang San. “Hei bukankah kau sudah lelah bekerja di pabrik Kang San? Kau sudah melalui banyak hal. Kita buat saja Kang San menderita. Kalau itu menjadi milik Cheon Ji kita bisa memperoleh banyak uang. Ini juga akan membawa keuntungan untuk Hae Joo. Adikmu ada dipihak Cheon Ji!”
Sang Tae tak bisa melakukannya, tapi ia ragu. Il Moon pun mengancam kalau Sang Tae tak melaksanakan perintahnya ia meminta Sang Tae mengembalikan semua uang ia berikan kemarin. Tentu saja Sang Tae sudah tak memilikinya. Il Moon kembali mengancam atau haruskah ia meminta uang itu pada Hae Joo. Sang Tae tak mau Hae Joo mengetahui ia menerima uang dari Il Moon. Il Moon membentak kalau begitu cepat bawakan yang ia minta.
Chang Hee mendengarkan tapi ia diam saja tak menegur Il Moon. Ia ingin melihat sejauh mana tindakan Il Moon. Sang Tae bingung apa yang harus dilakukannya.
Chang Hee melapor pada Presdir Jang kalau penelitian tentang azimuth thruster sudah selesai dan berhasil dilakukan oleh Hae Joo dan San. Presdir Jang tentu saja senang mendengarnya.

Chang Hee mengatakan kalau Il Moon mengincar ini. Presdir Jang tak membolehkan Il Moon yang melakukannya karena putranya tak bisa dipercaya. Ia pun meminta Sekertaris Choi yang menyelesaikan ini.
Hae Joo, San dan kakek masih berpesta minum. Kakek mengungkapkan kalau ia merasa kesal ketika kalah minum dari Hae Joo. Ia pun menantang Hae Joo pertandingan ronde berikutnya. San tentu saja setuju, tapi Hae Joo menolak. Bukankah kakek harus memikirkan kesehatan jadi jangan minum.
“Bukan alkohol” ucap Kakek. “Bagaimana kalau adu panco saja?” Kakek mengangkat kepalan tangannya. “Kalau aku menang taruhannya masih sama, kau harus pacaran dengan Kang San!”

San tentu saja mau, “Hei kau itu kan kuat. Coba saja lakukan. Lakukan!” ucapnya pada Hae Joo. (padahal ngarep Hae Joo kalah)
“Bagaimana kalau aku yang menang?”
“Apa yang kau ingin aku lakukan? apa kau mau ciuman? Ciuman?” (wakakaka)
San bergerak maju. Plok... Hae Joo memukul kepala San dengan sendok. San meringis kesakitan. Haha.
Hae Joo ingin kalau ia menang inisialnya harus dibuat di baling-baling. San heran, inisial? Hae Joo mengatakan kalau ini mirip seperti nama yang ada pada kapal. Pada setiap baling-baling inisial-nya harus terukir disana. San pun setuju.
San mengingatkan keduanya tak boleh curang. Tapi tangan San menahan tangan Hae Joo hingga kakek-lah yang lebih unggul padahal pertandingannya belum mulai. “Mulai”
Hae Joo berteriak, “Hei ini tak adil!” Hae Joo menarik tangannya kuat-kuat.
Kakek berusaha sekuat tenaga tapi kakek kepayahan. San memberi semangat pada kakek.
Melihat kakek akan kalah, San pun akhirnya membantu tangan kakek. “Hei ini curang!” seru Hae Joo sekuat tenaga menahan tenaga dua orang.
And then... Hae Joo yang menang padahal kakek udah dibantu sama San haha. Hae Joo berdiri bersorak kegirangan.
“Oh My God!” San kesal bukan main.

Kakek memegang tangannya, ia kesakitan. Hae Joo cemas apa kakek tak apa-apa. San jelas kesal karena kakek kalah, “Apa-apaan ini? apa kakek sengaja agar aku tak bisa hidup bersamanya?”
Kakek berkata pada San lebih baik tak usah pacaran dengan Hae Joo. kakek menahan sakit di tangannya. Hae Joo mengingatkan bukankah San tadi sudah berjanji untuk menaruh inisial-nya di baling-baling.

Kakek heran gadis seperti apa Hae Joo ini kenapa punya tenaga sekuat itu. haha. Kakek melihat sekeliling, “Dimana Sang Tae?”

Hae Joo memberi tahu kalau kakaknya tak bisa minum, ia menebak mungkin kakaknya sudah pulang. Ini sudah menjadi kebiasaan kakaknya menghilang diam-diam. Dimanakah Sang Tae.
Sang Tae mengendap-endap menuju kapal yacth San. Ia melihat sekeliling takut kalau ada yang melihatnya. Bahkan ia sampai tersandung dan terjatuh karena saking paniknya.
Sang Tae masuk ke kapal dan mencari benda yang ia cari. Ia pun menekan tombol lampu kapal. Dan disana, ternyata ada kamera CCTV nya, Sang Tae tak menyadari itu.
Hae Joo, San dan kakek masih minum-minum. Ponsel San berbunyi memberi tanda, ia heran kenapa CCTV di kapalnya memberi tanda. Ia melihatnya. San pun melihat Sang Tae berada di kapalnya. “Siapa yang masuk ke kapalku?” Hae Joo ikut melihatnya.
Sang Tae mengambil sebuah baling-baling, “Apa yang ini? apa ini kipas angin?” Sang Tae memutar mutar baling-balingnya. Sang Tae melihat di meja ada rancangan yang ia yakini blue print yang dimaksud Il Moon. Ia menggulung blue print dan menyimpan di balik jaketnya. Ia pun membawa baling-baling dan buku yang ada disana.
Hae Joo heran apa yang dilakukan kakaknya di kapal San. San menyadari kalau Sang Tae sedang melakukan sesuatu yang tak baik. Ia meminta kakeknya yang sudah mabuk menunggu disini sebentar. San bergegas ke kapalnya, Hae Joo ikut.

Kakek yang sudah mabuk bergumam, “Dasar anak-anak ini meninggalkanku sendirian!”
San dan Hae Joo naik taksi sambil terus memperhatikan kamera CCTV dari ponsel San. Hae Joo tak mengerti kenapa kakaknya melakukan ini. Tapi kemudian terlihat beberapa orang bertopeng lain masuk ke kapal. San cemas dan meminta supir taksi untuk cepat. (Hmm... apa ini orang2 suruhan Sekertaris Choi)
Beberapa orang bertopeng masuk ke kapal San dan mengobrak-abrik mencari baling-baling dan blue print.
Mereka menemukan baling-baling dan gulungan blue print.
Hae Joo dan San keluar dari taksi. Hae Joo langsung berlari menuju kapal. Tapi San berteriak tunggu dulu, ia mengatakan kalau ada orang lain lagi yang masuk ke kapalnya. Bukan hanya Sang Tae. Mendengar itu Hae Joo langsung berlari menuju kapal. San menyusulnya.
Gerombolan orang bertopeng itu akan pergi tapi Hae Joo mencegat mereka dan berteriak, “Hei kalian pencuri. Apa yang kalian lakukan?”

Hae Joo mencegat dan melawan mereka satu persatu. Tapi ia tak sanggup melawan mereka sendirian. San datang ikut menghajar mereka.
Perkelahian yang tak seimbang, San tak bisa melumpuhkan mereka. Bahkan ia sempat terkena pukulan. Mereka berhasil lari, Hae Joo mengejarnya. San ikut mengejar mereka.

Hae Joo loncat menangkap salah satu dari mereka. Baling-balingnya terlepas, Hae Joo berusaha mengambilnya tapi pria bertopeng itu menariknya.

Ada yang memperhatikan perkelahian ini dari dalam mobil, siapa?
Chang Hee dan Sekertaris Choi. Sekertaris Choi akan keluar membantu anak buahnya tapi Chang Hee melarang. Chang Hee mengingatkan kalau Sekertaris Choi tak memakai penutup wajah.

Hae Joo mendapatkan baling-balingnya dengan menendang area terlarang dari salah satu pria bertopeng. Ia mengambil tas yang berisi gulungan blue print dan berteriak pada San untuk segera lari.
San dan Hae Joo segera lari akan meninggalkan tempat itu. Sekertaris Choi tak ingin kerjanya sia-sia. Ia menyalakan mesin mobil. Chang Hee cemas apa yang akan dilakukan Sekertaris Choi.
Sekertaris Choi tancap gas. Dengan kecepatan tinggi mobil yang dikendarainya mengarah menuju Hae Joo dan San yang sedang berlari.
Chang Hee tak ingin Sekertaris Choi bertindak gegabah, ia membanting setir ke kiri. San melihat ada mobil yang mengarah padanya. Ia menarik Hae Joo dan badan samping mobil itu melemparkan tubuhnya ke aspal. Keduanya terjatuh.
Chang Hee menatap ke belakang ia terkejut. Sekertaris Choi langsung tancap gas, pergi. Gerombolan pria bertopeng mengambil baling-baling dan blue print yang terjatuh. Hae Joo yang masih sadar berusaha bangun tapi mereka segera kabur.
Hae Joo melihat San tergeletak tak sadarkan diri. “Oppa? San Oppa?” Hae Joo mengguncang-guncangkan tubuh San, “Oppa bangun. Tolong sadarlah!”
Hae Joo berteriak, “Apa ada orang?” Ia menangis, “Tolong kami. Ada orang yang terluka disini!”

Oh tidak San Oppa...

Bersambung di Episode 25

Komentar :
Hmm manakah azimuth thruster yang asli. Yang dibawa Sang Tae atau anak buah Sek Choi. Kalau menurutku yang asli yang dibawa Sang Tae. Lihat deh bentuknya, bukankah Hae Joo dan San memodifikasi bentuk azimuth thruster supaya sempurna. Sementara thruster yang dibawa anak buah Sek Choi terlihat seperti thruster biasa.

Yang mana pun yang asli yang pasti kita bisa melihat wajah asli Sek Choi yang dingin. Ternyata dia lebih kejam dari perkiraan saya. Dia berani ambil resiko menabrak orang daripada hasil pekerjaannya sia-sia. Dari mana dia mendapatkan sifat seperti ini, dari siapa lagi kalau bukan induk semangnya, Jang Do Hyun. Bertahun-tahun dia setia dengan majikannya. Ya loyalitas, ketika kita loyal pada pemimpin, kita pun akan lebih sering dipercaya. Itulah Sek Choi. Biarpun dulu dia dimarahi dan ditampar tapi ketika dia menunjukan loyalitasnya yang bagus, Presdir Jang pun lebih percaya padanya daripada Il Moon.

Apapun yang terjadi piku di bawah ini cute banget hehe.

10 comments:

  1. akhirya lanjut juga sinopnya setelah sekian lama menunggu........

    gomapseumnida oenni....

    ditunggu lanjutanya....fighting!!!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya kemarin sedikit ada kesibukan jadi telat deh...

      Delete
  2. gamsha sinop.y..
    haha ngakak liat ekspresi san ngarep benner kakek menang adu panco.y...

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang bikin ngakak terus nih si San, harapannya kan kakek menang supaya dia bisa jadian sama Hae Joo. hhaha..

      Delete
  3. ya ampuuunnn,,jahat banget,,kenapa orang jahatnya banyak sekali sih disini,,hiks hiks,,:((

    mbak anis,,semangat bikin sinopnya..^^
    gumawo..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditambah lagi orang jahatnya akan saling menjatuhkan hehe... Seru nih

      Delete
  4. waahhh...makin suka sama may queen
    ga sabar nunggu lanjutannya, kyaaaa.... >,<
    smngat ya mba bkin sinopnya :)

    ReplyDelete
  5. makin seru... ^^b
    arrgghh... chang hee makin jahat aja =.=

    ReplyDelete
  6. hahaaaa lucu bgt liat tingkah nya san hmmm dlm otak san cuman mikir mau ciuman ma haejo mulu hahaaa..heh jahat bgt il moon ma changhee rsa nya pengin gampar n nonjok'' wajah mereka b'2 ..

    ReplyDelete
  7. hmm tenaga nya haejo kuat bgt msa tanding panco lwn kakek n san menang haejo,,suka bgt liat tampang nya san waktu di peluk haejo n san mau minta cium ma haejo ^o^

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...