Wednesday, 12 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 23 Part 1

Ibu menemui Geum Hee dan mengatakan kalau Hae Joo itu Yoo Jin. Geum Hee tak mengerti kenapa ibu tiba-tiba berkata seperti itu.
Ibu bertanya apa Geum Hee tak mengerti perkatannya baju kuning yang Geum Hee tunjukan padanya adalah baju yang dikenakan Hae Joo saat ayahnya membawa Hae Joo ke rumah.
Gi Chul yang sangat cemas menilai ibu sudah gila sudah mengatakan omong kosong seperti itu. Gi Chul mengatakan bukankah baju itu milik anak bungsu ibu yang diambil dari suatu tempat.

Ibu menambahkan kalau fotonya juga mirip. Walaupun sudah lama dan meskipun ibu tak pernah mengambil foto Hae Joo ketika kecil ia bukan orang yang bodoh sampai tak bisa mengingat wajah Hae Joo ketika kecil.
Dengan mata berkaca-kaca Geum Hee mengatakan kalau ia sudah memastikan sendiri dengan tes DNA Hae Joo itu bukan Yoo Jin. Ibu meminta baju kuning itu diperlihatkan padanya dan foto itu juga karena ia masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Geum Hee berkata kalau ia sudah membakar foto itu, sekarang ia tak memilikinya lagi. Ia mengungkapkan tentang tes DNA yang dilakukannya terhadap Hae Joo dan hasilnya Hae Joo itu bukan putri kandungnya.
Ibu tak mengerti apa yang Geum Hee bicarakan. Geum Hee kembali mengatakan kalau ia melakukan tes DNA terhadap Hae Joo. Mendengar itu Gi Chul seakan berada di atas angin dan menyuruh ibu keluar dari rumah ini. Tapi ibu tak mau.
Gi Chul beranggapan ibu melakukan ini karena ia menentang hubungan Chang Hee dan Hae Joo. Sudah cukup ibu membuat keributan hari itu dan sekarang ibu malah memiliki nyali berkata kalau Hae Joo putri Geum Hee. Ia memarahi ibu sebenarnya apa tujuan ibu mengatakan itu, apa karena uang.
Ibu tak bisa berkata-kata, ia tak habis pikir pengakuannya tak dipercayai. Ibu pun meninggalkan kediaman keluarga Jang. Ibu jelas heran apa maksudnya ini, kenapa hasil tes mengatakan kalau Hae Joo dan Geum Hee bukan ibu anak. Sebenarnya apa yang terjadi.
Di dalam rumah Park Gi Chul meyakinkan kalau ibu memiliki niat tak baik dengan mengatakan itu. Ia berkata kalau ibu itu bodoh, serakah dan terus-menerus berbohong. Ia pun bertanya apa Geum Hee benar-benar sudah melakukan tes DNA.
Geum Hee menjawab ya. Ia sudah memastikannya kalau itu tidak benar. Ia penasaran apa menurut Gi Chul tes DNA itu salah.

Gi Chul berkata berapa kali sudah ia katakan kalau ketika ibu mengandung Hae Joo ibu berkata kalau dia ingin makan roti dan ia berada disana ketika itu, jadi ia yang pergi membelikan rotinya. Geum Hee mengerti mungkin ia hanya terlalu sensitif. Dengan langkah lemas Geum Hee ke kamarnya.
Gi Chul heran kenapa hasil tes DNA menyatakan kalau Hae Joo bukan Yoo Jin. Apa yang terjadi.
Hae Joo berada di pabrik baling-baling tengah mengelas model baling-baling buatannya. San melihatnya, ia melihat kalau Hae Joo sungguh-sungguh mengerjakannya.
Dalam hati San berkata, “Ayah. Apa yang sangat ayah sukai dari ibu hingga membuatmu meninggalkan segalanya dan membuang semuanya?”
San menghampiri Hae Joo dan membuang wajahnya agar tak melihat percikan api dari alat las yang digunakan Hae Joo. Melihat kedatangan San, Hae Joo menghentikan pekerjaannya.
San melihat model baling-baling buatan Hae Joo dan heran. Apa yang Hae Joo lakukan terhadap baling-baling itu. “Memangnya kau bisa mengelas dimanapun sesukamu?”
Hae Joo mengatakan kalau ia ingin mengurangi karat dan melindungi permukaannya. Jadi ia membuat penutup kecil dan mengelasnya di sambungan. Ia ingin tahu apakah ini akan membuatnya ada perbedaan.
San tak tahu, itu mungkin lebih kuat tapi bukankah hal itu menyebabkan baling-baling bertambah berat. Hae Joo menyahut mungkin saja karena ini dilas dengan besi. Tapi bukankah benda yang berat itu jatuhnya lebih cepat. Jadi dengan bertambahnya berat bukankah akan menambah tenaga dorongnya.
San menyahut itu mungkin saja, sepertinya teori Hae Joo ini bisa menjadi kenyataan. Hae Joo ikut menyahut tentu saja tapi tingkat keberhasilannya masih belum jelas. Tapi tak ada yang tahu kapan keberhasilan itu akan datang, keduanya tertawa.
Chang Hee dan Il Moon membicarakan perekrutan kembali Hae Joo yang diamanatkan oleh Presdir Jang. Il Moon heran siapa yang tahu ternyata Hae Joo akan kembali lagi ke Cheon Ji. Ia memang tak menyukai Hae Joo dan menebak Chang Hee pasti tak nyaman bekerja dengan Hae Joo.
Chang Hee bertanya apa mau Il Moon dengan mengatakan itu. Il Moon berkata kalau azimuth thruster yang ingin dibuat oleh Kang San biar ia yang menanganinya.

Chang Hee ingin tahu apa yang ingin Il Moon lakukan. Il Moon mengatakan karena azimuth thruster tak bisa dibuat karena dirinya maka ia yang akan membereskannya. Jadi Chang Hee jangan ikut campur, ia ahli dalam hal seperti ini.
Chang Hee pun setuju, ia menyerahkan masalah ini pada Il Moon. Hmmm apa ya yang akan dilakukan Il Moon, yang pasti bukan hal baik untuk San dan Hae Joo.
San dan Hae Joo masih mempelajari baling-baling mereka. San mengatakan kalau baling-baling buatan Hae Joo yang sudah dimodifikasi ini bertahan lebih lama daripada baling-baling sebelumnya. Tapi wajah San masih terlihat kurang puas dan kecewa.

Hae Joo berkata kalau ia akan bekerja lebih keras lagi, baling-baling ini bertahan 8 detik lebih lama dari baling-baling sebelumnya. Kalau ini bisa bertahan lebih lama maka ini akan berhasil suatu saat nanti.
San berkata kalau ini bukanlah hal yang hanya bisa diselesaikan dengan bekerja keras. Tapi Hae Joo tak peduli walaupun ia harus mengerjakannya sampai 1000 atau 10rb kali ia akan tetap melakukannya. San tertawa apa Hae Joo pikir Hae Joo ini sekaya Jang Do Hyun. Hae Joo tak mengerti apa maksud San.
San mengatakan kalau uang pinjaman yang digunakan untuk pembelian pabrik baling-baling belum lunas sejak ia membelinya. Apa Hae Joo tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap model baling-baling. Biaya penyewaan laboratorium penelitian juga tidak murah.

Hae Joo : “Apa sesulit itu?”
San kembali tertawa membenarkan. Ia mengeluh punggungnya sakit karena keseleo.
Hae Joo minta maaf ia tak tahu kalau biaya pembuatan baling-baling ini sangat mahal. ia memukul kepalanya karena hanya memikirkan dirinya sendiri.
San menyahut ia bisa apa karena Hae Joo sangat ingin membuatnya jadi ya lakukan saja. Lakukan sebanyak yang Hae Joo mau. San mengajak Hae Joo makan.
San memisahkan daging dari tulang dengan bantuan sumpit dan sendok. Hae Joo duduk di depannya.
San meletakan daging ke mangkuk Hae Joo. Ia berfikir kalau potongan daging ini akan sulit dimakan jadi ia membantu Hae Joo. (buka daging sih tulang iga deh)
Hae Joo mengambil tulang iga itu dengan tangan dan langsung melahapnya.
San kaget dengan cara makan Hae Joo. (ya ampun kok cewek makannya gitu. Mungkin San mikirnya gitu haha)
Hae Joo mengambil kimchi dan melahapnya tanpa menggunakan sendok atau sumpit. San bengong mengaga melihat cara makan Hae Joo.
Hae Joo bahkan meletakan potongan kimchi itu ke mangkuk San agar San mencobanya. Menurut Hae Joo Kimchi seperti ini harus disobek dengan tangan baru dimakan dan rasanya lebih enak. Apa San mau memakannya, San menyembunyikan potongan kimchi itu ke sambal dan tak memakannya hahaha.
Ya ampun lihat ekspresi wajah San hehe.
Hae Joo bahkan menjilati jari-jarinya yang penuh dengan bumbu kimchi.
“Aish... Jorok sekali!” sahut San melihat Hae Joo ngemut jari yang penuh dengan bumbu kimchi.
“Lap tanganmu dengan ini!” San mengambilkan lap.

Hae Joo berkata kalau benda itu dicuci bersama dengan benda lain jadi tak terlalu higienis. San berkata kalau lap ini lebih baik daripada Hae Joo menjilati jari yang penuh dengan kuman. Hae Joo bilang kalau ia sudah mencuci tangannya.

San : “Benarkah?”
San membersihkan tangannya dengan lap, “Kalau begitu bagaimana dengan tanganku?” San ingin Hae Joo menjilati jemarinya hahaha.
Plok... Hae Joo memukul kepala San dengan sendok. Ia kemudian mengambil tulang iga makanannya, “Seperti tulang ini apa kau mau kubuat seperti ini, hah?”
San : “Aish... gadis seperti apa yang bertingkah begini?” Hahahahaha.
Ibu masuk ke kamar Jung Woo dan memandang foto yang ada di kamar itu. Hae Joo juga masuk ke kamar itu mengagetkannya. Ibu segera menyembunyikan foto yang ia ambil. Hae Joo menanyakan apa yang ibunya lakukan di kamar ini.
Hae Joo melihat ibu menyembunyikan sesuatu. Ia minta berikan itu padanya. Hae Joo merebut foto itu dan bertanya mau kemana ibunya dengan membawa foto ini.
Hae Joo dan ibu keluar dari kamar Jung Woo dan bicara di kamar Hae Joo. Ibu mengaku kalau ia pergi menemui Geum Hee. Hae Joo bertanya kenapa ibunya kesana. Ibu berkata itu karena ia ingin mengembalikan Hae Joo ke ibu kandung Hae Joo.

Hae Joo kaget apa mungkin ibu membicarakan dirinya pada Geum Hee. Ibu membenanrakan. Hae Joo marah. Ibu berkata kalau ia memberitahukan itu pada Geum Hee. Tapi menurutnya Geum Hee sudah gila karena sekarang Geum Hee bilang kalau Hae Joo bukan anak kandungnya. Dia bahkan sudah melakukan tes DNA.
“Benarkah?” Kalau begitu mungkin ibunya yang salah tentang Geum Hee adalah ibu kandungnya. Ibu meyakinkan meskipun bukan dirinya yang melahirkan apa Hae Joo pikir ia tidak mengingat Hae Joo yang ada di foto itu. Ia akan membawa foto ini pada Geum Hee untuk memastikan kebenarannya.

Hae Joo menilai kalau semuanya sudah selesai saat Geum Hee menyangkalnya. Apa gunanya ibu memastikan hal itu pada Geum Hee.
Ibu berkata karena Hae Joo tak mau pergi kesana maka ia yang akan membawa Hae Joo kesana. Ibu meminta Hae Joo berfikir, apa Hae Joo tidak merasa sedang dipermainkan. “Chang Hee memecatmu dari pekerjaan yang kau cintai. Apa kau tak marah tentang itu?” Ia akan membawa Hae Joo kesana sampai Hae Joo bisa meremukkan orang-orang itu. Ibu mengatakannya sangat kesal.
Hae Joo mengatakan kalau ia bisa bekerja di perusahaan lain dan sekarang ia sedang bekerja. Ia berjanji akan menafkahi keluarga jadi ibunya tak perlu khawatir. Ia minta ibu jangan punya pikiran seperti ini lagi.

Ibu heran untuk apa keluarganya bergantung hidup pada Hae Joo. Kalau Hae Joo tinggal bersamanya hidup Hae Joo sudah bisa ditebak (menderita) “Untuk Young Joo dan Jin Joo, sampai mereka lulus kuliah dan menikah kau harus mengorbankan dirimu. Dan Sang Tae meskipun dia punya anak nanti, dia tetap saja tak akan bisa dewasa. Tapi kalau kau hidup dengan baik di keluarga kaya, aku bisa mendadak minta tolong kalau ada keperluan.”

Hae Joo kesal meminta ibunya menghentikan ini. Kalau ia pergi ke keluarga kaya apa menurut ibu ia akan bahagia. Bukankah Nyonya Cheon Ji itu membesarkan dua orang anak. Apa ibunya pikir ia akan bahagia disana hanya karena uang. Seperti yang ibu bilang, kalau ia pergi kesana dan melihat Chang Hee setiap hari menurut ibu bagaimana perasaannya nanti. Ia sedang berusaha keras melupakan Chang Hee tapi kenapa ibu malah ingin menaruhnya ke neraka. Hae Joo berkata kalau ibu melakukan ini padanya berarti ibu sudah menolak kehadirannya. Ia tak ingin ditolak oleh orang dua kali. Ibu bekata kalau ia tak menolak Hae Joo.
Hae Joo mengeraskan suaranya kalau bukan begitu lalu apa namanya, bukankah ia dan ibu sudah bersama selama 27 tahun. Ini namanya penolakan kalau ibu menyuruhnya pergi ke tempat lain. Kalau ibu terus bersikap seperti ini lebih baik ia melarikan diri saja. Ia akan pergi ke Geo Je dan hidup sendirian. Hae Joo menangis kenapa ibu bersikap begini. Ibu ikut menangis dan minta maaf. Ia hanya merasa kasihan pada Hae Joo.
Hae Joo meyakinkan kalau ia akan lebih menyedihkan kalau ibu menolaknya. Kalau ibu mau begini kenapa ibu tak membuangnya saja ketika ayah meninggal. Kenapa ibu harus bersamanya selama ini. Ibu menangis mengatakan maaf. Ibu memeluk Hae Joo.
Geum Hee kembali membaca dokumen tes DNA yang menyatakan kalau Hae Joo bukan putri kandungnya. Ia benar-benar bingung kenapa tes ini mengatakan hal yang tidak sama seperti yang dikatakan ibu. Yang manakah yang salah. Geum Hee menghubungi dokter Kim. Ia bertanya apa yang namanya tes DNA bisa salah.

Belum sempat Geum Hee mendapatkan jawaban dari dokter Kim, tiba-tiba Il Moon datang. Geum Hee langsung menutup teleponnya.
Geum Hee menyapa Il Moon menanyakan apa Il Moon mau makan malam. Il Moon bersikap cuek tapi ia melirik ke meja tempat ibunya meletakan dokumen hasil tes DNA.
Melihat arah pandang Il Moon, Geum Hee segera membereskan dokumen itu dan menyimpannya ke laci meja. Il Moon bertanya bisakah ia bicara dengan ibunya.
Keduanya bicara ruang makan. Geum Hee membawakan minuman untuk Il Moon. Geum Hee tanya ada apa. Il Moon berkata kalau ia ingin meminta maaf. Sepertinya ia sudah banyak berbuat sesuatu yang tak seharusnya.
Seperti yang ibunya bilang kalau ibunya ini sudah bersusah payah membesarkan dirinya dan In Hwa. Setelah ia dibebaskan dari tahahan ia sadar bahwa hanya Geum Hee yang peduli padanya, tapi alasan ia sangat marah pada Geum Hee adalah karena Geum Hee berusaha mencari putri Geum Hee yang bernama Yoo Jin.
Geum Hee ingin tahu bagaimana Il Moon tahu tentang ini. Il Moon berkata kalau ia kebetulan mendengar perbincangan ibunya dengan Bong Hee.
Il Moon tak punya pilihan selain merasa gelisah. Ayah yang selalu memakinya dengan sebutan pecundang di rumah dan di kantor. Kalau ibunya juga seperti itu... wajah Il Moon terlihat sedih.
Geum Hee menggenggam tangan Il Moon meminta maaf, ia tak pernah tahu itu. Il Moon berkata bagaimanapun ibunya meninggal karena Geum Hee. Geum Hee tak tahu harus berkata apa, “Dulu setelah aku kehilangan putriku aku berusaha bunuh diri. Waktu itu yang menyelamatkanku dan menjagaku di rumah sakit adalah ayahmu. Aku tak tahu kalau saat itu ibumu sakit parah. Kalau aku tahu, aku tak akan bersamanya. Setelah anakku meninggal aku tak ingin hidup.”
Il Moon meminta ibunya tak perlu membuat alasan karena walau bagaimana pun ibunya sudah meninggal. “Dan Ibu masih saja mencari anak yang seharusnya sudah meninggal.”
Il Moon marah berdiri menggebrak meja. Geum Hee berusaha menenangkan Il Moon, ia berusaha menjelaskan.
Tapi Il Moon tak peduli, “Bagaimanapun aku tak pernah mendapatkan perhatian dari ayah. Tapi apa yang akan ibu lakukan seandainya In Hwa mengetahui ini? Aku juga ingin diakui sebagai putramu. Apa ibu tahu betapa sulit dan kesepiannya aku?”
Il Moon terduduk sedih, Geum Hee menangis melihatnya. Ia memeluk Il Moon penuh kasih.
Geum Hee kembali minta maaf sudah membuat Il Moon merasa kesepian dan hanya memikirkan dirinya sendiri, ia berjanji kalau hal ini tak akan terjadi lagi.
Apa Il Moon tulus mengatakan semua itu. Hm... sepertinya tidak karena tatapan matanya berkata lain. Sepertinya itu ucapan palsu yang keluar dari mulut Il Moon.
Jung Woo ke kantor kejaksaan padahal ia masih dalam hukuman. Ia bertanya ada apa sampai bawahannya menguhubunginya. Bawahannya minta maaf karena harus menghubungi Jung Woo, ini karena ada beberapa laporan. Jung Woo menerima berkas laporannya.

Bawahan Jung Woo menyerahkan laporan tentang ponsel dengan data palsu. Ia sudah menyelidinya disemua biro kumonikasi tentang penggunaan ponsel itu selama setahun penuh ia sudah mencari tahu detailnya.
Jung Woo membaca data laporan itu dan salah satunya ada nama perusahaan pembangunan kapal Cheon Ji. Ponsel itu pernah digunakan di lingkungan perushaan Cheon Ji. Jung Woo terkejut.
Bawahannya menjelaskan kalau ada 3 jejak penggunaan ponsel itu disana tapi karena lokasi itu sangat besar, ia tak tahu tepatnya dibagian mana di perusahaan Cheon Ji dan siapa yang menggunakannya.
Presdir Jang makan dan minum bersama Chang Hee di sebuah restouran. Presdir Jang heran kenapa Chang Hee tak minum, ia merasa kalau dirinya dan Chang Hee sangat sibuk hingga tak sempat minum bersama. keduanya bersulang.
Chang Hee berkata ia belum terbiasa dalam bidang azimuth thruster yang sedang dikembangkan Kang San. Meskipun mereka berhasil dan kalau kita memasangnya ke kapal, bukankah itu akan memakan waktu yang lama, kenapa Presdir bersikeras untuk terlibat dalam situasi ini.
Presdir Jang memiliki alasan untuk melakukannya, “Hanya kau yang boleh mengetahui hal ini. Karena kita sudah mendiskusikan hal ini, perusahaan minyak ingin melakukan pengeboran domestik. Masalah kewenangan siapa yang berhak melakukan penambangan minyak.”

Chang Hee : “Jadi, apa anda tak ingin menggunakannya pada kapal pengebor yang ini?”

Presdir Jang membenarkan. Hal ini untuk urusan jangka panjang. Presdir Jang bertanya apa Chang Hee ada masalah kalau Hae Joo kembali ke perusahaan. Chang Hee menjawab tak ada masalah. Presdir Jang menilai itu bagus.
Kemudian Presdir Jang bertanya sambil menatap tajam Chang Hee, “Apa Kau tahu kenapa aku mempertahankanmu. Il Moon, anak itu dia memiliki banyak kekurangan. Yang aku inginkan adalah supaya kau melindunginya dengan baik. Selama kau tak mengincar nomor 1. Penderitaan yang dilalaui ayahmu dan dirimu aku akan menggantinya secara penuh. Apa kau mengerti perkataanku?”
Chang Hee : Ya.

Presdir Jang : “Kukatakan sekali lagi, kau tak bisa menjadi nomor 1. Kalau aku melihat ada tanda-tanda seperti itu. Kau tak akan kumaafkan.”

Chang Hee : “Ya, aku akan mengingatnya.”

(Nomor 1 maksudnya kursi Presdir Cheon Ji. Chang Hee ga boleh ngincer kursi Presdir Cheon Ji karena itu akan menjadi milik Il Moon. Tapi target Chang Hee itu untuk menjatuhkan Presdir Jang dan mengambil alih Cheon Ji. Hmmm...chang hee punya banyak lawan nih)
Chang Hee berjalan memapah Presdir Jang yang sedikit mabuk. Presdir Jang pun masuk mobil dan pulang lebih dulu.
Usai menemani Presdir Jang minum, Chang Hee kembali minum di bar seorang diri.
Chang Hee mengingat kebersamaannya yang bahagia dengan Hae Joo, ketika itu ia mencium pipi Hae Joo dengan mesra. Tapi juga ia mengingat hal buruk yang sudah ia lakukan di pipi yang sama terhadap Hae Joo, bukan hal yang menyenangkan tapi hal yang menyakitkan.
In Hwa ternyata ada di bar yang sama dimana Cheng Hee berada. Ia bersama dua orang temannya. Melihat Chang Hee ada disana In Hwa menyuruh kedua temannya pulang lebih dulu. Temanya heran apa In Hwa mau minum lagi. In Hwa bilang tak mau pokoknya kedua temannya ini cepat pulang saja.
In Hwa tersenyum dan merapikan rambutnya dulu sebelum menghampiri Chang Hee.
In Hwa duduk di samping Chang Hee menanyakan alasan Chang Hee minum sendirian.
Chang Hee menoleh ke arah In Hwa dan berkata itu karena In Hwa. In Hwa tak mengerti memangnya apa yang sudah ia lakukan.
Tatapan mata Chang Hee sendu dan berkata lirih, “Hatiku dipenuhi olehmu. Tapi aku masih anak seorang pelayan dan kau tetap masih diatas sana.”

In Hwa terdiam, Chang Hee berkata kalau keluarga In Hwa tahu tentang orang seperti dirinya, siapa yang akan menerimanya. “Seperti yang kau katakan aku seharusnya senang karena aku tak ditendang dari perusahaan atau dari rumah. Tentu saja asalku bukan masalah. pria yang berpacaran selama 15 tahun orang tua mana yang akan menyetujuinya?”
In Hwa : “Memang apa masalahnya? Aku juga pernah menyukai orang dalam waktu yang lama.”
In Hwa penasaran seberapa jauh hubunganmu dengan Hae Joo sengan Chang Hee. Chang Hee yang akan menuangkan minuman langsung terdiam begitu mendengar nama Hae Joo.

In Hwa menebak dengan kesal pasti Chang Hee sudah melakukan semuanya. Ia berdiri dan marah akan meninggalkan Chang Hee.
Chang Hee mengejar dan menahan tangan In Hwa. In Hwa yang marah menyuruh chang Hee melepaskan tangannya, ia tiba-tiba tak mau melihat wajah Chang Hee.
Chang Hee meraih tubuh In Hwa mendekat padanya. In Hwa terkejut berusaha melepaskan diri. Tapi Chang Hee mendekapnya erat dan menatapnya tajam.
Chang Hee mengangkat tangan menyentuh lembut wajah In Hwa dan menciumnya. In Hwa tak menolak, ia pun membalas ciuman Chang Hee karena itu juga bentuk perasannya pada Chang Hee.
Setelah mencium In Hwa, Chang Hee berkata apa pentingnya sekarang seberapa jauh hubungannya dengan Hae Joo karena mulai sekarang kemana In Hwa dan dirinya melangkah bukankah itu yang lebih penting.
Bong Hee yang tinggal di rumah Jung Woo tengah membakar belut. Untuk siapa? Jelas untuk makan malam Jung Woo hehe.

Ibu ke dapur karena mencium aroma makanan enak. Ibu bertanya darimana Bong Hee mendapatkan belut ini. Bong Hee berkata kalau ia membuatnya untuk menambah energi Jung Woo.
Ibu tak mengerti bukankah Bong Hee bilang mau tarik ulur dengan Jung Woo, apa sekarang Bong Hee tak melakukannya lagi. Bong Hee menilai kalau itu bukanlah gayanya, lebih baik terus terang saja biarkan seperti itu.
Ibu manabok Bong Hee, “Cepat dibalik itu hampir gosong semua!” Bong Hee gemetaran membalik belut bakarnya dan merasakan panas. Ia kesal apa mereka berbohong sudah mengatakan untuk menggunakan belut supaya bisa menambah tenaga (mungkin lebih tepatnya menambah stamina pria hehe)
Ibu melihat ada botol berisi cairan pekat, ia bertanya apa ini. Bong Hee langsung merebutnya dan mengatakan kalau ini jus raspberry. Bong Hee terbata-bata menjelaskannya.
Ibu sepertinya mengerti kegunaan belut dan raspberry itu. Ibu tertawa cekikikan. Bong Hee juga sama ia ikut tertawa cekikikan.

“Bau apa ini? sepertinya bau benda yang terbakar?” Ibu mencium sesuatu. Tapi belut bakarnya tidak gosong kok terus bau gosong. Bong Hee menyadari sesuatu, ia terkejut dan langsung bergegas keluar dapur.
Ah ternyata Bong Hee tadi menyetrika baju dan itu menghanguskan baju Jung Woo. Bolong deh hehe. Ibu menyusul Bong Hee ke kamar Jung Woo dan meliahat baju bolong itu. Terdengar suara Jung Woo memanggil Bong Hee.

Dengan cepat Bong Hee menyembunyikan baju bolong itu. Jung Woo ke kamar membawa sekeranjang baju, ia tak mengerti apa ini.

Bong Hee tertawa dan bilang bukan apa-apa, “Saat aku mencuci aku tak sengaja mencucinya dan mengantungnya, jadi bukan apa-apa.” Jung Woo kesal karena sweater itu harus dicuci dengan tangan.
Ada kaos dalam Jung Woo yang terkena lunturan warna dari sweater tadi. Ibu berkata kalau baju yang berwarna seharusnya dicuci terpisah. Jung Woo tambah kesal deh.
“Oh jadi begitu ya...” Bong Hee tak enak hati tapi berusaha tak mempermasalahkannya. Ia mengatakan kalau untuk masalah pekerjaan rumah tangga ia sedikit tak bagus.

Jung Woo yang kesal menunjukan baju dalamnya yang kelunturan, “Apa ini sedikit?”

Bong Hee cemberut tapi tetap saja bukankah ia ingin membantu Jung Woo. Pagi ini ia ke pasar untuk membeli belut agar bisa mengembalikan tenaga Jung Woo kembali.
“Ah tidak....” Bong Hee teringat belutnya ada di dapur, takut gosong. Ia segera lari ke dapur.
Jung Woo melihat bajunya tergeletak di meja setrika. Ia mengambilnya dan toeng toeng toeng hahaha, “Ah keterlaluan.. aku bahkan belum memakai baju ini.”
Belut bakarnya hilang, tak ada di atas kompor. Bong Hee celingukan. Ternyata ada kucing garong yang memakannya, siapa.
Bong Hee melihat Sang Tae sedang jongkok di pojokan makan dengan lahap. Haha. Bong Hee jelas saja langsung mengumpat dan menabok Sang Tae.
Bong Hee merebut piring Sang Tae. Belut bakarnya sudah hampir habis, “Hei siapa yang mengijinkanmu memakan ini? siapa?” Bong Hee membentak.

Dengan polos Sang Tae berkata karena belut ini ada di dapur jadi ia makan saja. Bong Hee marah seharusnya Sang Tae tanya dulu ini punya siapa sebelum memakannya.
Sang Tae membela diri bukankah ini bisa punya siapa saja yang tinggal disini. Bukan hanya belut bakar yang dimakan, Jus raspberry pun diminum Sang Tae dan tinggal setenagh botol. Tambah jengkel lah si tante Bong Hee, ia menadang kaki Sang Tae.
Sang Tae mengaduh dan berkata bukankah mereka tinggal satu atap, kenapa bong hee harus meributkan masalah kecil begini. Bong Hee yang jengkel memukul-mukul menyuruh Sang Tae memuntahkan semua makanan yang dimakan Sang Tae. Tapi tangan Sang Tae malah menjimpit belutnya lagi hahaha.
Bong Hee memuntir tangan Sang Tae dan menjatuhkannya. Apa Sang Tae pikir ia bersusah payah seperti ini untuk Sang Tae. Bong Hee membawa pergi jus-nya sebelum dihabiskan oleh Sang Tae.
Sang Tae berdiri dan merasakan tubuhnya bertenaga kembali. Ternyata dibandingkan obat-obatan makanan ini memang lebih baik. Dipukul berkali-kali tetapi tidak terasa sakit sama sekali. Sang Tae meminum kembali jus sisa di gelas dan berkata lebih baik ia merawat tubuhnya sendiri, bukankah tak akan ada yang merawat tubuhnya kecuali ia sendiri.
Kang San berada di kapal pesiarnya mempelajari blue print. Ia teringat ketika Hae Joo makan sambil menjilati jari yang penuh bumbu kimchi. San jijik mengingatnya.
San mengambil bando ungu milik Hae Joo, ia merasa dirinya sudah gila. Bagaimana bisa yang seperti itu malah terlihat cantik. “Kau juga setuju kan?” San bertanya pada bando Hae Joo bagaimana mungkin seorang wanita menunjukan image seperti itu.

(cewek menjilati jari itu cantik, ayo siapa yang suka menjilati jari waktu makan kata kang san itu cantik)

San menuju ke atas kapal.
Hae Joo yang berada di kamar menerima telepon dari San. San menanyakan apa yang dilakukan Hae Joo sekarang. Hae Joo menjawab kalau ia tentu saja sedang bekerja. San heran bukankah sudah malam tapi kenapa Hae Joo masih bekerja.
San menatap sekeliling dan berkata bahwa ia tak tahu melukiskan suasana disini, “Anginnya sangat bagus, apa kau mau datang kesini?

Hae Joo : “Oppa, suara gigimu terdengar jelas. Kenapa kau menelpon?”

(San lagi kedinginan nih ceritanya)
San langsung mingkem haha.

“Ini sungguhan, aku sedang melihat-langit diatas kapal yatch, ada banyak bintang juga. Apa itu bulan? cantik sekali” kata San sambil menatap langit.

Hae Joo : “Katanya malam ini akan hujan, apa masih ada bintang?”

(Hae Joo tahu suara gigi San yang kedinginan haha)
San : “Hei bocah, apapun yang gurumu katakan itu benar. kenapa kau banyak sekali bertanya?”

Hae Joo menayakan tujuan San meneleponnya. San kembali berkata kalau anginnya bagus, cuacanya juga bagus, “Kita pergi hiking ya, bagaimana?”
Hae Joo sudah menduganya ternyata San menelepon tak ada berita yang penting, “Kau sangat gemetaran, mirip seperti kalau aku sedang makan nasi bungkus rumput laut.”

San : “Hei apa hari yang tersisa itu cuma besok?”

Hae Joo tersenyum, “Kalau kau sangat ingin pergi. Baiklah ayo kita pergi.”
“Sungguh? Janji ya?”
San berusaha mencari program ponsel yang bisa merekam omongan Hae Joo tapi ponselnya tak bisa melakukan itu.
San jelas semangat, “Kau tak boleh menyesal. Pokoknya tak boleh membatalkan janji, mengerti?”

Hae Joo setuju, “Kau harus di sisiku dan melakukan apapun bersamaku. Semuanya.”

Tentu saja San senang, “Eh.. tapi kemana kita pergi? Apa yang akan kita lakukan? serahkan semuanya padaku.”
“Ke taman rekreasi.” jawab Hae Joo.

Hae Joo ingin setelah jalan-jalan ia dan San naik roller coaster dan juga kapal viking.
“Tunggu dulu.” San menyela. “Hei dinilai dari sisi manusiawi bukankah itu sudah berlebihan? Kau kan tahu kalau aku phobia ketinggian.”

Hae Joo : “Kenapa? Dengan naik turun kecepatan tinggi berkali-kali, maka phobia-mu akan sembuh. Itu sangat bagus, tamasya kali ini adalah menantang batas ketakutan terhadap ketinggian.”

San : “Apa kau benar-benar mau menggunakan metode ini untuk mengalahkanku?”

Hae Joo : “Itu sebabnya, kalau tak ada lagi yang mau dibicarakan aku tutup teleponnya.”

San : “Hei hei hei tunggu sebentar, ada sesuatu yang benar-benar ingin kukatakan.”

Hae Joo : “Apa itu?”

San : “Apa kau bisa menggambar design? Kalau kau ingin berhubungan dengan orang-orang dilapangan kau perlu mempelajarinya.”
Hae Joo kesal, “Aishh aku tutup teleponnya ya...” Hae Joo pun menutup teleponnya.
San memandang ponselnya dan berbicara seolah ponsel itu Hae Joo, “Hei bocah. Ini karena aku ingin mendengar suaramu. Apa kau tak bisa bicara lebih banyak lagi?”
Ternyata San bicara panjang lebar dengan Hae Joo itu hanya karena ia ingin mendengar suara Hae Joo. Ia menatap bando Hae Joo dan menghela nafas, “Benar-benar tak ada perasaan.” Ucapnya lirih

 (Aih telepon2an ga ada kerjaan kayak gini aja so cute hehe.. Kang San Fighting)

23 comments:

  1. so sweet bgt san nelpon haejo karna cuman pengin dengar suara haejo tenang aja san oppa bentar lg perasaan haejo cuman buat san oppa aja \\(^o^)// lucu bgt liat expresi muka san waktu haejo jilat''tangan waktu makan tu hahahaaa,,kasian belut sma jus si tante bonghee di makan n di minum sama kucing garong alias sangtae hahahaaa.makasih mba udh di post ep 23 nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ku sampai ngakak sendiri nyebut si sang tae kucing garing hahaha.....

      Delete
  2. Duh senengnya liat san sm hee joo makan bareng.hahahaha lucu banget belutnya di makan sm kucing garong.Mba anis ttp semangat y ditunggu part 2nya.Apry

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya itu adegan makan ekspresi San lucu banget, ga bisa nahan ketawa...

      si kucing garong juga bikin ketawa aja...

      Delete
  3. Lanjutin yg part 2'nya ea ,,
    semangat mba buat sinopsis may queen'nya ,,fighting

    ReplyDelete
  4. part 2 nya ditunggu yah... fighting!!

    ReplyDelete
  5. makasih sinopsisnya mba.
    tiap pagi setelah duduk di depan komp.
    langsung kunjungin blog mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh tiap pagi... awas nyiapin sarapan dulu ga tuh hehe...

      Delete
    2. hehehe... abis baca baru nyiapin sarapan mba :P
      yang penting baca sinop dl.
      thanks ya mba anis.

      Delete
  6. mba... ditunggu banget sinopsis kelanjutannya...
    hihih

    aduh ga ngerti deh.. apa yg ada dipikiran chang hee :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. dibuat mengerti aja. Chang hee kan mau balas dendan ke presdir jang lewat In Hwa...

      Delete
  7. Pada akhirnya, chang Hee bakalan cinta beneran tuh sama in hwa...untuk Hae Joo & Kang San so sweetttt.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. berharap begitu ya.. kasian dong In Hwa kalau Chang hee cuma memanfaatkan dia...

      Delete
  8. wah so sweet liat kang san&haejo jadi kelepek2,,,,
    ba anis semangat lanjutin part 2 y,,,,
    di tunggu,,,,,^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. San emang sweet hehe. ada2 aja tingkahnya kalau lagi sama2 hae joo hihi...

      Delete
  9. Ditunggu kelanjutannya mba'.....
    tambah seru niihhh ceritanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya makin ke sana emang makin seru....

      Delete
  10. @ All : untuk part 2 belum bisa di post nih... semalam mati lampu jadi belum selesai...

    ReplyDelete
    Replies
    1. gapapa chingu :) aku akan slalu menunggumu *eh menunggu sinopsisnya :p

      semangat ya ngetik sinopsis nyaaa... :*

      Delete
    2. pntes'n aq pgi2 bngun tdur Liat blog nea blom da lnjut'n'y.
      gpp qok mba, aq slalu stia mnunggumu, eh slh mnunggu klnjut'n sinopsis'y. ;p

      Delete
  11. udh lama ga buka blog mb anis sejak sinopsis gentleman dignity nya selesai,,tau2 ada sinopsisnya may queen seneng deh.
    tambah seru ya ceritanya..tapi kok hae jo ga suka2 ya ama san nya..kapan nih mulai sukanya.hehehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...