Wednesday, 5 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 20 Part 1

Hae Joo menemui Park Gi Chul. Gi Chul tentu saja heran kenapa Hae Joo datang menemuinya. Hae Joo menanyakan kebenaran Gi Chul yang menyuruh orang untuk menjualnya dulu. Gi Chul menyahut kalau itu omong kosong.

Hae Joo berkata kalau orang yang akan menjualnya itu si rentenir yang berasal dari Hae Nam dan ia baru saja menemuinya. Ia ingin tahu apa benar Gi Chul memberi orang itu uang dan menyuruh untuk menjualnya. Gi Chul melihat sekeliling ia cemas dan mengajak Hae Joo masuk ke rumah untuk dibicarakan di dalam rumah.
Di dalam rumah, Park Gi Chul berkata ia lebih suka kalau Hae Joo tak datang lagi ke rumah ini mulai dari sekarang. hae Joo menyahut kalau ia juga datang bukan karena keinginannya. Ia ingin penjelasan dari Gi Chul kenapa menyuruh orang itu untuk melakukan hal seperti itu.
Gi Chul mengatakan bukankah Hae Joo sudah putus dengan Chang Hee, untuk apa Hae Joo tahu jawabannya. Hae Joo menegaskan kalau masalah ini tak ada hubungannya dengan Chang Hee. “Paman... Kau bahkan bukan musuhku, kenapa kau melakukan itu?”
“Karena aku membencimu.” jawab Gi Chul. Dengan latar belakang keluarga Hae Joo ia tak pernah menyukai kebersamaan Hae Joo dan Chang Hee sejak keduanya masih kecil. Chang Hee harus banyak belajar tapi sangat menyedihkan melihatnya menghabiskan banyak waktu bersama Hae Joo.
Hae Joo berkata kalau waktu itu ia masih anak-anak. Saat itu, ia sama sekali belum memiliki perasaan pada Chang Hee. Gi Chul berkata sebelum penyakit datang menyerang semuanya harus dicegah agar tak menyerang. Mungkin seharusnya Hae Joo sudah terjual waktu itu. Kalau itu terjadi Chang Hee sekarang mungkin sudah menikah dengan In Hwa.

Hae Joo tak menyangka ternyata Gi Chul memiliki pemikiran seperti itu. Ia menitikan air mata tak percaya, bukankah Gi Chul dekat dengan ayahnya kenapa memiliki niat seperti itu terhadapnya. Gi Chul berkata kalau ayah Hae Joo itu manusia yang gagal dalam hidup. Kalau saja ayah Hae Joo tak muncul dalam kehidupannya, orang seperti Hae Joo tak akan pernah bertemu dengan Chang Hee. Ia menilai semuanya menjadi berantakan ketika sampah seperti ayah Hae Joo muncul. Tentu saja Hae Joo tak terima ayahnya dikatakan seperti itu, ia membentak meminta Gi Chul menjaga mulut.

Gi Chul kembali berkata apa gunanya menceritakan kisah lama. Apa Hae Joo mau melaporkannya ke polisi. Ia tahu semuanya karena ia mendengar dari Chang Hee bahwa batas waktu undang-undangnya sudah berakhir. Apa yang akan Hae Joo lakukan. Gi Chul berkata kalau ia bisa melakukan sesuatu yang lebih besar dari itu demi anaknya. Meskipun Hae Joo dan Chang Hee terlambat putus tapi ia merasa kalau ini yang terbaik.
Hae Joo marah dan berdiri, selama ini ia sudah salah paham. Setiap kali melihat Gi Chul ia selalu merasa bersedih dan bersalah tapi sekarang ia bisa melihat bahwa Gi Chul tak pantas mendapatkannya. Masalahnya bukan hukum tapi yang namanya orang bukankah harus memiliki hati nurani.
Hae Joo keluar dari rumah Gi Chul dan membanting pintu keras-keras. Gi chul bergumam minta maaf, karena ia akan mendapatkan hukumannya di neraka nanti atas semua perbuatannya. Gi Chul mengatakannya hampir menangis.
Hae Joo di depan rumah Gi Chul berbalik untuk menatap rumah itu dengan kekesalan. Geum Hee juga keluar dari rumahnya dan melihat Hae Joo ada disana. Ia memanggil Hae Joo menanyakan apa yang dilakukan Hae Joo disini. Geum Hee bertanya apa kedatangan Hae Joo untuk menemui Pelayan Park (Gi Chul) Hae Joo menjawab ya ia ada sedikit urusan dengan Park Gi Chul. Geum Hee mengajak Hae Joo minum teh di rumahnya.
Geum Hee menjamu Hae Joo minum teh di rumahnya. Hae Joo berkata kalau ia mendengar keluarganya datang kesini dan menyebabkan kerusakan, ia minta maaf. Geum Hee bilang tak apa-apa. Ia bisa memahami itu, tapi yang lebih penting pasti Hae Joo sangat terluka. Ia mendenngar Hae Joo dan Chang Hee sudah berpacaran lama. Hae Joo menunduk sedih. Geum Hee minta maaf apa ia menyinggung perasaan Hae Joo. Hae Joo berusaha tersenyum dan berkata kalau ia tak apa-apa.
Geum Hee menatap wajah Hae Joo lebih dalam. Hae Joo heran apa ada lagi yang ingin Geum Hee katakan padanya. Geum Hee berkata kalau ia sudah bertanya pada ibu Hae Joo tentang kemungkinan Hae Joo diadopsi. Ia menayakan ini karena Hae Joo terasa tak asing baginya, bagaimana ia melihat luka di leher Hae Joo.
Hae Joo mengatakan bukankah Geum Hee memberitahunya kalau golongan darahnya berbeda. Geum Hee berkata kalau sekarang keadaannya berbeda.
Tanpa sengaja Il Moon melihat dan mendengar perbincangan ini. Hae Joo minta maaf karena yang ia dengar ibunya mengatakan ia tak diadopsi. Jadi tentu saja bukan. Hae Joo pamit dan berterima kasih atas suguhan teh-nya.
Geum Hee ikut berdiri dan tanpa sepengetahuan Hae Joo ia mengambil sehelai rambut Hae Joo. Hae Joo mengira Geum Hee akan mengantarnya keluar, ia bilang tak perlu mengantanya. Ia pun menitipkan salam untuk In Hwa. Geum Hee membuka tangannya, ia mendapatkan sehelai rambut Hae Joo. Wah... pasti mau tes DNA nih. Geum Hee mengambil gelas teh yang tadi diminum Hae Joo. Il Moon memperhatikan apa yang dilakukan Geum Hee.
Hae Joo berjalan keluar dari kediaman keluarga Jang. Sejenak ia berhenti dan menatap rumah besar itu. Ia menggelengkan kepala berusaha menepis apa yang dipikirkannya. Ia pun kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. (hmm apa Hae Joo mulai berfikir kalau Geum Hee itu....)
Presdir Jang marah karena Jung Woo mengetahui kasus penggelapan dana pengembangan yang dilakukan Il Moon. Ia bertanya pada Chang Hee apa tak ada jalan keluar. Chang Hee berkata kalau ia sudah memikirkan masalahnya, tapi ini tak mudah. Presdir tak peduli siapa yang tak akan membuat debu ketika kita menggoyangkan sesuatu, ia minta Chang Hee memperhatikan ini dengan baik.

Chang Hee merasa kalau seperti itu Jung Woo akan semakin diuntungkan kalau kita melakukan itu. Chang Hee berkata kalau Jung Woo itu tidak pernah menerima traktiran (suap). Bukan hanya traktiran dia juga bahkan tak akan meneguk wine seteguk pun. Kalau dia sudah menikah kita bisa menyelidiki pihak istrinya tapi karena dia masih lajang hal ini mustahil.
Presdir Jang bertanya bagaimana dengan ancaman dari atas. Chang He berkata kalau itu juga tak bisa dilakukan. Ia sudah mengetahui sifat Jung Woo, kalau Jung Woo percaya yang dikerjakan benar maka traktiran dan negosiasi tak akan ada yang diterimanya. Presdir Jang ingin tahu lalu kira-kira apa yang akan dilakukan Jung Woo, bukankah katanya dia mengincar Il Moon. Apa dirinya akan tinggal diam dan melihat saja. Chang Hee berjanji akan berusaha mencari jalan keluar. Ada yang mengetuk pintu ruangan Presdir Jang. Seseorang membuka pintu dan masuk. Kang San.
San menyapa keduanya dan bertanya apa yang sedang Presdir Jang dan Chang Hee diskusikan. Presdir Jang tak menjawab, ia balik bertanya menanyakan keperluan San. San mengatakan kalau kedatangannya untuk memberi tahu penalti dari kantor pusatnya. Nilainya ternyata lebih dari 40 juta dollar dari yang ia perkirakan hanya 40 juta dollar. San bergumam kalau ia harus belajar matematika lagi. Presdir Jang menerima berkas denda yang harus ia bayar pada Noble, tentu saja Presdir Jang kesal.
San menanyakan apa Direktur Jang Il Moon sudah mengundurkan diri dari divisi kelautan karena ia tak melihat Il Moon dimanapun. Tak ada yang menjawab pertanyaan San. San berkata bukankah Presdir Jang sudah memiliki Direktur Park Chang Hee yang kompeten, seharusnya ini tak jadi masalah. Chang Hee bersikap biasa saja, ia malah minta izin mohon diri pada Presdir.
Di lobi kantor Chang Hee berpapasan dengan Hae Joo. Hae Joo ingin bicara sebentar dengan Chang Hee, tapi Chang Hee berjalan melewatinya tentu saja dengan sikapnya yang dingin.
Hae Joo berkata kalau ia bertemu dengan si penculik (rentenir) yang dari Hae Nam. Perkataan Hae Joo ini membuat langkah Chang Hee terhenti. Hae Joo menanyakan kenapa Chang Hee tak memberi tahunya tentang apa yang dilakukan ayah Chang Hee terhadapnya.
Chang Hee yang terkejut Hae Joo mengetahui ini, ia berusaha bersikap tenang dan berbalik menatap Hae Joo.
San masih berada di ruangan Presdir Jang memperhatikan peta lokasi pertambangan. Presdir Jang mengakui kalau kesalahan ada dipihaknya, ia berjanji akan membayar denda sesuai dengan perjanjian.
Presdir Jang terheran-heran kenapa San melihat peta pertambangan seperti itu. San menatap penasaran, “Saat Dr Yoon Hak Soo dibunuh aku dengar kepala cabang ANSP di Jepang adalah anda Presdir.” (ANSP = Agency National Security Planning.  Badan perencana keamanan nasional)
Presdir Jang terkejut San tahu tentang kasus pembunuhan Hak Soo. Ia pun berusaha bersikap wajar dan bertanya memangnya ada apa dengan itu. San bertanya apa Presdir Jang sendiri yang menangani jenazah Dr Yoon Hak Soo. Presdir Jang membenarkan ia ingin tahu dari siapa San mengetahui cerita ini.
San berkata kalau ia bertemu dengan Yoon Jung Woo karena ia ingin mencari tahu tentang ayahnya. San bertanya menurut penilaian Presdir Jang siapa yang kira-kira membunun Dr Yoon Hak Soo, karena Presdir Jang yang menangani TKP seharusnya Presdir Jang yang paling tahu. (San bertanya gini supaya dia dapet info tentang bapaknya kali ya?)
Presdir Jang berkata tim-nya ketika itu menyimpulkan kalau hal ini ulah Intelejen Jepang tapi sayangnya tak ada bukti yang mengarah ke mereka. (ya iyalah kan pelakunya dirimu Presdir)
San merasa aneh apa Intelejen Jepang yang membunuh Hak Soo, bukankah Hak Soo hanya seorang peneliti perminyakan. Presdir Jang berkata kalau ia juga memiliki pertanyaan yang sama seperti San selama 30 tahun ini (hueeek) Presdir Jang heran kenapa San sangat penasaran tentang hal ini.
San kembali menatap peta pertambnagan. “7 blok pertambangan, pembunuhan Dr Yoon Hak Soo, badan intelejen Jepang dan orang yang bertugas di Badan perencana keamanan nasional” San kemudian menatap Presdir Jang dan bergantian menatap peta pertambnagan, “Bukankah itu aneh?”
Presdir Jang berkata kalau selama 30 tahun ia juga tersiksa dengan pertanyaan yang San ajukan itu. Bukankah San ini pintar coba saja San mencari tahu siapa pembunuhnya atau setidaknya beri ia sedikit petunjuk. Keduanya saling bertatapan nih...
Hae Joo dan Chang Hee bicara berdua di luar kantor. Hae Joo berkata karena Chang Hee sudah menyelidiki orang itu kenapa Chang Hee menyembunyikan ini darinya. Chang Hee tak menjawab. Hae Joo kembali berkata kalau Chang Hee sudah mengetahui kalau itu adalah perbuatan ayah Chang Hee dan apa Chang Hee menyuruhnya berpisah karena hal itu. Apa chang hee terluka karena itu.
Chang Hee berkata kalau ia tak ingin membahas masa lalu. Ia memperingatkan Hae Joo jangan pernah lagi memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’. Ia sudah sangat jelas mengatakan kalau hubungan keduanya selesai saat Hae Joo meninggalkan dirinya demi keluarga Hae Joo. Ia tak punya pilihan, Bagaimana pun juga baginya ayahnya adalah satu satunya keluarganya.
Hae Joo mengerti itu dan sekarang ia tambah mengerti alasan Chang Hee memutuskan hubungan dengannya, tapi haruskah Chang Hee bersikap sedingin ini. Bukankah seharusnya Chang Hee merasa bersalah padanya.

Chang Hee meminta Hae Joo jangan bersikap menyedihkan. Karena Hae Joo membela keluarga Hae Joo sendiri maka ia pun membela ayahnya. Seandainya ia bisa, ia ingin membuang cerita 15 tahun keduanya. Karena sekarang dengan melihat wajah Hae Joo sudah begitu berat baginya. Ia kembali memperingatkan Hae Joo, jangan pernah muncul lagi di hadapannya untuk sesuatu seperti ini. Chang Hee berlalu meninggalkan Hae Joo yang menitikan air mata.

Hae Joo segera mengusap air matanya. Ia kemudian menerima telepon dari San yang menanyakan dimana Hae Joo, apa tak bekerja.
San dan Hae Joo ke pabrik pembuatan baling-baling. San berkata kalau biasanya orang membuat baling-baling dari perunggu, bukankah Hae Joo tahu itu. Tapi belakangan ini logam aluminium campuran lebih sering digunakan. San bertanya apa Hae Joo tahu alasannya. Hae Joo tak mendengarkan perkataan San. Ia memgeang baling-baling yang ada di depannya sambil melamun.
San membuyarkan lamunannya. Ia melambaikan tangan di depan wajah Hae Joo dan berkata seperti berbisik, “Hei apa kau dengar perkataanku?”

“Kau bilang apa?” Tanya Hae Joo.
Plok... San memukul helm Hae Joo. San kesal karena Hae Joo tak konsentrasi. Ia tak suka mengulangi perkataannya lagi, “Aku bertanya kenapa perpaduan aluminium banyak digunakan untuk membuat baling-baling?” San mengulangi pertanyaannya.
Hae Joo menjawab bukankah karena lebih kuat dan lebih tahan karat. Baling-baling itu berada di laut dalam jangka waktu yang lama. Dia harus lebih kuat daripada ombak laut dan diharuskan tidak bisa berkarat.
San menyahut ternyata Hae Joo tahu banyak. Ia berkata kalau azimuth thruster yang akan keduanya buat mulai sekarang adalah baling-baling inti dari kapal pengebor, “Dia harus lebih kuat dari baling-baling ini dan harus kuat menahan ombak dibawah laut.” kata San menyentuh baling-baling yang ada di sampingnya. “Nikel, perunggu dan aluminium. Cocokkan ketiga elemen ini secara berbeda. Pastikan untuk membuat azimuth thruster yang paling ringan dan paling kuat, mengerti?”
Hae Joo menilai akan bagus sekali kalau orang bisa seperti itu juga. San tanya tentang apa.

Hae Joo : “Seperti baling-baling ini yang tak goyah oleh tsunami. Seandainya orang juga bisa seperti itu. Walaupun dia harus hancur dan remuk, aku berharap tak akan ada rasa sakiti.”

San tak mengerti, “Hei kau ini kenapa?”

Hae Joo mengalihkan pembicaraan kalau San ingin membuat azimuth thruster bukankah keduanya memerlukan model. San menarik nafas membenarkan, ia akan membuat modelnya dengan mesin. Hae Joo bilang tidak usah karena ia yang akan membuat model itu dengan tangannya.
San tertawa, bukannya ia tak mengakui kemampuan Hae Joo tapi belakangan ini semuanya dibuat oleh mesin. “Kenapa? Karena tangan manusia tak bisa mengalahkan akuratnya pengukuran mesin.”

Hae Joo berkata kalau ia hanya ingin membuat beberapa. Ia ingin langsung melakukan proses milling dan gerinda-nya. Ia ingin menunjukan kalau orang tidak lebih lemah daripada mesin. San bilang tak bisa, apa Hae Joo tahu betapa mahalnya itu dan manusia memang lebih lemah daripada mesin. Hae Joo menunduk sedih.
Sang Tae menyapu membersihkan lantai pabrik. Ia teringat perbincangan ibunya dengan Hae Joo semalam yang membicarakan kalau Hae Joo bukan putri Ibu. Sang Tae menyapu sambil melamun.
Melihat Sang Tae melamun kakek menendang pantatnya. Sang Tae sewot kenapa kakek terus memukulnya padahal ia sedang bekerja. Kakek melihat sekeliling dan mengatakan kalau Sang Tae belum menyapu dengan benar. Meskipun ini hanya bersih-bersih ia tak melihat kalau Sang Tae ini antusias melakukannya. Kakek menaboki Sang Tae.
Kakek dan Sang Tae menikmati makanan bersama. Tapi Sang Tae kembali melamun tak selera makan. Kakek menabok tangan Sang Tae, apa Sang Tae sudah kenyang karena ia melihat makanan Sang Tae tak segera dimakan.
Sang Tae berdiri dan menyuruh kakek makan yang banyak, sehat selalu dan panjang umur sampai 100 tahun. Sang Tae meninggalkan makanannya membuat kakek terheran-heran kenapa dengan Sang Tae, seandainya Sang Tae tahu kalau mencari uang itu sangat sulit.
Bong Hee ke pusat berbelanjaan. Tepatnya ia ke tempat penjualan selimut. Bong Hee mengelus lembut selimut yang embuk dan melihat sekeliling. Ia duduk di atasnya merasakan empuknya.
Bong Hee kemudian berguling di atas tempat tidur itu hahaha. Memeluk bantal dan membayangkan kalau bantal itu Jung Woo. Bong Hee menciumi bantalnya haha. Ketawa ngakak lihat tingkah polah si tante haha. “Pelanggan!” tiba-tiba terdengar suara pelayan mengagetkannya.
Bong Hee tersadar dari ciuman bantalnya, ia langsung berdiri dan bersikap wajar. Pelayan bertanya apa yang Bong Hee lakukan.
Bong Hee berusaha mencari alasan ia mengatakan kalau tempat tidur adalah ilmu pengetahuan. Ia hanya ingin mencoba fleksibilitas pegas-nya. Pelayan itu mengingatkan kalau ini adalah toko selimut. Dua orang pembeli tertawa ngikik haha.
Bong Hee kembali mencari alasan, sebenarnya yang ingin ia katakan adalah tempat tidur juga merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tentang kenyamanan manusia. Ia perlu berfikir tentang itu.
Bong Hee mengatakannya sambil berbalik badan akan pergi. Pelayan itu mengambil bantal yang tadi diciumi Bong Hee. Ia kesal karena bantal itu ada noda lipstiknya. Pelayan itu menyebut Bong Hee orang aneh.
Bong Hee berbalik dan berkata kalau ia akan membelinya. Bukankah tak akan ada masalah kalau ia membelinya. Bahkan tempat tidur ini membuatnya seperti pasangan yang baru menikah. Pelayan ikut tersenyum senang, “Anak anda akan menikah, kan?” Tanya pelayan mengira Bong Hee akan menikahkan anak Bong Hee (kesannya udah tua banget ya)(nikah aja belum haha)

Bong Hee manatap si pelayan, anak? Pelayan mengangguk tapi Bong Hee malah tertawa kenapa bicara tentang anak pada wanita yang belum menikah. Pelayan dan dua pembeli tersenyuum ternyata ada perawan tua haha. Bong Hee berpura-pura pusing, ia meminta tolong untuk menghubungi 119 karena sebentar lagi ia akan pingsan.
Bong Hee ke rumah Hae Joo. Untuk mencari siapa? Siapa lagi kalau bukan Jung Woo. Ternyata Bong Hee benar-benar membeli selimutnya lho. Hehe. Ia akan masuk ke rumah mengendap-endap. Ibu melihat dan menghampirinya sambil berdehem. Bong Hee terkejut dan menoleh.
Bong Hee tersenyum dan memberikan bungkusan yang ia bawa pada ibu. Ibu heran, apa ini. Bong Hee berkata kalau sekarang cuacanya dingin. Ia sengaja membelikan itu untuk ibu supaya tetap merasa hangat. Ibu melihat barang bawaan Bong Hee yang lain dan bergumam banyak sekali yang Bong Hee beli. Bong Hee menyadari kalau ibu melihat selimut yang ia bawa. “Ah ini... kelihatannya saja ini besar. Yang aku berikan padamu itu justru lebih mahal. Sungguh!” (ga nanya haha)
Ibu membenarkan, Jung Woo yang sudah bekerja keras seharusnya dirinya memakai yang murah saja. Ibu merebut selimut yang dibawa Bong Hee. Tapi Bong Hee mempertahankan selimutnya, terjadilah tarik-tarikan. Ibu melepaskan tarikannya dan Bong Hee pun terjatuh haha.
Ibu menyindir kalau Bong Hee ini lemah dalam tarik-menarik. Kalau seperti itu bagaimana bisa Bong Hee menggenggam tangan pria. Bong Hee jelas saja kesal. Ibu memberi tahu ketika waktunya Bong Hee tarik maka tariklah tapi ketika waktunya mendorong maka doronglah. Bong Hee harus melakukan ini dalam percintaan. Kalau Bong Hee terus-menerus mengekori punggung pria, maka itu tak ada bedanya dengan anjing yang sedang mengejar ayam.

Bong Hee berdiri dan tambah kesal, ia juga ingin menarik ke arahnya. Ia bisa melakukan sesuatu setelah ia berhasil. Kalau seperti itu bagaimana melakukannya.
Ibu membantu Bong Hee menata selimut baru di kamar Jung Woo. Ibu tak habis pikir bagaimana bisa wanita yang bergelar doktor tak bisa mengerti perasaan pria. Bong hee bertanya memangnya ibu tahu apa. Ibu bilang kalau ia tentu saja tahu, karena waktu ia masih muda ia memiliki banyak penggemar sebanyak satu truk.
Bong Hee tertarik ingin tahu, benarkah? Metode apa yang digunakan ibu. Ibu bilang kalau pria itu tak suka pada wanita yang selalu mengekorinya kemana-mana seperti Bong Hee. Menjadi seorang wanita itu harus sulit didapat.
Bong Hee tanya kalau ia melakukan saran ibu, bagaimana kalau pria itu malah menyerah padanya. Ibu minta Bong Hee jangan memikirkan itu karena hal seperti itu tak ada. Ikuti saja apa yang ia katakan pada Bong Hee.

Ibu menyarankan Bong Hee harus melakukannya dengan dingin, seolah Bong Hee sudah berubah sama sekali sampai dapat menarik perhatiannya. Bong Hee mengerti ia akan melakukan itu setelah kembali dari Jepang.

Bong Hee mencoba bersikap dingin, “Apa kau mengenalku, jangan pura-pura mengenalku.” Bong Hee tertawa-tawa dengan rencana yang akan ia jalankan terhadap Jung Woo.
Ibu mengamati kamar Jung Woo dan menilai kalau kamar ini sangat rapi. Ibu melihat disana ada foto Jung Woo bersama Hak Soo dan Geum Hee. Dan difoto itu Hak Soo tengah menggendong Yoo Jin. Ibu tercengang melihatnya. Ibu mengambil foto itu untuk melihat lebih jelas. Foto anak kecil itu sama persis dengan Hae Joo ketika dibawa suaminya dulu.
Bong Hee melihat ibu tengah mengamati foto. Ia bergumam ternyata Jung Woo masih menyimpan foto ini samapai sekarang. Kalau dia memiliki pemikiran seperti ini padanya, ia akan membakar dupa. Ibu bertanya siapa anak ini.

Tapi bersamaan dengan itu ponsel Bong Hee berdering, Bong Hee menjawabnya. Bong Hee bicara di telepon kalau ia akan ke jepang besok tapi bagaimana munkin semuanya masih belum beres. Ia pun akan kembali ke kantor. Bong Hee mohon diri pada ibu, ia harus seegra kembali ke kantor. Ia berterima kasih atas saran ibu.
Ibu masih berdiri tak mengerti mengamati foto itu, “Ada apa semua ini. Kenapa ada foto Jung Woo dan Hae Joo bersama. (hmm apa ibu mulai berfikir kalau jaksa Yoon dan Hae Joo memiliki ikatan keluarga)
Geum Hee sudah berpakaian rapi. Ia pergi diantar pelayan. Il Moon melihat kepergian ibunya. Ia menatap curiga kemana ibunya akan pergi.
Geum Hee sampai disuatu tempat, ternyata Il Moon mengikuti Geum Hee. Geum Hee masuk ke tempat itu. Il Moon membuntutinya.
Hmm ternyata Geum Hee akan melakukan tes DNA tapi petugas mengatakan kalau rambut yang Geum Hee dapatkan tak ada akarnya jadi mereka tak bisa melakukan pengetesan. (oh harus rambut sampai akar ya?) 
Geum Hee mengeluarkan cangkir yang digunakan Hae Joo meminum teh dengannya kemarin. Ia mendengar kalau air liur bisa digunakan untuk tes DNA. Petugas menerima cangkir itu dan mengamatinya.
Geum Hee keluar dari ruangan. Il Moon masih mengawasinya, ia heran melihat ibunya keluar dari ruangan tes DNA.
Hae Joo dan San berada di kapal pesiar. Hae Joo melihat-lihat model baling-baling. Hae Joo berkata kalau modelnya bisa dikerjakan di pabrik baling-baling tapi dimana keduanya bisa mengetesnya. Ia merasa kalau pengetesan itu memerlukan ruangan yang sangat besar untuk melakukan simulasi tes dengan suasana mirip seperti laut bagi kapal pengebor.
San berkata kalau ia sedang berusaha keras untuk itu. Hae Joo berfikir apa tidak bisa keduanya melakukan itu di Cheon Ji. Bukankah Cheon Ji itu sub kontraktor perusahaan Kang San. San akan mengatakan sesuatu tapi tepat saat itu kakek datang.
Kakek menyerahkan rancangan model baling-baling Kang San dan berkata kalau ia tak bisa mendapatkan bahan yang diperlukan. San heran kenapa tidak. Kakek mengatakan kalau semua bahan itu harus di import tak ada yang bisa memperolehnya kecuali dalam skala bisnis import sebesar Cheon Ji. (pabrik kakek kan kecil nih jadi kakek ga sanggup mendatangkan bahan yang dibutuhkan San untuk membuat baling-balingnya)
San tak peduli, bukankah tak ada yang tak bisa kakeknya peroleh. Pokoknya kakek harus mendapatkan bahan yang ia butuhkan.
Kakek jelas kesal, “Ah dasar anak ini. Kalau begitu kau saja yang jadi Kakek dan aku yang jadi cucumu.” Hahaha
Hae Joo tertawa melihat tingkah kakek dan cucu ini. Ia bertanya, apa kakaknya bekerja dengan baik. Kekek balik bertanya apa Sang Tae dan Hae Joo ini saudara kandung. Karena sifat Sang Tae dan Hae Joo sangat berbeda. Ia frustasi kalau memikirkan bisakah ia menjadikan Sang Tae seorang teknisi. Hae Joo minta maaf. Kakek mengajak keduanya makan ia sudah kelaparan.
Ketiganya makan dan minum di warung. Kekek menatap Hae Joo dan berkata bukankah Hae Joo sudah mengelas selama 15 tahun, mana ada seorang pengelas yang tak pintar minum seperti Hae Joo. Hae Joo berfikir kalau ia akan minum terlalu banyak hari ini kalau ia benar-benar minum.
San heran bukankah Kakek sudah kalah mengelas dari Hae Joo kenapa sekarang kakek malah menantang Hae Joo minum. San mengatakan kalau Hae Joo ini terkenal pintar minum. (San membual apa ya haha) Kakek yang merasa malu sudah dikalahkan Hae Joo menyuruh San jangan membuat alasan yang tak masuk akal.

Hae Joo akan menuangkan minuman untuk kakek tapi kakek mengambil botol arak beras dan bilang tak usah. Ia tak membutuhkan teman yang tidak pintar minum.

San tertawa ngakak, “Kekak bagaimana kalau kita melakukan ronde keduanya pertandingan minum arak beras?”
Hae Joo setuju asalkan San mengizinkannya membuat model baling-baling dengan tangannya. San menyahut ternyata Hae Joo ini sangat gigih. San bertanya pada kakek, “Bagaimana kakak percaya diri kan?”

Kekek jelas merasa tertantang dan tak mau kalah. Meskipun ia sudah tua apa San pikir ia akan kalah bertanding minum dengan seorang gadis.
Kakek mulai minum, begitu pula dengan Hae Joo. keduanya bertanding minum. San yang menuangkan minumannya.
Sambil mereka bertanding minum, kakek bertanya apa Hae Joo menyukai San. San terkejut dengan pertanyaan kakek, ia menatap Hae Joo. Apa jawaban Hae Joo.
Hae Joo menjawab tidak. (huwaaaaa San kuciwaaaa)
San berusaha bersikap wajar. Ia berkata kalau akan menjadi masalah besar seandainya Hae Joo menyukainya. Ia saja sudah kesulitan karena penggemar fanatiknya.
Kakek menanyakan alasan Hae Joo tak menyukai san, apa Hae Joo sudah punya pacar. Hae Joo sedikit sulit menjawabnya. San menyela kenapa kakek menanyakan itu, bukankah itu privasi Hae Joo.
Kakek tak peduli dengan larangan San, ia terus bertanya apa Hae Joo sudah punya pacar. Hae Joo berusaha bersikap normal dan berkata kalau ia baru saja putus dengan pacarnya. Kakek melirik San dan bergantian menatap Hae Joo lagi, kalau begitu sekarang kau tak punya pacar. Hae Joo menjawab ya.

Kakek pun mendeklarasikan janjinya, “Kalau aku menang hari ini. Kau harus berkencan dengan San mulai hari ini!”

“Apa?” San dan Hae Joo kaget.
“Ok mulai.” seru kakek mulai meminum arak beras dan bertanding melawan Hae Joo. Hae Joo tak mau kalah ia pun segera meminum bagiannya. San melirik kakek, sepertinya dia menyemangati kakek nih haha. Mangkuk kedua... berhasil keduanya habiskan. Ketiga, keempat, kelima. Keduanya sama kuat.
Hae Joo dan kakek sudah mulai mabuk. San meminta keduanya menyudahi pertandingan. Kali ini mangkuknya lebih besar lho haha.
Dan bruk... kakek menjatuhkan kepalanya ke meja. San yang melihat kakeknya sudah tak sadar menyuruh bangun, “Kekek kau harus terus minum. Bangun. ah sejak kapan dia jadi peminum lemah begini?”

San berbisik ke kakek, “Kakek lihat ada wanita tua cantik yang sedang lewat.” Hahaha

“Lupakan, kau bawa saja dia!” sahut kakek hampir tak sadarkan diri.

“ah keterlaluan” seru San. (Kira-kira San pengen kakek yang menang ga ya haha)

San melihat Hae Joo terus minum, “Hei kau ini sudah menang kan? Kenapa kau juga begini? berhenti minum!”
San pun menghubungi Sekertaris Kim. Sekertaris Kim membawa kakek yang sudah tak sadar masuk ke mobil. Seketaris Kim meminta San membawa Hae Joo masuk ke mobil, ia akan mengantar San dan Hae Joo sekalian.
San yang memapah Hae Joo bilang kalau ia sudah memanggil taksi jadi ia meminta tolong sekertaris Kim menjaga kakek.
San keberatan memapah Hae Joo. Hae Joo mendorong San dan berdiri sempoyongan. San langsung menangkapnya dan bilang kalau Hae Joo akan terluka jika berdiri sendiri dalam keadaan mabuk parah begini. Hae Joo bilang kalau ia tak apa-apa. San heran apanya yang tak apa-apa. San kembali memapah Hae Joo untuk masuk ke taksi yang baru saja datang.
Hae Joo memandang ke luar jendela taksi. Tanpa terasa air matanya mengalir, semakin lama semakin deras. San ikut sedih melihatnya.
Tangan San terangkat akan mengusap air mata Hae Joo, tapi ia mengurungkannya.
Keluar dari taksi San akan memapah Hae Joo berjalan menuju rumah. Tapi Hae Joo melepaskan pegangan San menyuruhnya pulang. San melihat kalau Hae Joo sangat mabuk ia akan mengantar sampai ke rumah. Hae Joo meyakinkan kalau ia bisa pulang sendiri jadi San lebih baik cepat pulang.
San tentu saja khawatir karena Hae Joo tak bisa mengandalikan tubuh. Ia takut bagaimana kalau Hae Joo jatuh. Hae Joo berkata meskipun jatuh ia akan tetap pergi sendiri. Kalau ada orang yang terlalu baik padanya sekarang itu membuatnya takut. (Takut kalau orang itu juga akan meninggalkannya seperti Chang Hee)
Hae Joo mengingatkan San model baling-baling yang akan ia buat dengan tangannya sendiri. San harus berjanji mengizinkannya membuat itu.
Hae Joo melambaikan tangan pada San dan berjalan sempoyongan menuju rumah.
San menatapnya khawatir.
Bersambung ke Part 2 ya...

9 comments:

  1. Huwa sedih deh liat Kang San..fighting oenni jangan berhenti buat sinopsisnya May Queen.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia...sedih bnget...,,sabar ya San oppa....
      Ngeri bnget sich liat wajah Jang do hyun....(kaya pake wig rambutnya)hihi....
      ditunggu part 2 ya mbk...

      "mam Amzar"

      Delete
    2. Anonim : iya sendu banget nih liat San Oppa hehe..

      Mama amzar : haha jadi pengen jambak rambut-nya ya mbak hehe...

      Delete
  2. Mba Annis...jadi galau nih nebak2 akhirnya bagaimana? Apakah He Joo sama Chang Hee atau sama Kang San? Soalnya sejak melihat Chang Hee berubah total spt itu... jadi banyak yang simpati sama Kang San, he he he termasuk saya.
    Ayo mba Annis... ditunggu Part 2 nya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya drama ini bikin saya galau juga. Chang Hee juga seperti itu ada alasannya.

      Delete
  3. drama yang alur ceritanya keren.... oia,, izin share link di forum saya yah...

    kalau berminta jdi moderator dalam forum saya juga boleh.. tuk nge-share semua yang berhubungan dengan drama korea dan K-popnya...

    http://chingudrama.com/showthread.php?tid=19&pid=28#pid28

    ReplyDelete
    Replies
    1. trims chingu drama sudah men-share link...

      Delete
  4. nasip baik blom berpihak pd kang san dlm percintaan.. :(

    * hayooo..smangat mba anis.. Msh lama selesainya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kisah cinta Kang San berat mbak. Hae Joo lama buat Hae Joo untuk benar2 melupakan Chang Hee, coz mereka berdua kan sudah 15 tahun pacaran eh tiba2 harus putus...

      cewek mana coba yang bisa langsung melupakan cinta pertama yang dijalin sudah sekian lama.

      Delete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...