Saturday, 8 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 21 Part 2

Sang Tae yang mengendap-endap masuk rumah dikejutkan oleh Jin Joo. Ia memberi kode agar Jin Joo diam. Ia bertanya Hae Joo tak ada di rumah kan. Tapi tiba-tiba Hae Joo datang, untuk apa Sang Tae mencarinya. Sang Tae yang terkejut bicara terbata-bata.

Hae Joo bersikap seperti biasanya terhadap Sang Tae, ia bertanya darimana saja kakaknya tadi, apa sudah makan. Sang Tae menjawabnya terbata-bata.
Hae Joo menyediakan makanan untuk kakaknya. Sang Tae makan sangat lahap dan berkata semua makanan ini kesukaannya. Hae Joo tahu kalau itu makanan kesukaan kakaknya. Ia sudah bersusah payah menelepon dan membeli daging ini tapi Young Joo dan Jin Joo paling banyak makan dan ini hanya sisanya. Tapi menurutnya meskipun begitu ini sudah cukup menjadi keberuntungan Sang Tae. Ia heran kenapa kakaknya keluyuran sampai kelaparan seperti ini.
Sang Tae terharu dimarahi Hae Joo yang perhatian padanya. Melihat sikap Sang Tae terdiam seperti itu Hae Joo bertanya ada apa, apa Sang Tae tak menyukai makanannya. Sang Tae menggeleng.
Hae Joo berkata lirih kalau kakaknya memang mengalami kesulitan selama bekerja di pabrik lebih baik berhenti saja. Seperti yang kakaknya bilang kalau pekerjaan itu bukan keahlian kakaknya.
“Tidak tidak tidak. Aku akan melanjutkannya.” sahut Sang Tae bicara dengan mulut penuh dengan makanan. Alhasil makanan itu nyembur keluar hahaha.

“Ah dasar itu jorok!” seru Hae Joo.
Sang Tae hampir menangis, “Aku tak pernah melakukan apapun untukmu.”
“Kau juga tak pernah melakukan apapun dengan benar. Kenapa kau menyemburkan makanan? Apa kau sudah kenyang?” Hae Joo menaboki Sang Tae.
Sang Tae bilang kalau ia akan makan. Ia tak akan menyisakan sebutir nasi pun. Ia akan menghabiskannya. Sang Tae mengambil makanan yang ia semburkan tadi dan memakannya kembali. Hae Joo menyuruh kakaknya cepat makan. Akur lagi deh...
Presdir Jang yang baru pulang dari kantor langsung disambut pertanyaan dari istrinya. Geum Hee menanyakan keadaan Il Moon. Presdir Jang meminta istrinya tak perlu khawatir karena masalah ini akan segera selesai.
Geum Hee ingin tahu Il Moon ditangkap atas tuduhan apa. Presdir bilang bukan apa-apa, ia mengatakan kalau dalam dunia bisnis ini adalah yang sudah biasa terjadi. Geum Hee masih heran lalu kenapa Jung Woo Samchoon sendiri yang menangkapnya.
Presdir Jang berkata bukankah Geum Hee tahu sendiri kalau Jung Woo itu tak suka padanya. Karena yang sebenarnya Jung Woo incar adalah dirinya. Geum Hee tak mengerti dan bertanya kenapa. Presdir Jang merasa kalau Jung Woo melakukannya karena kisah masa lalu ia dan Geum Hee. Ia yakin kalau Jung Woo mengetahui tentang itu.

(Kalau saya menebak Jung Woo ga suka karena Geum Hee itu seperti melakukan pelarian terhadap Kakaknya. Bukankah sebelum Geum Hee menikah dengan Hak Soo, Geum Hee menjalin asmara dengan Jang Do Hyun. Tapi Jang Do Hyun berkhianat dengan ibu Il Moon dan itu mungkin membuat Geum Hee sedih. Dan pada akhirnya Geum Hee menemukan pria baik lain dan menikah dengan Hak Soo. Tapi Hak Soo meninggal dan Jang Do Hyun kembali lagi pada Geum Hee, apalagi penyebab meninggalnya Hak Soo masih misteri buat Jung Woo)
Jung Woo masih menginterogasi Il Moon, ia bertanya apa Il Moon yakin tentang itu. Il Moon mengangguk menjawab ya dengan wajah penuh kecemasan. Jung Woo kembali bertanya apa Il Moon bisa membawa buktinya. Il Moon ragu menjawabnya.
Jung Woo meminta Il Moon mendengarkan kata-katanya, “Kekuasaan tak bisa dibagi. Ini sama seperti perusahaan, kepala dari perusahaan selalu hanya satu orang. Bukankah menurutmu sekarang saatnya untuk Presdir Jang pensiun dan istirahat?”
Il Moon berfikir sejenak kemudian bertanya apa yang harus ia lakukan. Tepat saat itu Jaksa lain masuk bersama dengan Chang Hee. Jung Woo memarahi bawahannya ini karena membawa orang luar masuk ke ruang interogasi.
Chang Hee menyahut kalau ia bukan orang luar. Ia adalah pengacara yang akan mewakili Jang Il Moon. Chang Hee meminta izin pada Jung Woo untuk bicara dengan kliennya. Tapi Jung Woo tak mengizinkannya karena Chang Hee juga orang yang terlibat dalam kasus ini. Pertemuan Chang Hee dengan Il Moon tak bisa diizinkan.

Chang Hee mengatakan bahwa berdasarkan prosedur tindak pidana pasal 34, pertemuan dengan klien itu diperbolehkan. Jung Woo meninggikan suaranya berkata jika pertemuan ini memungkinkan untuk penghancuran barang bukti maka pertemuan itu bisa ditolak.
Chang Hee melawan perkataan Jung Woo, ia mengatakan sesuai pedoman dari pengadilan tinggi meskipun ada kemungkinan menuduh tersangka dan pengacaranya melakukan konspirasi untuk menghancurkan bukti, Jung Woo bisa membatasi hak mereka untuk bertemu jika ada bukti yang kuat.
Chang Hee bertanya apa Jung Woo ingin berdebat dengannya tentang prosedur tindak pidana. Jung Woo menahan geram, ia pun memberikan waktu pada keduanya selama 1 jam. Tapi Chang Hee membutuhkan waktu selama 2 jam bukankah Jung Woo nanti akan menginterogasi Il Moon semalaman. Jung Woo keluar dari ruang interogasi dengan kemarahannya.
Setelah Jung Woo dan jaksa lain keluar ruangan, Il Moon mengumpat kenapa harus Chang Hee yang datang bukan pengacara hebat yang lain. Chang Hee menatap tajam Il Moon meminta mendengarkan baik-baik perkatannya, “Mulai sekarang ketika jaksa datang dan menanyakan apapun jangan pernah mengatakan apapun tanpa ijinku. Mengerti?”

Il Moon berkata kalau ia sudah ketakutan setengah mati. Jaksa itu memukulnya dengan buku dan menyiksanya dengan pulpen. Ia menyuruh Chang Hee untuk menuntut mereka. Chang Hee bilang kalau itu tak ada gunanya karena ia pun dulu sering melakukannya, “Kau tak bicara apapun kan?” (haha ya ampun gini toh Jaksa menginterogasi tersangka)
Oh oh Il Moon terdiam karena ia merasa mengatakan sesuatu pada Jung Woo tadi. Chang Hee bertanya lagi apa Il Moon mengatakan sesuatu. Il Moon menjawab tidak, memangnya Chang Hee pikir dirinya ini apa. Chang Hee manilai itu bagus, ia minta agar Il Moon bertahan untuk malam ini.
Jung Woo yang marah mengepalkan tangan memukulkannya pada buku. Ia memarahi bawahannya. Kalau saja bawahannya ini bisa menahan Chang Hee lebih lama, ia pasti bisa memperoleh pernyataan penting dari Il Moon. Bawahannya minta maaf.
Jung Woo berkata kalau sekarang tak ada yang bisa dilakukannya, ia menyuruh bawahannya memastikan Il Moon berada dalam tahanan. Ia akan mencari cara lain. “Bukankah tak ada masalah untuk memperoleh surat penahanannya besok?”
Bawahannya mengatakan bahwa semua tuduhan sejauh ini cukup untuk mendapatkan surat penahanan. Jung Woo mengerti dan meminta bawahannya ini keluar dari ruangannya.
Hae Joo mengambil beberapa kemeja dari lemari di kamar Jung Woo. Ketika ia akan keluar kamar, langkahnya terhenti untuk melihat foto yang dimaksud ibunya.
Hae Joo mengambil foto itu dan menyentuh tepat di bagian wajah ibu kandungnya. Ia menatap sedih tapi sesaat kemudian ia menguatkan hatinya. Ia meletakan foto itu ke tempat semula dan keluar dari kamar Jung Woo.
Hae Joo mengantarkan pakaian yang tadi ia ambil dari lemari ke Jung Woo di kantor kejaksaan. Jung Woo meminta maaf sudah menyuruh Hae Joo mengantarkan baju ketika Hae Joo sedang sibuk. Hae Joo bilang tak apa-apa, ia pun bertanya apa yang membuat Jung Woo harus menginap di kantor selama beberapa hari. Jung Woo berkata kalau kita akan menemukan apapun kalau kita memang bekerja, ia mencoba untuk menahan Jang Il Moon. Hae Joo terkejut, “Direktur Jang? Kenapa?”
Jung Woo tanya apa Hae Joo tak bisa menebaknya. Ini karena Il Moon menggelapkan dana pengembangan. Hae Joo ingat kasus itu ia bertanya apa ini karena perkataan San yang sebelumnya. Jung Woo bilang bukan hanya kasus itu saja, Il Moon juga terjerat kasus korupsi. Ia meminta Hae Joo tak perlu khawatir, lebih baik pulang saja.
Hae Joo akan pulang tapi ia teringat satu hal, “Samchoon? Orang seperti apa kakakmu itu?”

“Kakakku?” Jung Woo heran dengan pertanyaan Hae Joo yang tiba-tiba mengenai kakaknya.

Hae Joo berkata ketika bicara dengan San bukankah Jung Woo bilang kalau kakak Jung Woo itu dibunuh. Jung Woo menjawab benar dengan nada sedih. Hae Joo ingin tahu kenapa itu terjadi. Jung Woo berkata kalau ia masih belum mengetahui sebabnya, ia juga bertanya-tanya tentang hal itu hingga membuat pikirannya kacau.

“Dia orang baik seperti samchoon kan?” tanya Hae Joo ingin tahu tentang ayah kandungnya.
“Tentu saja.” Jawab Jung Woo. “Dia lebih baik dariku. Bijaksana dan penuh perhatian. Dia memiliki impian yang besar.”

Hae Joo bertanya lagi anak yang meninggal yang seumuran dengannya apa kakak jung Woo juga sangat mencintainya. Jung Woo heran apa yang Hae Joo maksud itu Yoo Jin. Jung Woo berkata kalau kakaknya sangat menyayangi Yoo Jin hingga membuatnya sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Saat dia meninggal aku tak tahu bagaimana dia bisa meninggal saat dia sangat mengkhawatirkan anaknya.
Mata Hae Joo berkaca-kaca mendengarnya. Jung Woo yang terbawa suasana sedih mengenang kakaknya dan Yoo Jin heran kenapa Hae Joo tiba-tiba penasaran tentang ini. Hae Joo berkata bukan apa-apa. Ia berpesan agar Jung Woo menjaga kesehatan selama menginap di kantor. Ia benar-benar merasa bahagia memiliki Jung Woo sebagai pamannya. Jung Woo tersenyum, ia juga berpesan agar Hae Joo hati-hati di jalan.
Kang San membaca kembali buku yang bertuliskan tulisan ayahnya.
Akhir-akhir ini pikiranku semuanya tentang kapal pengeboran. Bahkan disini, di Jepang, yang merupakan salah satu negara paling top dalam industri perkapalan hanya ada kapal yang mengeksplor ladang minyak di dasar laut. Tapi tak ada kapal yang benar-benar bisa mengebor. Untuk ladang minyak di dasar laut, mulai dari eksplorasi sampai dengan pengeboran adakah kapal yang bisa mengatasi semua prosedur itu? kalau aku punya satu aku akan mengeksplorasi ke seluruh dunia dan bisa menjamin apa yang anak-anak kita bisa gunakan dimasa depan.
San bertanya-tanya dalam hati siapa yang mengirimkan buku ini padanya dan kenapa dia mengirimkan ini padanya.
Hae Joo masuk ke kamar Jung Woo dengan membawa foto dirinya ketika kecil bersama Hong Chul. Ia mengambil foto yang ada di kamar Jung Woo. Ia memandang kedua ayahnya, “Aku bahagia ayah. Karena aku punya ayah-ayah yang baik. Bahkan ada dua. Aku cukup bahagia dengan ini.”
Hae Joo tersenyum menatap foto kedua ayahnya. Ia memeluk kedua foto itu erat.
Hae Joo menghadap Presdir Jang. Presdir Jang berkata kalau ia mendengar Ryan Kang membeli salah satu pabrik baling-baling yang merupakan sub-kontraktor Cheon Ji. Ia bertanya apa Hae Joo tahu tentang ini. Hae Joo bilang kalau ia pernah kesana.
Presdir Jang ingin tahu apa yang sedang San buat disana. Hae Joo berkata bukankah itu pabrik baling-baling tentu saja San sedang berusaha membuat baling-baling. (haha Presdir oneng, kalau itu pabrik tempe ya pasti buat bikin tempe haha)

Presdir Jang segera meralat bukan itu, maksudnya baling-baling seperti apa yang sedang dibuat oleh San. Hae Joo enggan menjawabnya. Presdir Jang mengerti ia tahu Ryan Kang itu atasan Hae Joo. Tapi bukankah dirinya juga atasan Hae Joo. “Kau ini berasal dari perusahaan Cheon Ji bukan dari perusahaan Noble.”
Hae Joo berkata kalau Ryan Kang sedang berusaha untuk mengembangkan pembuatan azimuth thruster. Presdir Jang mengerti, ia meminta Hae Joo membantu Ryan Kang dalam pengembangan pembuatan azimuth thruster. Hae Joo kaget Presdir Jang tak marah, “Apa benar tak apa-apa kalau aku membantunya?”

Presdir Jang tersenyum, “Tentu saja. Buatlah itu dengan baik. Kalau thruster yang dikembangkan kalian bagus, aku mungkin akan membelinya. Bukankah itu akan saling menguntungkan?”
Presdir Jang meminta Hae Joo lebih konsentrasi untuk proyek itu. Ia akan mengizinkan Hae Joo cuti dari pekerjaan harian. Hae Joo tersenyum mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan Presdir Jang.
Setelah Hae Joo keluar Presdir Jang menghubungi Sekertaris Choi, “Kau tahu pabrik baling-baling Ryan Kang. Apapun yang diinginkan orang-orang dari pabrik itu, bantu mereka secara diam-diam.” Presdir Jang tersenyum.

(Jelas-lah dia tersenyum lha wong yang meneliti dan membuat si Kang San. Tar dia juga paling ambil doank bukannya membeli. Asas memanfaatkan)
Panjaga (pelayan) Presdir Jang tengah mengelap mobil In Hwa. Park Gi Chul melihat cara kerja pelayan itu yang terus mengelap di tempat yang sama. Ia mengomentari kalau mengelap jangan disatu tempat saja di sebelah sana juga. Pelayan itu mengerti.
In Hwa keluar dari rumah, Gi Chul melihatnya. Gi Chul segera mengambil lap yang digunakan pelayan itu. Ia mengambil alih pekerjaan mengelap mobil dan menyuruh pelayan itu menyingkir.
In Hwa melihat Gi Chul yang membersihkan mobilnya. Ia pun bertanya kenapa Gi Chul yang melakukannya. Gi Chul membual ini karena bentuk perhatiannya pada In Hwa (hueeekkk) ini harus digosok dengan tangan supaya mobilnya lebih mengkilap dan lebih baik.
In Hwa cuek dan berjalan ke arah pintu mobil. Gi Chul mengekorinya dan berkata bukankah In Hwa sangat mengkhawatirkan Il Moon, apa In Hwa tahu kalau Chang Hee-lah yang mewakili Il Moon dalam kasus ini.

In Hwa berbalik bertanya dengan sikap cuek, “Lalu kenapa?”

Gi Chul menyombongkan kehebatan putranya, bukankah In Hwa tahu bagaimana Chang Hee. Mulai dari kuliah hukum sampai ke institut pengadilan dan pelatihan Chang Hee selalu berada diposisi pertama. Itu artinya Chang Hee lebih hebat daripada pengacara hebat lainnya.

“Oh begitu ya!” Seru In Hwa bersikap biasa saja.
Gi Chul makin semangat mengatakan kelebihan putranya. Apapun yang dilakukan Il Moon percayakan saja pada Chang Hee karena Chang Hee pasti akan mengeluarkan Il Moon dari penjara apapun yang terjadi. In Hwa menyahut Gi Chul pasti sangat bangga memiliki putra seperti Chang Hee. Gi Chul tersenyum.

In Hwa berbalik badan dan ngomel-ngomel pelan, “Menggelikan sekali.” Ia pun masuk ke mobilnya. Gi Chul tersenyum senang.
Chang Hee berada di ruangan Jung Woo. Jung Woo menanyakan apa Chang Hee akan terus mengganggu kesaksian Il Moon. Chang Hee berkata bahwa membela tertuduh adalah hak penuntut dan juga kondisi kesehatan kliennya sekarang sedang tak baik. Ia minta izin supaya Il Moon diperbolehkan periksa ke dokter.

(ah sumpah ini alasan umum banget. Udah biasa, ketika tersangka sedang diperiksa oleh pihak kejaksaan atau KPK pasti alasannya sakit... Huh sebel)
Jung Woo menyindir apa anak muda seperti Il Moon harus diperiksa oleh dokter hanya karena bermalam di ruang interogasi. Kalau Chang Hee mau menunda-nunda seperti ini apa Chang Hee pikir ia tak bisa mendapatkan surat penangkapannya. Ia mengatakan kalau saat ini Jaksa Yang sedang berada di pengadilan. Jadi ia minta Chang Hee tak perlu menghabiskan tenaga untuk hal yang sia-sia.
Dua orang pria masuk bertanya, “Apa anda wakil kepala jaksa Yoon Jung Woo? kami dari Unit Inspeksi Khusus dari kantor kejaksaan tinggi.”

Jung Woo heran kenapa dari Unit Inspeksi Khusus menemuinya. Petugas itu mengatakan kalau ia mendapatkan kabar mengenai tindak pidana korupsi yang Jung Woo lakukan. Ia pun meminta Jung Woo bisa bekerja sama dengan mereka.
Jung Woo tak mengerti, “Korupsi?” Jung Woo membentak, “Omong kosong apa ini?” Dua petugas itu meminta Jung Woo ikut dengannya. Dua orang itu keluar dari ruangan Jung Woo.
Jung Woo menatap tajam ke arah Chang Hee yang juga sedang menatap tajam seperti tatapan kemenangan.
Chang Hee menemui Presdir Jang. Presdir Jang memuji hasil kerja Chang Hee yang hebat. Presdir Jang tersenyum senang merasakan sangat segar setelah sekian lama. Chang Hee mengingatkan masih terlalu dini untuk merasa lega karena kita belum tahu siapa yang akan menjadi wakil jaksa selanjutnya.
Chang Hee merasa jaksa Yoon Jung Woo tak akan dipecat hanya karena hal ini. Kantor kejaksaan tak akan memecat orang kecuali hal itu sangat serius. Presdir Jang bilang tak apa-apa yang penting Il Moon bisa bebas dan sisanya biar ia yang mengatasinya. Ia kembali memuji pekerjaan bagus Chang Hee.
San berada di dermaga kapal menatap jauh. In Hwa menemuinya. In Hwa menanyakan apa hubungan San dan Hae Joo berjalan lancar.
San berbalik menoleh ke arah In Hwa, ia heran dengan pertanyaan In Hwa.
In Hwa berkata karena Hae Joo sudah putus dengan Chang Hee, San dan Hae Joo sepertinya sudah terang-terangan berkencan. In Hwa menilai kalau Hae Joo itu gadis yang buruk.
San mengatakan kalau Hae Joo itu memiliki banyak luka di hati jadi In Hwa jangan menyumpahinya. In Hwa bertanya apa San tak bisa melihat lukanya. San berkata berapa banyak orang diluar sana dengan luka yang tak bisa In Hwa bayangkan. In Hwa tak akan tahu.
In Hwa membenarkan, ia tak tahu tentang itu. Apa itu berarti ia tak punya hak untuk mencintai San.
San : “In Hwa, meskipun aku membutuhkan waktu yang lama. Untuk waktu yang lama itu, aku ingin tetap berada di samping Hae Joo sampai hari dimana dia bisa tersenyum ceria seperti yang dia lakukan sebelumnya. Aku ingin melindunginya seperti itu.”
In Hwa menangis kecewa, ia mendekat ke arah San dan berkata kalau hatinya sedang goyah. Tak bisakah San berada di sisinya. Ia hanya ingin San mencintainya seumur hidupnya. Ia tak ingin orang lain selain San.
In Hwa menangis menyandarkan kepalanya ke bahu San, “Aku juga ingin dicintai oleh orang yang kucintai.”
Tangan San terangkat ingin menghibur In Hwa tapi ia berat melakukannya. Ia pun menjatuhkan tangannya lagi.
In Hwa berada di dalam mobil di parkiran butiknya. Pikirannya tak fokus. Ia memundurkan mobilnya tapi naas ia malah menabrak mobil yang ada di belakangnya. Seorang pria yang ada di dalam mobil itu keluar. In Hwa kesal.
“Hei ahjumma kau seharusnya masak. Jam segini kenapa kau malah mencari ribut?” Tanya pria itu.

In Hwa marah disebut ahjumma, “Ahjussi apa kau pernah melihat seorang ahjumma yang masih muda dan cantik seperti ini?”
In Hwa melihat penampilan pria itu dan berkata sepertinya ahjussi ini ingin mencari keuntungan dengan situasi ini. Ia ini orang yang tak mudah dibodohi. Ahjussi itu ikut marah beraninya In Hwa berteriak padanya setelah menyebabkan kecelakaan. Ahjussi itu akan memukul tapi ada tangan seseorang yang menangkapnya, Chang Hee.
Chang Hee mengancam bukankah ahjussi ini tahu kalau yang namanya penyerangan akan dikenai hukuman yang lebih besar daripada membengkokkan bemper mobil.
Ahjussi itu marah, “Anak ini memangnya kau siapa.” Ia akan memukul Chang Hee tapi dengan sigap Chang Hee manangkap tangan dan memuntirnya. Ahjussi itu mengaduh.

Chang Hee : “Kau bisa bergerak, sepertinya kau tak terluka sama sekali. Kau hanya perlu membereskan bempermu.”

Ahjussi itu masih marah, “Lepaskan aku.” Tapi Chang Hee menekan keras tangan membuat ahjussi itu menjerit kesakitan. Chang Hee kembali mengancam kalau ahjussi ini tetap berada dalam posisi seperti ini dalam waktu cukup lama ada kemungkinan resiko patah tulang. Ahjussi itu nyerah deh.
Chang Hee memberikan kartu namanya dan meminta ahjussi itu mengirim biaya perbaikan mobil padanya.
Ahjussi itu membaca kartu nama Chang Hee. Ia terkejut Chang Hee seorang jaksa. Ia terbata-bata mengatakan kalau ia baik-baik saja dan bempernya memang sudah penyok sebelumnya. Ia memberi hormat pada Chang Hee dan langsung ngibrit masuk ke mobilnya.
Chang Hee mengambil bingkisan yang ia letakan di bawah. Ia bertanya apa In Hwa tak apa-apa. In Hwa tak menjawab malah bertanya dengan judes untuk apa Chang Hee jauh-jauh kesini.
Chang Hee memberi tahu kalau Il Moon akan dilepaskan malam ini. Ia tahu In Hwa sibuk jadi sebaiknya masuk ke dalam butik saja. In Hwa mencibir memangnya apa urusan Chang Hee.
Chang Hee memandang butik In Hwa, “Kau membuka usaha tapi aku terlalu sibuk untuk datang berkunjung.” Chang Hee menyerahkan bingkisan yang dibawanya. In Hwa dengan juteknya bertanya apa itu. Chang Hee tak menjawab. In Hwa pun menerimanya dengan sikap jutek. Setelah memberikan itu Chang Hee segera pergi tanpa mengucapkan apapun.
In Hwa masuk ke butik-nya dan membuang bingkisan dari Chang Hee ke tempat sampah. Tapi In Hwa penasaran apa isinya, ia pun mengambilnya lagi.
In Hwa membuka isinya, sebuah mainan kotak musik. (Diputer gitu, terus boneka di dalamnya muter deh. Kayak lagi nari balet plus ada musiknya hehe)

Ada pesan yang ditulis Chang Hee, ‘Ini saat kau terlihat paling cantik. Masih teringat jelas dalam ingatanku dan aku tak bisa melupakannya.’

In Hwa tersenyum menilai selera Chang Hee sangat bagus. (alamak cewek mana yang ga klepek-klepek dengan jurusnya Chang Hee hahaha)
San duduk di atas motornya memandang kapal yang ada di depannya.
Disisi lain ia melihat Hae Joo yang juga tengah duduk di atas motor memandang kapal yang juga dilihatnya. San memanggilnya, “Hei tukang las.” Hae Joo menyahut dengan sebutan, “Oh kakak pembohong.” hahaha.
San menghampiri Hae Joo menanyakan apa yang dilakukan Hae Joo disini. Hae Joo menjawab kalau ia sedang melihat kapal pengebor. Ia pun balik bertanya apa yang San lakukan disini.
Bukannya menjawab San malah bertanya, “Apa kau percaya takdir?”

Hae Joo heran pertanyaan apa itu. San berkata kalau ia tak percaya hal itu sebelumnya tapi sekarang ia percaya. Alasan kenapa dirinya ingin membangun kapal pengebor adalah takdir.
Hae Joo menilai ini aneh sekali. Ia juga berfikir kalau ia ingin membangunnya. San tak percaya Hae Joo juga ingin membangun kapal pengebor seperti dirinya. Ia ingin tahu kenapa.

Hae Joo : “Ayahku... kapal... minyak... ayah-ayahku... karena mimpinya.”
San tak mengerti, “Ayah-ayah?”
Hae Joo bertanya apa San sungguh-sungguh ingin membangun kapal pengebor. Kalau begitu bukankah San memerlukan galangan kapal. San menjawab tentu saja, karena darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah seseorang yang ingin membangun kapal.

San mengajak Hae Joo pergi. Hae Joo tanya kemana. San mengatakan akan membentuk azimuth thruster yang ingin Hae Joo buat. Hae Joo tersenyum senang.
Keduanya naik motor masing-masing. Aha keren.
keduanya saling menoleh dan tersenyum.
San mengajak Hae Joo ke pabrik baling-baling untuk mempelajari baling-baling. Hae Joo benar-benar serius melakukannya, membuat model baling-baling.
Di rumah keluarga Jang sibuk membuat banyak makanan untuk menyambut kepulangan Il Moon.
Yang ditunggu pun datang. Geum Hee menghampiri Il Moon. Ia sangat mengkhawatirkan putranya. Ia bertanya apa Il Moon sakit. Il Moon diam saja. Presdir Jang berkata bukankah ia sudah bilang istrinya tak perlu khawatir karena Il Moon pasti bebas dan itu berkat Chang Hee yang sudah berusaha keras.
Geum Hee berterima kasih pada Chang Hee. In hwa menatap Chang Hee dan tersenyum padanya.
Jung Woo di rumah tengah memaku meja yang rusak. Hae Joo sampai di rumah dan heran melihat Jung Woo sudah ada di rumah. Bukankah Jung Woo bilang tak akan pulang selama beberapa hari.

Jung Woo berkata kalau semuanya tidak berjalan dengan lancar. Ia merasa sepertinya ia dan Hae Joo akan sering bertemu nantinya. Hae Joo tak mengerti apa maksudnya. Jung Woo memberi tahu kalau ia sedang di skors (kayak anak sekolah aja). Hae Joo kaget mendengarnya.
Jung Woo mengatakan kalau keputusan Hae Joo berpisah dengan Chang Hee adalah keputusan yang tepat. Menurutnya Chang Hee seseorang yang sangat jahat. Ia dan Hae Joo ternyata tak pintar dalam menilai orang.
Hae Joo memacu sepeda motornya malam-malam.
Keluarga Jang pun mengadakan pesta makan malam sebagai ungkapan atas bebasnya Il Moon. Mereka makan malam di halaman rumah. Mereka bersulang, Geum Hee terlihat gembira. Ia kembali mengucapkan terima kasih pada Chang Hee.
Presdir Jang memuji anak Park Gi Chul ini sebagai seorang anak yang hebat. Gi Chul tertawa bangga ia berkata kalau ini bukan karena Chang Hee anaknya tapi karena Chang Hee memang hebat dalam pekerjaan. “Benarkan Il Moon?” Tanya Gi Chul pada Il Moon.
Il Moon yang tak suka dengan Chang Hee pun berusaha bersikap baik menjawab ya pertanyaan Gi Chul. Tentu saja ini membuat Gi Chul tertawa senang.
Geum Hee sudah memasak makanan kesukaan Il Moon. Ia meminta Il Moon makan yang banyak. Il Moon berkata kalau ia akan memakannya pelan-pelan. Presdir Jang bertanya kenapa wajah Il Moon terlihat murung. Bukankah Il Moon hanya sekali ke kantor polisi, memangnya ada yang mati sampai Il Moon terlihat murung seperti itu. Il Moon berkata bukan begitu. Presdir menyuruh Il Moon tersenyum bukankah bagus kalau mereka makan bersama keluaraga.
Il Moon tersenyum terpaksa.

Geum Hee menyuruh Gi Chul makan yang banyak. Ia merasa karena semuanya sibuk ini pertama kalinya mereka makan keluarga setelah sekian lama. Gi Chul menawarkan diri akan bersulang.
Gi Chul menuangkan wine, “In hwa yang baru saja menjalankan usaha fashion-nya dan aku tak bisa berkunjung karena sibuk. Bagaimana kalau kita bersulang untuk kesuksesan In Hwa?”
Gi Chul mengangkat gelasnya tapi naas kaki gelas itu menyenggol piring tumpahlah wine itu ke wajahnya haha (sumpah saya ngakak ga henti-henti haha)
Semua terkejut. Presdir Jang heran apa Gi Chul sudah mabuk, kenapa semangat sekali. Kalau ada yang melihat, mereka akan berfikir kalau anak Gi Chul yang baru bebas. Presdir Jang tertawa ngakak. Gi Chul yang wajahnya basah karena wine juga ngakak. In Hwa mengangkat gelas mengajak Chang Hee bersulang.
Di luar pagar Hae Joo memperhatikan kegembiraan keluarga ini. Ia terlihat sedih memandang satu persatu orang yang ada disana terutama ibu kandungnya yang terlihat tertawa lepas. Hae Joo pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Bong Hee kembali dari Jepang. Di bandara ia melihat seseorang, Jung Woo. Apa Jung Woo datang untuk menjemput Bong Hee. Tentu saja Bong Hee senang melihatnya. Tapi apa yang terjadi, ia bersikap jutek seperti saran Ibu.
Ada seorang penumpang pria yang melintas di depan Bong Hee. Bong Hee langsung melingkarkan tangannya ke lengan pria itu. Pria itu heran apa-apaan ini. Bong Hee meminta pria itu jangan melihatnya, terus saja jalan, diam dan tetap berada di sebelahnya. Bong Hee menggandeng pria itu melewati Jung Woo. Jung Woo melihatnya dan memanggil Bong Hee.
Bong Hee tanya dengan sikap jutek, ada apa?
Jung Woo berkata apa lagi, ia sengaja datang untuk menjemput Bong Hee. Jung Woo melihat pria disamping Bong Hee dan bertanya siapa dia.
“Lalu kau siapa?” tanya Bong Hee melorotkan kaca matanya.
Pria itu kesal dan pergi meninggalkan kedua orang ini. Bong Hee berteriak pada pria tadi, “Sayang telepon aku kalau sudah sampai di kantor ya?” Bong Hee melambaikan tangan penuh senyuman. Haha.

Bong Hee bersikap jutek pada Jung Woo, “Kau ini siapa sih?” Kemudian berjalan berlalu dari hadapan Jung Woo. Jung Woo heran melihatnya, “Ah dasar. Kapan dia bisa dewasa?”

kesambet setan Jepang mana sampai Bong Hee jadi kayak gitu (mungkin Jung Woo berfikir gitu ya haha)
Bong Hee di depan bandara menunggu taksi. Jung Woo mengajaknya naik mobil dengannya. Bong Bee masih bersikap jutek, apa Jung Woo tak melihat ia dimana sekarang, ia akan naik taksi. Jung Woo mengatakan kalau Bong Hee membawa koper, ia mengajak Bong Hee pergi dengan mobilnya saja.
Bong Hee merasa sepertinya Jung Woo kurang kerjaan dengan mengejar-ngejar wanita. Tapi ia menilai kalau Jung Woo memiliki selera yang bagus. Jung Woo membenarkan sepertinya tak ada yang bisa ia kerjakan di masa depan. Ia mengatakan kalau ia sedang diskors.

Bong Hee kaget, “Apa? Apa kau bilang?”

Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan keduanya. Supir taksi menawarkan apa mau masuk ke taksinya. Bong Hee berkata manis kemudian membentak pada Pak Supir taksi kalau supirnya sudah datang jadi ia tak akan naik taksi hahaha. Jung Woo tertawa hahaha
Bong Hee ingin tahu kenapa, kenapa Jung Woo diskors tapi masih bisa tertawa. Apa Jung Woo masih waras. Jung Woo membenarkan karena Bong Hee sudah kembali menjadi diri Bong Hee lagi. Bong Hee berkata kalau ini biasa terjadi pada orang dan ia tak bisa lagi ia harus menjadi dirinya sendiri karean ini, itu terasa sangat menyebalkan.

Jung Woo kembali tertawa. Bong Hee ingin tahu apa salah Jung Woo sampai diskors seperti itu. Jung Woo tak menjawab. Bong Hee mencoba menebak, ini bukan karena wanita kan?

Jung Woo menabok Bong Hee sambil tersenyum, “Aigoo dasar wanita ini.” Bong Hee tertawa curiga, “Mana mungkin bukan karena itu kan? Itu sebabnya kau tanya apa sebabnya?”
Bong Hee meraih wajah Jung Woo dengan kedua tangannya, ia ingin tahu alasan kenapa Jung Woo diskors. Ia tak akan memaafkan Jung Woo kalau sebabnya karena wanita. Jung Woo meronta meminta dilepaskan. Ia menyuruh Bong Hee ikut dengannya karena mobilnya ada di tempat parkir. Jung Woo menarik koper Bong Hee.
Hae Joo ke kantor tapi dia nyelonong aja. Ketua Tim Jo marah melihat tingkah Hae Joo yang semakin ngelunjak tanpa menyapa padanya sebagai atasan.
Hae Joo langsung masuk ke ruangan Chang Hee. Ia marah mempertanyakan kebenaran Chang Hee memalsukan bukti untuk menjebak Jung Woo.
Chang Hee mengingatkan kalau ini di kantor. Ia meminta Hae Joo memisahkan antara urusan pribadi dengan kantor.

Hae Joo : “Kenapa tidak? Apa kau malu karena orang orang mendengarnya? Kalau begitu kenapa kau melakukan hal yang memalukan? Aku tanya padamu kenapa kau melakukan itu pada Jung Woo samchoon?”
Chang Hee menahan marah, ia meminta Hae Joo ikut dengannya keluar.
Chang Hee dan Hae Joo mencari tempat untuk bicara. In Hwa melihat keduanya, ia sembunyi. Ia Hwa mengikuti keduanya.
Chang Hee dan Hae Joo berada di tengah-tengah tangga. keduanya bicara disana, In Hwa menguping. Chang Hee bertanya apa Hae Joo ini bekerja di kantor kejaksaan bukan di Cheon Ji. Kalau atasan Hae Joo dibebaskan seharusnya Hae Joo senang, tapi kenapa Hae Joo malah menyalahkannya.
Hae Joo berkata itu karena Chang Hee sudah menjebak Jung Woo hingga dia diskors selama sebulan. Ia tak peduli seberapa dekat Chang Hee dengan Cheon Ji. Tapi menurutnya ini sudah keterlaluan. Bukankah Jung Woo itu orang yang pernah berbagi hidup dengan Chang Hee.

Chang Hee berkata dengan sikap dingin kalau ini bukan urusan Hae Joo. Hae Joo mengatakan kalau ia sudah tahu semuanya, tahun lalu Jang Il Moon mengambil uang perusahaan. Ia memastikannya semua inu sejak ia masuk ke perusahaan dan bagaimana dia menggelapkan uang itu keluar. Hae Joo menyuruh Chang Hee segera ke kantor polisi, pergi sekarang untuk menjelaskan semuanya dan bersihkan nama Jung Woo.
Chang Hee menatap Hae Joo dingin, “Chun Hae Joo-ssi. Sepertinya kau salah paham. Kau pikir kau siapa menyuruhku?”
Hae Joo menahan marah, “Apa kau bilang? Oppa apa kau benar-benar orang seperti ini? meskipun ayahmu bersalah padaku, aku pikir kau bukan orang yang seperti itu. Paman Gi Chul yang bersalah padaku dan tak merasa malu, kau juga tak ada bedanya.” Hae Joo membentak, “Kalian sama saja!”
Chang Hee menahan marah, ia menoleh ke sekeliling dan terkejut melihat In Hwa menguping pembicaraannya dengan Hae Joo. In Hwa serba salah sudah ketahuan menguping, ia berusaha sembunyi. Tapi tetap saja sudah ketahuan oleh Chang Hee.
Karena sudah terlanjur seperti ini, Chang Hee pun melanjutkan kemarahannya. Ia menatap tajam Hae Joo dan menamparnya keras-keras. In Hwa kaget melihat apa yang dilakukan Chang Hee terhadap Hae Joo.
“Chun Hae Joo-ssi, mulai sekarang kau dipecat!”
Hae Joo yang terkejut dengan tamparan Chang Hee. Ia menyentuh pipinya sambil menatap Chang Hee dengan tatapan tak percaya.

Picture preview Episode 22

19 comments:

  1. akhirnya sinopsis part 2 nya udah keluar makasih mba ^-^
    di episode nih changhe nyebelin banget sih,,ta pi di episode ne bnyk yg lucu nya jg kya kisah gichul menuang wine ketumapah kemuka nya gokil bgt n bonghe sok jual mahal,,waktu sangtae nyembur kn makanan lucu,,kya nya sie inhwa udh mulai suka deh ma changhe n udh nyerah mau ngejar cintanya san.. maaf nya mba klo komen aku kepanjangan -flo-

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener. Chang Hee ngeselin banget, rasanya pengen gampar chang hee bolak balik hehe..

      Delete
  2. foto priview san n haejo lucu jg tuch,,btw di mulut san itu apa ya ?? -flo-

    ReplyDelete
    Replies
    1. apa ya itu... hehe yang pasti mah itu makanan...

      Delete
  3. mbak anis kasih tau aq dong,,chang hee punya berapa "topeng",,???sbnrnya ikut tersipu2 saat in hwa dpt bingkisan dr chang hee walaupun PALSUUU...ikut sebeeelll jg dy punya ide jebak jung woo samchoon,,dia nampar hae joo pula,,

    itu yg di lidahnya san oreo kali yak.. #ngasal :))))
    pengen cpt2 liat hae joo jth cinta ke san.. biar g nangis mulu.. ^^

    gumawo mbak anis sinopsisnya,,hwaiting buat episode 22^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya waktu changhee ngasih inhwa hadiah itu bikin senyum geje,,penasaran bgt emang bner yach changhe suka inhwa sejak kecil

      Delete
    2. haduh iya juga ya... punya berapa topng chang hee itu... yang pasti topeng yang diperlihatkan di depan In Hwa topeng yang bagus...

      Delete
  4. aduh... hati rasanya ketusuk2 ngelah chang hee nampar hae joo :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama sakit hati banget hae joo ditampar kayak gitu. apalagi yang gampar itu seseorang yang dicintai hae joo selama 15 tahun...

      Delete
  5. wah ba anis lanjut ep 22 y selalu di tunggu...
    bikin penasaran ni drama ....

    ReplyDelete
  6. sis ep 22 nya di tunggu

    ReplyDelete
  7. MkIn seru z deh, cerita'y.
    DTnggu klnjut'n.a. ;))

    ReplyDelete
  8. seruuuu., tapi aq sebel banyak adegan cowok nampar cewek., definitely not good.,., :(
    afterall., semangat mba anissss.,.

    ReplyDelete
  9. @all : trims ya...

    episode 22 belum sempat capture piku.. jadi ga bisa di post pagi ini.

    ReplyDelete
  10. nggak apa'' mba klo blum bisa post pagi nie,,rasanya pengin nonjok changhee aja nie karna udh nampar haejo -flo-

    ReplyDelete
  11. chang hee benar2 nyebelin.., pngen bget aq nonjok dia.., enak aja main tampar hae joo.., semenjak chang hee putus ma hae joo.., aq bnar2 dah gk suka ma chang hee.., hanya satu kata buat chang hee.. NYEBELIN....

    ReplyDelete
  12. bimbang hatiku.. Sbenarnya suka sm yg peranin chang hee,, tp perannya disini jahat sih..(meskipun sbenarnya dia sdikit terpaksa -tp tetap tdk dibenarkan) ..

    jadinya nga sabar pengen liat scene romantis hae joo nd kang san ... ^^

    Aaah..dilema...

    Smangat mba anis..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...