Sunday, 9 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 22 Part 1


Chang Hee yang marah menampar Hae Joo keras. In Hwa yang menguping pembicaraan keduanya terkejut. Chang Hee juga memecat Hae Joo.

Hae Joo memegangi pipinya, “Dipecat? Kenapa aku harus dipecat?” Tanya Hae Joo lirih.
Chang Hee beralasan kalau ia harus melindungi Direktur Jang Il Moon. Karena sekarang Hae Joo berusaha menantang Direktur Jang.
Hae Joo meninggikan suaranya, “Itu karena Jang Il Moon memang orang jahat. Dia memeras uang dari sub-kontraktor yang sudah seperti keluarga perusahaan ini dan melakukan penggelapan dana pengambangan, semua itu benar. Oppa, kau tahu lebih baik daripada orang lain,” Hae Joo menangis marah.
Chang Hee berkata kalau tak perlu lagi ada pembicaraan diantara dirinya dan Hae Joo. Ia meminta Hae Joo meninggalkan perusahaan karena ini perintah dari atasan Hae Joo. Ia juga mengingatkan bukankah ia sudah melarang Hae Joo memanggilnya Oppa. Kenapa ia harus menjadi Oppa-nya Hae Joo.

Chang Hee meninggalkan Hae Hoo sendirian di tangga. Air mata Hae Joo semakin mengalir deras.

In Hwa yang masih berdiri di tempatnya menguping diam saja ketika melihat Chang Hee melintas di depannya. Chang Hee pun tak menyapanya. In Hwa mengikuti Chang Hee.
In Hwa masuk ke ruangan Chang Hee. Chang Hee menanyakan keperluan In Hwa menemuinya. In Hwa memberikan bingkisan untuk Chang Hee.

Chang Hee heran apa ini. In Hwa mengatakan kalau ini hadiah ucapan terima kasih yang waktu itu. In Hwa juga mengucapkan selamat karena Chang Hee sudah menjadi Direktur di perusahaan Cheon Ji.
Chang Hee mengucapkan terima kasih dengan sikap biasa saja. In Hwa heran kenapa tanggapan Chang Hee hanya seperti itu, apa Chang Hee sungguh-sungguh berterima kasih.
In Hwa merengut karena Chang Hee bahkan tak membuka hadiah darinya. In Hwa menebak apa Chang Hee akan bermain tarik ulur dengannya. Chang Hee bertanya apa sekarang In Hwa sedang mengajaknya berkencan.

In Hwa gelagapan, “Apa katamu?” In Hwa menilai Chang Hee lancang mengatakan itu padanya. In Hwa kembali merengut dan keluar dari ruangan Chang Hee.
Chang Hee membuka hadiah pemberian In Hwa. Sebuah dasi dan ada pesan yang ditulis oleh In Hwa.
Kau terlihat semakin tampan. Jangan salah paham karena aku bicara begini. Aku sama sekali tak tertarik padamu.

Chang Hee melempar surat itu ke meja dan tersenyum sinis.
Hae Joo berpapasan dengan In Hwa. Tapi Hae Joo tak menyadarinya. In Hwa menyapanya lebih dulu, “Lama tak bertemu.”

Hae Joo menanyakan kabar In Hwa. Dengan santai In Hwa menjawab kalau ia sehat, tak ada yang salah dengan kesehatannya. Ia balik bertanya bagaimana keadaan Hae Joo. Ia mendengar Hae Joo dipecat dari perusahaan. In Hwa sangat menyayangkan karena ini adalah perusahaaan yang mati-matian Hae Joo lamar.
In Hwa akan pergi dari sana tapi ia ingat satu hal, “Sebelumnya aku tak pernah menyadari. Sepertinya Chang Hee-Oppa cukup menarik. Ketika dia menamparmu dia terlihat terkendali. Aku tak tahu kenapa kau menyukainya selama 15 tahun. Kupikir sekarang aku tahu." In Hwa berlalu dari sana.
Hae Joo mengemasi barang-barangnya sambil sesekali mengusap air matanya. Ketua Tim Jo dan Wakil Yang heran melihatnya. Wakil Yang bertanya apa Hae Joo benar-benar dipecat. Hae Joo tak menjawab, ia hanya mengusap air matanya.

Ketua Tim Jo berkata kalau ia mendengar bahwa Hae Joo menantang Direktur Park. Ia menilai tindakan Hae Joo ini gila karena kepribadian Direktur Park bukanlah kepribadian yang sembarangan. Ia mengingatkan seharusnya Hae Joo tahu diri dengan posisi Hae Joo sebelum melakukan itu.
Hae Joo membawa barang-barangnya. Ia mengucapkan terima kasih pada Ketua Tim Jo Min Kyung dan pegawai lain atas kerjasamanya. Ia berpesan agar semuanya menjaga kesehatan. Hae Joo meninggalkan ruangan.
Wakil Yang berkata pada Ketua Tim Jo bahwa ia takut kalau ia dan ketua Tim Jo juga akan dipecat. Ketua Tim Jo Min Kyung heran kenapa dengan mereka. Wakil Yang berkata kalau kita sudah memalsukan laporan pembuatan azimuth thruster dan berbohong bersama Direktur Jang.
Ketua Tim Jo sedikit cemas tapi ia berusaha menutupinya. Ia meminta wakil Yang berhenti membahas sesuatu yang tidak enak lebih baik kembali bekerja.
Hae Joo yang memacu sepeda motornya cepat berhenti di depan kapal pengebor. Ia ingin melihat kapal itu untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi dari Cheon Ji.
San menemui Bong Hee. San menebak kalau jadwal Bong Hee selama di Jepang pasti lumayan sibuk karena Bong Hee terlihat sangat lelah. Bong Hee berkata kalau ada banyak hal yang harus ia lakukan tapi hal ini terjadi karena banyak pria yang merepotkannya hehe.
San merasa kalau Pria Korea memiliki mata yang buruk karena mereka tak bisa melihat wanita seperti Bong Hee. Bong Hee tersipu malu mendengar ucapan San. Ia menyahut kalau hanya ada satu orang yang matanya sudah rusak. (haha Jung Woo kan?)

“Apa?” San tak mendengarnya dengan Jelas. Bong Hee menyahut bukan apa-apa.
Bong Hee ingat kalau San memintanya untuk mencari informasi tentang ayah San. Bong Hee menilai pria yang bernama Akiyama itu orang yang lumayan hebat. Dia itu orang yang paling menjanjikan di perusahaan pembangunan kapal Mitsubishi.

San ingin tahu apa ada data mengenai keikutsertaan ayahnya dalam eksplorasi 7 ladang minyak. Bong Hee heran bagaimana San bisa tahu.

Bong Hee menjelaskan, “Pada saat eksplorasi gabungan antara Korea-Jepang di tahun 1986 itu adalah eksplorasi terakhir dan Akiyama adalah kepala dari pihak Jepang. Setelah dia meninggal karena kecelakaan mobil, eksplorasi itu berhenti total.”
San tanya apa Bong Hee yakin tentang kecelakaan mobilnya. Bong Hee berkata kalau ia sudah mengeceknya di kantor polisi Jepang dan ia mendengar kalau Akiyama meninggal karena bunuh diri, dan dia melakukan itu bersama istrinya.
San terlihat sedih. Bong Hee menyadari kesedihan San, ia seharusnya tak perlu mengungkit ini. San bilang tak apa-apa. Ia bertanya apa Bong Hee tahu tanggal kematian orang tuanya. Bong Hee menjawab ya, ia sudah mencatatnya. Bong Hee membuka buku catatannya, 12 agustus 1986.

12 agustus? San Heran, ia berusaha mengingat tanggal itu tapi ponselnya berdering.
“Ya tukang las!” San menjawab telepon Hae Joo. Hae Joo menanyakan keberadaan San. Ia mengatakan kalau ia berada di pabrik. Ia menayakan tentang jarak dan sudut pada baling-baling.

San bilang kalau ia akan mengirimkan itu pada Hae Joo sekarang, ia akan ke pabrik nanti. San menyudahi pembicaraannya dengan Hae Joo.
Hae Joo membuka kiriman dari San di ponselnya, ga negerti buka apaan... Kayaknya model baling-baling terus ditulis ukuran sudut dan jarak deh.
Hae Joo melihat kakaknya sedang digembleng oleh kakek Kang. Ditendang dan digetok haha. Sang Tae kesal kenapa kakek melakukan itu terhadapnya.

Kakek mengatakan kalau Sang Tae belum menyelesaikan pekerjaan tapi sekarang Sang Tae malah mau melarikan diri. Sang Tae membela diri ia mengaku kalau ia sudah bekerja keras, langit dan bumi saksinya. Sekertaris Kim juga selalu mengawasinya.
Kakek tanya apa Sang Tae sudah membersihkan mesin las di Tim Las B dan semua selang gas. Sang Tae menilai kalau kakek ini semakin tambah tua semakin pelupa aja, ia ini bekerja untuk Tim Las A bukan Tim Las B. Haha.
“Apa kau bilang? Apa kau pikir otakku kurang pintar dibandingkan dengan otakmu.” Plok Plok.. kakek menggetok kepala Sang Tae yang sudah dilindungi helm dengan tongkatnya.

Sang Tae kesal meminta kakek berhenti memukulnya. Bagaimanapun ia sudah menyelesaikan pekerjaannya jadi sekarang ia akan pulang. Tapi kakek melarang Sang Tae pulang, ia menyuruh Sang Tae mengakhiri pekerjaan dengan menyelesaikan tugas di tim las B setelah tentunya setelah Sang Tae menyelesaikan tugas di Tim Las A.

“Untuk apa?” tanya Sang Tae.

“Untuk apa?” Kakek memukulkan tongkatnya beberapa kali ke arah Sang Tae. “Apa aku tak memberitahumu, ini akibat kau membolos bekerja tanpa pemberitahuan, apa kau sudah lupa?”

Sang Tae mengeluh kalau ini namanya kerja rodi. Kakek tanya apa Sang Tae mau tinggal di rumah selamanya. (dipecat gitu maksudnya kali ya)
Sang Tae mengeluh kesal, satu bulan satu bulan satu bulan. Ia harus bertahan selama satu bulan. Ia berkata pada kakek kalau ia akan melakukan pekerjaan itu.

Sang Tae menyemangati dirinya sendiri, “Sebulan lagi dunianya Chun Sang Tae akan dimulai. Bertahanlah sedikit lagi!” Sang Tae kembali melaksanakan tugasnya diawasi Sekertaris Kim.
Hae Joo memanggil kakek, ia menghampirinya. Ia ingin tahu bagaimana keadaan pekerjaan kakaknya akhir-akhir ini. Kakek balik bertanya apa Hae Joo pikir buah kesemek bisa cepat matang dalam beberapa hari. Ia meminta Hae Joo bersabar sebentar lagi.
Sang Tae terlihat menggoda Sekertaris Kim hahaha.
Kakek dan Hae Joo makan siang bersama tapi kakek malah minum-minum. Hae Joo mengambil mangkuk minumannya kenapa kakek malah minum di siang hari. Kakek bilang kalau itulah makanannya. Kakek bertanya apa San tak mengatakaan apapun pada Hae Joo. Hae Joo tak mengerti mengatakan apa.
Kekek berkata kalau San hanya memiliki seorang kakek saja di dunia ini. Tapi sekarang San melepasnya (meninggalkannya). Ia tak tahu bagaimana cucunya ini akan hidup.

Hae Joo tak mengerti apa yang kakek bicarakan. Kakek mengatakan kalau orang tua San meninggal karena dirinya. Hae Joo keget mendengarnya.
Kakek merasa kalau ia mangingat hal itu selama 30 tahun ini hatinya terasa sakit sampai ia ingin mati. Ia merasa San sangat kasihan bahkan San tak memiliki tempat untuk mencurahkan cintanya di dunia ini. Kakek menangis mengatakan kalau ia hanya memberikan beban bagi cucunya. Aku yang paling pantas mati. Kakek menangis meminum minumannya. Hae Joo iba melihatnya.
Jung Woo di kantor kejaksaan membereskan barang-barangnya. Selama masa skorsing ia ingin minta tolong pada bawahannya. “Aku akan kembali dalam satu bulan tapi sebelum itu mengenai ponsel yang memiliki data palsu. Kalau ada yang menggunakannya segera hubungi aku.”

Bawahannya mengerti. Ketika bawahan Jung Woo akan keluar ruangan bersamaan dengan itu Bong Hee dan San datang.
Bong Hee heran melihat Jung Woo beres-beres, apa Jung Woo benar-benar di skors. Jung Woo berkata apa Bong Hee pikir kalau ia sedang bercanda. San tanya kenapa Jung Woo bisa di skors.

Bong Hee mulanya mengira kalau itu hanya alasan Jung Woo saja untuk menjemputnya jadi ternyata itu benar. Ia ingin tahu penyebabnya bukankah Jung Woo ini pria paling bermartabat di Korea.
Jung Woo sebenarnya tak ingin memberi tahu Bong Hee, tapi apa boleh buat. Ia menjelaskan kalau ia mencoba menangkap Jang Il Moon tapi ia malah ditusuk dari belakang oleh Park Chang Hee. Chang Hee melapor pada atasannya kalau ia melakukan korupsi.

Bong Hee jelas geram dengan tindakan Chang Hee. Ia langsung keluar untuk melabrak Chang Hee. Ia mengabaikan panggilan Jung Woo.
San menanyakan apa hal ini terjadi karena ia memberi tahu Jung Woo tentang penggelapan dana pengembangan. Jung Woo mengangguk tapi ia mengatakan kalau ini bukan kesalahan San, ini kesalahannya karena ia sudah salah menilai Chang Hee.
Jung Woo menanyakan untuk apa San menemuinya. San teringat tujuannya menemui Jung Woo. Ia ingin bertanya apa mungkin Jung Woo memiliki buku memorandum yang ditinggalkan almarhum Yoon Hak Soo.
Jung woo tak mengerti, “Memorandum? Apa itu?” Ia tak pernah mendengarnya.

San yang mencoba mencari tahu sedikit kecewa karena Jung Woo tak mengetahui tentang buku itu. Ia kemudian bertanya siapa yang mengurus barang-barang peninggalan Yoon Hak Soo. Jung Woo menjawab kalau yang mengurus itu kakak iparnya (Geum Hee) ia heran kenapa San menanyakan itu. San bilang bukan apa-apa, hanya ada sesuatu yang menganggu pikirannya.
Il Moon dan Chang Hee berada di ruangan Presdir Jang. Il Moon protes karena jabatannya diturunkan, bagaimana mungkin ia menjadi Ketua Tim penelitian dan pengembangan, kenapa jabatannya harus diturunkan.

Presdir Jang bertanya apa Il Moon tak tahu alasannya, berapa banyak kerugian yang sudah Il Moon timbulkan terhadap perusahaan. Semua pemegang saham sudah tahu tentang masalah itu. Kalau ia tak membuat Il Moon bertanggung jawab apa kata mereka nanti. Tapi Il Moon tetap protes.

Presdir Jang meminta Il Moon menganggap ini sebagai bahan perenungan dan menyiapkan diri untuk kesempatan selanjutnya. Ia ingin Il Moon memulai lagi dari bawah.
Tiba-tiba pintu terbuka, Bong Hee masuk tanpa permisi. Ia marah pada Chang Hee dan langsung mencengkeram baju Chang Hee. Dengan suara tinggi ia bertanya apa Chang Hee ini manusia. Presdir Jang bertanya apa yang terjadi.
Bong Hee tak menjawab pertanyaan Presdir Jang, ia bertanya pada Chang Hee, “Mau bertindak seberapa jauh? Menyingkirkan wanita yang kau kencani selama 15 tahun apa itu tak cukup. Apa kau sekarang menikam mantan atasanmu? Dengan bertindak sejauh itu apa imbalan yang kau dapatkan?”
Chang Hee menyingkirkan tangan Bong Hee. Ia mengatakan kalau semua itu untuk perusahaan. Ia bertanya Bong Hee ini bagian dari perusahaan pembangunan kapal Cheon Ji bukan.
Bong Hee yang marah menyahut, “Orang bilang kita harus mengenal orang itu sangat lama baru akan mengetahui sifatnya. Apa kau manusia seperti ini?” Ia pun tak sudi lagi bekerja di Cheon Ji, mulai sekarang ia bukan lagi pegawai perusahaan ini. Ia meminta Presdir Jang memecatnya atau kalau tidak maka ia sendiri yang akan keluar dari perusahaan ini.

Bong Hee memperingatkan Chang Hee, “Saat kau melihatku di jalan sebaiknya kau cepat-cepat lari. Lain kali kalau aku melihatmu, kau mungkin saja akan mati setelah kuinjak dengan sepatu hak tinggiku.” Bong Hee keluar dari ruangan Presdir membanting pintu.
Chang Hee bersama Il Moon menemui pegawainya. sebagai pimpinan mereka Chang Hee mengumumkan perubahan jabatan baru. Mulai hari ini Direktur Jang Il Moon diturunkan jabatannya menjadi Ketua Tim penelitian dan pembangunan dan mulai sekarang Il Moon akan berbagi ruangan dengan pegawai lain.
Il Moon jelas protes apa Chang Hee sedang bercanda, “Apa kau bilang kalau aku tak akan memiliki ruanganku sendiri?”
Chang Hee mengabaikan perkataan Il Moon, ia menyampaikan pada pegawainya kalau Ketua Tim Jo Min Kyung diturunkan jabatannya menjadi Wakil Ketua Tim dan Wakil Yang Di akan diturunkan menjadi pegawai tingkat dasar. Alasannya adalah karena kedua orang ini membantu Il Moon memalsukan laporan mengenai pengembangan azimuth thruster.
“Dan untuk Chun Hae Joo....” Chang Hee diam sejenak, “Dia mengundurkan diri karena alasan pribadi.” (ah bo’ong banget) Chang Hee kembali ke ruangannya.

Il Moon berteriak marah. Il Moon kesal dan menyingkirkan tumpukan kertas yang ada di meja.
<Baling2 San. Baling2 Hae Joo>
San menemui Hae Joo di pabrik. Ia membawa contoh baling-baling dan bertanya apa ini sambil melihat-lihat model baling-baling buatan Hae Joo. Bukankah Hae Joo bilang ingin membuat model baling-baling dengan tangan jadi ia berfikir kalau ini akan membutuhkan waktu yang lama. Apa Hae Joo hanya membuatnya secara kasar.
Hae Joo melihat model baling-baling buatan San, “Kau bilang kau akan menggunakan mesin tapi sepertinya kau menjalankan mesinnya secara asal-asalan.” Ia merasa kalau model baling-baling buatan San ada yang kurang.
San tertawa, bagaimana mungkin tangan Hae Joo bisa mengalahkan akuratnya mesin. Hae Joo membalas, bagaimana mungkin mesin bisa merasakan sensitivitas seperti manusia. Ok san pun ingin membuktikannya tak perlu berargumen panjang lebar. Hae Joo setuju.
Mereka pun melakukan Cavitation Test, suatu simulasi mini dari jalannya design baling-baling pada kondisi normal untuk menilai efek dari kavitasi. (ga ngerti kan? Sama haha)
Petugas menyampaikan bahwa di tempat yang sama, bentuk yang sama dan jumlah gelembung yang terbentuk, baling-baling ini akan mudah terkikis.
Hae Joo : “Jadi ini tidak bisa bertahan pada kedalaman air dan ombak, ini tak berfungsi.”
San : “Diameter dari baling-baling otomatis di design sesuai dengan pitchnya. Rasio materialnya padahal sama jadi saat ini tak ada ketentuan penyebabnya.”

(pitch : sudut perputaran dari mata baling-baling yang menunjukan kemampuan jarak tempuh dari satu putaran penuh baling-baling. Ga ngerti? Sama haha) Sumpah saya ga ngerti, tapi sepertinya keduanya masih gagal ya.
San membahas design baling-baling di kapal pesiarnya bersama Hae Joo. San berkata kalau semua pilihan yang ada sudah gagal, ini sangat gawat. Ia jelas kecewa.
Hae Joo berkata kalau keduanya baru saja memulai kenapa San sudah mau menyerah. Kalau langsung berhasil sejak awal bukankah malah membosankan.

San berkata kalau ia respek terhadap sikap penuh harapan Hae Joo yang sia-sia itu. Tapi ia juga tak bisa menerima yang namanya kegagalan meskipun ini hanya harga dirinya.
Hae Joo tanya kenapa, apa San takut reputasi San sebagai si jenius bisa tercoreng. San berkata bagaimapun juga yang Hae Joo buat dengan tangan Hae Joo lebih bertahan lama. Ia merasa kalau Hae Joo memang terlahir dengan bakat.
Hae Joo memandang kedua tangannya, “Terlahir dengan bakat? Aku punya pengalaman.” Kata Hae Joo. Ia bekerja di bagian produksi dalam waktu yang sangat lama. Ia merasa pasti ada yang keduanya lewatkan dalam membuat model baling-baling ini.

San memberi tahu kalau besok pabrik tutup jadi setelah istirahat ia mengajak Hae Joo memulai lagi.
Hae Joo mengsulkan bagaimana kalau keduanya jalan-jalan besok.

“Apa?” San kaget dengan yang didengarnya.

“Aku bilang ayo jalan-jalan besok.” Hae Joo mengulang ajakannya.
San tertawa, “Apa itu? apa sekarang ini april mop?” San mengira Hae Joo akan membohonginya.
“Kau tak sakit kan?” San tak percaya Hae Joo mengajaknya jalan-jalan. Ia menyentuh dahi Hae Joo.

“Aku serius.” kata Hae Joo. Ia mengajak San piknik besok. “Bagaimana?"

“Apa kau serius?”

Hae Joo mengangguk.
“Sungguh?”
“Iya!”
“Awas lho ya. Kau mati kalau kau bohong!”

“Ah keterlaluan, bukankah yang suka berbohong itu kau? Kalau kita mau memulai kembali kita harus mengosongkan pikiran kita.” ucap Hae Joo.
Yes yes yes... San kegirangan. “Hei kau harus datang sendiri. Gurumu ini akan menyiapkan semuanya dari A sampai Z. Oke?”
Hae Joo tertawa memberi tanda Ok.

(Alamak lucu pisan liat San pas bilang Yes yes yes)
Geum Hee yang tengah merangkai bunga mendapat laporan dari pelayan kalau ada surat yang ditujukan untuk Geum Hee. Geum Hee menerimanya dan menyuruh penjaga itu keluar. Geum Hee membuka dan membacanya. Hmm sepertinya ini hasil tes DNA.
Tiba-tiba Il Moon datang mengagetkan Geum Hee. Geum Hee heran kenapa Il Moon pulang lebih awal. Il Moon berbasa-basi mengatakan tiba-tiba ia ingin melihat wajah ibunya.

Il Moon bertanya apa itu yang dipegang ibunya. Geum Hee bilang bukan apa-apa. Ia bertanya apa Il Moon mau makan malam di rumah. Il Moon menjawab tidak karena ia ada janji jadi ia akan keluar.

Il Moon melihat sikap gugup dan cemas ibunya, “Aigoo apa ibuku jadi seperti ini karena aku? Wajahmu terlihat tak sehat. Minumlah ramuan herbal untukmu.” Geum Hee yang terlihat gugup mengucapkan terima kasih atas saran Il Moon.
Il Moon naik menuju kamarnya. Ia berhenti di tangga untuk melirik apa yang dilakukan ibunya. Geum Hee membuka kembali surat yang ia terima.

Untuk pengakuan atas anak yang bernama Chun Hae Joo dengan ibu kandung Lee Geum Hee menyatakan bahwa Lee Geum Hee bukan ibu kandung.
Geum Hee lemas ternyata tes mengatakan kalau Hae Joo bukan putri kandungnya. Il moon masih menatap ibunya (hmm apa ada kemungkinan kalau Il Moon merubah hasil tes itu)
Geum Hee berada di tepi pantai tempat yang katanya ia kehilangan Yoo Jin. Ia menggenggam sepatu merah kecil Yoo Jin. Ia mengingat hari ketika ia kehilangan Yoo Jin.
Geum Hee menangis mengingat kenangan buruk itu, “Ayah Yoo Jin aku minta maaf. Aku merasa sangat bersalah padamu. Aku pikir dia masih hidup. Aku sudah berbuat banyak dosa padamu. Aku akan menebus semua dosaku ketika aku meninggalkan dunia ini. Bersama Yoo Jin, hiduplah dengan baik!”
Geum Hee melempar jauh-jauh sepatu kecil itu ke tengah laut. Ia akan melupakan kemungkinan putrinya masih hidup. Ia akan menerima dengan ikhlas bahwa putrinya menang sudah tak ada. Geum Hee menangis pilu.
Hae Joo menaiki motornya. Ketika ia melintasi di jalan, ia melihat Geum Hee berjalan melamun. Ia menghentikan laju motornya, “Nyonya!” panggil Hae Joo membuyarkan lamunan Geum Hee.
Hae Joo menghampiri Geum Hee bertanya bagaimana bisa Geum Hee berada disini. Geum Hee balik bertanya lalu bagimana dengan Hae Joo kenapa ada disini. Hae Joo berkata kalau ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Keduanya bicara berdua di tepi tebing. Geum Hee mengatakan kalau disinilah tempat dimana ia kehilangan putrinya. Ketika itu Yoo Jin baru saja merayakan ulang tahun yang pertama, dia meninggal disini. Geum Hee mengatakan kalau ia mengira bahwa Hae Joo itu Yoo Jin. Ia memiliki perasaan yang kuat hingga ia berfikir kalau Hae Joo adalah Yoo Jin. Ia menilai ada yang tak beres pada dirinya sampai beranggapan seperti itu. Tapi bagaimanapun tak peduli berapa lama waktu berlalu bagaimana bisa seorang ibu tak mengenali anaknya sendiri. Hae Joo menatap sedih ibu kandungnya ini.
Geum Hee kembali berkata ketika Hae Joo masih kecil bahkan ia pernah menampar Hae Joo. betapa bodohnya ia sudah melupakan hal itu. Hae Joo bilang kalau ia juga sudah melupakan kejadian itu. Geum Hee minta maaf ia hanya merasa bersalah pada Hae Joo. Hae Joo meminta Geum Hee jangan merasa sedih, bukankah Geum Hee memiliki In Hwa.
Hae Joo berkata seandainya Yoo Jin masih hidup dia mungkin akan tumbuh dengan baik, hidup dengan sehat dan tak akan melupakan ibu yang melahirkannya. Dia pasti baik. Mata Hae Joo berkaca-kaca. Geum Hee membenarkan dan bertarima kasih apa yang Hae Joo sampaikan terdengar menyenangkan.

Air mata Geum Hee mengalir di pipinya. Hae Joo melihat air mata itu dan meminta Geum Hee jangan terlalu bersedih. Ia berpesan agar Geum Hee menjaga kesehatan karena ia melihat keadaan Geum Hee tak terlihat begitu baik. Geum Hee mengerti ia akan menuruti nasehat Hae Joo, ia minta Hae Joo datang berkunjung ke rumahnya lagi.
Hae Joo menunduk sedih. Geum Hee menyadari kalau Hae Joo tak bisa leluasa berkunjung ke rumahnya karena Chang Hee, ia pun minta maaf. Ia ikut bersedih atas kandasnya hubungan Hae Joo dengan Chang Hee. Hae Joo menitikan air mata kesedihannya.

Geum Hee mengusap air mata Hae Joo, “Jangan menangis esok akan lebih baik.” Ucap Geum Hee memberi semangat seperti seorang ibu menghibur putrinya. Hae Joo menjawab ya dan mempersilakan Geum Hee pulang lebih dulu. Geum Hee pun pulang lebih dulu meninggalkan Hae Joo sendirian disana.
“Ibu...” panggil Hae Joo lirih.
Langkah Geum Hee terhenti ia mendengar sesuatu. Ia berbalik menatap Hae Joo, “Apa kau mengatakan sesuatu?”

Hae Joo mengusap air matanya dan bilang bukan apa-apa. Geum Hee pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
“Maafkan aku.... Maafkan aku.. Ibu...”
Il Moon dan Jung Woo bertemu di sebuah kafe. Il Moon menanyakan keperluan Jung Woo ingin bertemu dengannya. Jung Woo mengatakan kalau urusan keduanya belum selesai.

Il Moon tertawa remeh, bukankah Jung Woo sekarang sedang di skors. Jung Woo bilang kalau yang akan dibicarakan ini bukan tentang dirinya melainkan Il Moon.
Jung Woo mengungkapkan kalau ada banyak kasus dalam sejarah yang mirip seperti ini. Untuk mendapatkan tahta, mereka harus siap untuk melepaskan orang tua dan saudara di waktu yang sama.

Il Moon berusaha menebak apa Jung Woo bermaksud untuk mencari bukti tentang korupsi ayahnya. Jung Woo mengingatkan kalau ia akan kembali ke jabatannya dalam waktu sebulan tapi berapa tahun yang Il Moon butuhkan untuk mendapatkan jabatan tertinggi. Apa Il Moon pikir Presdir Jang akan mengakui kemampuan Il Moon.

Jung Woo tertawa kalau Chang Hee-lah yang akan mendapatkan posisi itu. Ia meminta Il Moon mempertimbangkan baik-baik dalam sebulan ini. Hubungi dirinya kalau Il Moon berubah pikiran.
Il Moon berfikir, ia tentu saja tak mau Chang Hee mendapatkan jabatan tertinggi di Cheon Ji mengalahkan dirinya. Jung Woo berdiri dan menepuk bahu Il Moon. Ia pergi dari sana.
Young Joo berada di restouran menunggu seseorang. Orang itu pun datang, siapa lagi kalau bukan Il Moon. Il Moon langsung duduk di depan Young Joo dan bertanya apa akhirnya Young Joo sudah mengambil keputusan bahkan Young Joo yang meneleponnya lebih dulu.
Young Joo mengembalikan barang-barang pemberian Il Moon. Ia mengatakan kalau kakaknya (Hae Joo) sudah tahu semuanya. Il Moon menilai Young Joo bodoh kenapa menyimpannya di rumah seharusnya meletakannya di tempat penyimpanan. Young Joo tak mau ia merasa adiknya akan lebih bermasalah daripada kakaknya.
Pelayan mengantarkan makanan yang dipesan Young Joo. Il Moon heran melihat makanan pesanan Young Joo. Young Joo bilang kalau ini untuk merayakan pengembalian tas dan jam tangannya jadi ia memesan makanan yang ia inginkan lagi pula bukankah Il Moon yang akan membayarnya.
Il Moon tertawa dan mengeluarkan kotak hadiah untuk Young Joo. young joo membukanya dan tercengang, isinya kalung. Ia bertanya apa kalung ini asli. Il Moon balik bertanya apa Young Joo pikir ia akan memberikan barang palsu. Young Joo tersenyum senang tapi sejenak ia cemberut, kenapa Il Moon berusaha menggodanya.
Il Moon mengatakan itu karena ia menyukai Young Joo. “Aku bahagia ketika melihatmu. Hidupku cukup membuatku tertekan.” Young Joo heran bagaimana bisa orang yang memiliki banyak uang seperti Il Moon bisa hidup tertekan.

Il Moon bilang pokoknya ada yang seperti itu dan ke depannya ia tak mau lagi hidup tertekan. Ia akan hidup sesuai keinginannya. Ia akan menjadi atasan dengan posisi tertinggi. Young Joo tak mengerti apa maksud perkataan Il Moon. Il Moon bilang bukan apa-apa. Ia menyuruh Young Joo segera makan sebelum makanan itu dingin.
Keluarga Jang makan malam bersama Gi Chul dan Chang Hee. Geum Hee berharap ke depannya ia bisa makan malam seperti ini lagi. Gi Chul tak percaya benarkah ia dan Chang Hee bisa makan malam bersama seperti ini.

Presdir Jang bilang tentu saja bukankah istrinya sudah mengatakan itu. Geum Hee berkata pasti sulit bagi dua pria seperti Gi Chul dan Chang Hee untuk makan bersama apalagi Chang Hee sibuk dengan pekerjaannya. Ia menebak pasti Gi Chul makan sendirian.
Gi Chul tentu saja senang, ia merasa kalau Chang Hee juga pasti menyukai makan bersama seperti ini. Chang Hee mengucapkan terima kasih tapi menurutnya Geum Hee tak perlu khawatir padanya dan juga ayahnya tentang makanan.
In Hwa tanya kenapa, apa Chang Hee tak mau makan bersama keluarganya. Geum Hee kembali mengucapkan terima kasih karena bantuan Chang Hee terhadap Il Moon. Ia sudah melihat Chang Hee sejak masih kecil jadi kenapa Chang Hee berfikir seperti itu. Gi Chul mengingatkan putranya tak sopan kalau menolak kebaikan orang.

Presdir Jang membenarkan bukankah mereka sudah lama bersama kenapa Chang Hee bersikap seolah keluarganya ini orang asing. Geum Hee meminta semuanya segera makan sebelum makanannya dingin.
Park Gi Chul mengomentari masakannya terlalu asin dan memberi tahu kalau Chang Hee tak suka dengan makanan asin, dia suka makanan yang sedikit hambar karena itu baik untuk kesehatan. Chang Hee bilang tak apa-apa, jadi jangan khawatir. (huh tinggal makan doank cerewet banget)
In Hwa mencoba mecicipi makanannya dan benar memang terasa asin. Ia mengatakan kalau ia juga tak suka makanan asin, ia menyuruh pelayan membuatkan salad untuknya. Gi Chul tersenyum-senyum ternyata In Hwa juga tak suka makanan asin seperti putranya.

(apa beneran In Hwa ga suka makanan asin, apa dia cuma pengen sama-samain kesukaan n ketidaksukaan terhadap makanan)
San di apartemennya sedang mencoba mencari resep masakan yang bisa dijadikan bekal pikniknya bersama Hae Joo. Ia tampak riang dan bersiul-siul sambil mencari resep di internet.

San pun mencoba membuat masakannya. Aih... Chef Kang San hehe.
San membayangkan asyiknya berpiknik bersama Hae Joo.
San dan Hae Joo duduk berdua di atas tikar menikmati indahnya pemandangan dan udara segar.
Hae Joo mengambilkan makanan dan akan menyuapi San. Hae Joo meminta San membuka mulut, “Oppa buka mulutmu... aaaaaaa.....”

San tertawa dan berkata kalau banyak orang yang melihat. Hae Joo menggoyangkan tubuhnya manja nan imut meminta San membuka mulut.

(Ya ampun ga tahu mengungkapkan tulisannya kayak gimana yang pasti Hae Joo imut banget nih)
San pun membuka mulut menerima suapan Hae Joo.
San melirik nakal. Dengan makanan yang ada dimulutnya San ingin Hae Joo mengambil makanan itu dengan mulut Hae Joo. Hae Joo menggeleng manja tapi San memaksa.
“Kau mau mati ya? Apa kau mau kubunuh sekarang?” Hae Joo menepuk mulut San dengan sumpit.
San tersadar dari khayalannya hahaha.
San tak mau membayangkan yang selebihnya, ia tak mau. “Sampai disitu saja. Kalau aku teruskan dengan orang yang emosian seperti itu, bisa-bisa tulangku patah.”

Hahaha ternyata khayalan doank.

Bersambung di Part 2

20 comments:

  1. hahahaaaaaa lucu bgt waktu san bilang yes yes n waktu san ngayal piknic ma haejo bikin senyum'' menbaca sinopsis nya -flo-

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya lucu banget... ya ampun pokoknya San seperti punya seribu wajah deh... setiap saat ekspresinya berubah hehe..

      apalagi waktu ngebayangin piknik sama Hae Joo, cute banget hehe

      Delete
  2. smakiin seruuuu...
    pengen cepet lhat part 2nya :p

    ReplyDelete
  3. lanjutkan ba anis..
    saya selalu tunggu postan sinopsis my queen sampe tamat
    gomawo

    ReplyDelete
  4. sinopsis part 2 nya donk oenni

    ReplyDelete
  5. hadeuuuhhh... Chang Hee bener2 ya, biar dilihat sama Ihn Wa kalau dia sdh ga cinta lagi sama He Joo, sampe segitunya nampar He Joo, padahal kan dia harus menekan perasaannya juga ya... hhhmmm jadi esmosi nih.
    Untung ada Kang San oppa ha ha ha lumayan buat menghibur

    ReplyDelete
    Replies
    1. berasa pengen gampar Chang Hee bolak balik tapi sayang tar Pipi-nya si Jae Hee luka hahaha....

      Delete
  6. pas baca kang san-haejo, aq senyum2 sndri deh,,,, ;'p
    dTnggu klnjut'n.a. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi.... iya :p

      awas ya senyum2 sendiri tar ada yang liatin dikira yang ga2 lho hahaha...

      Delete
  7. semakin terbantu waktu baca sinopsis dari kaka..
    makasi..semangat nglanjutinnya ya..:)
    kak klo mau streaming may queen biasanya dmn ka??

    ReplyDelete
  8. klo mw nonton online may queen sub indo ad udh epi 30

    ReplyDelete
  9. klo mw nonton online may queen sub indo ad udh epi 30

    ReplyDelete
  10. nggak sabar pengin bca kelanjutan sinopsis nya,,semoga aja mba anis besok bisa post part 2 nya -flo-

    ReplyDelete
  11. sedih liat kakek ;(
    kykx dy merasa bersalah banget...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...