Friday, 7 December 2012

Sinopsis May Queen Episode 21 Part 1

Ibu menyuruh Hae Joo keluar dari rumah mereka. Hae Joo tak mengerti apa yang ibunya bicarakan. Ibu mengungkapkan kalau Hae Joo bukan keluarganya.

Hae Joo semakin tak mengerti kenapa ibu bersikap seperti ini, bagaimana kalau ayah mendengarnya. Ibu juga mengungkapkan kalau ayah bukanlah ayah kandung Hae Joo. Chun Hong Chul bukanlah ayah kandung Hae Joo.

Hae Joo menanyakan apa maksud perkataan ibunya. Ibu mengatakan kalau ayah kandung Hae Joo adalah seseorang yang bernama Yoon Hak Soo dan ibu kandung Hae Joo adalah Lee Geum Hee, Nyonya Presdir dari Grup Cheon Ji.
Hae Joo yang kaget mendengarnya menilai itu tak mungkin. Ia heran apa yang terjadi dengan ibunya. Ibu mengatakan kalau Geum Hee pernah datang mencarinya ketika ia ia masih tinggal di Geo Je. Bahkan Geum Hee membawa foto Hae Joo yang masih kecil. Dia juga membawa baju kuning yang Hae Joo pakai ketika pertama kali suaminya membawa Hae Joo.
Ibu mengatakan alasan kenapa selama ini ia tak mengatakannya, itu karena kalau Hae Joo pergi dengan Geum Hee hidupnya akan terasa berat untuk menangani biaya hidup sehari-hari. Pada awalnya ia mengira kalau suaminya itu benar-benar ayah kandung Hae Joo. Ia tak tahu alasan suaminya membawa Hae Joo dari Geum Hee. Tapi ia juga tak tahu kalau suaminya bukanlah ayah kandung Hae Joo karena suaminya sangat menyayangi Hae Joo.

Ibu menatap Hae Joo berkata ada satu foto dimana Hae Joo terlihat sama ketika kecil. Sebuah foto di kamar Jaksa Yoon Jung Woo, “Karena aku bertanya padanya aku akhirnya tahu kalau almarhum kakak Jung Woo adalah suami dari Geum Hee.”
Hae Joo yang menangis mendengarkan apa yang disampaikan ibu menilai kalau ini tak masuk akal. Ia meminta ibunya menghentikan cerita omong kosong ini. Ibu berkata kalau Jung Woo yang selalu Hae Joo panggil dengan sebutan Samchoon, dia benar-benar Samchoon Hae Joo yang sebenarnya. Hae Joo sama sekali tak ada hubungan darah dengan keluarganya. Tangis Hae Joo semakin menjadi ia kembali meminta ibunya berhenti bicara seperti itu. Hae Joo keluar dari kamar. Ibu menyusulnya.
Ibu tahu kalau Hae Joo terkejut setelah mengetahui kenyataan ini tapi apa yang ia katakan adalah hal yang sebenarnya. Hae Joo tetap merasa kalau itu tidak mungkin. Ibu bertanya apa Hae Joo tak percaya, kalau begitu tanyakan saja pada ibu kandung Hae Joo tentang kebenarannya.

Hae Joo tak mau, kenapa ia harus melakukannya. Ibu bilang kalau Hae Joo itu orang lain yang tak ada hubungan darah dengan keluarganya, kenapa harus ada orang lain di dalam rumahnya. Hae Joo seharusnya berada di rumah Hae Joo sendiri.
“Ibu....” Hae Joo terus menangis.

Ibu meminta Hae Joo berhenti memanggilnya dengan sebutan ibu. Ia menyuruh Hae Joo segera pergi menemui ibu kandung Hae Joo karena dia terus mencari Hae Joo.

“Ibu...” Hae Joo tak mau meninggalkan ibunya.

Ibu mengingatkan apa Hae Joo tak mendengar apa yang Sang Tae katakan. Hae Joo bertanya apa yang begitu penting dengan darah. Waktu kebersamaan mereka hidup bersama itulah yang terpenting. Ibu bilang kalau waktu itu memang iya, tapi sekarang ia benar-benar sudah muak. Ia juga muak hidup dengan hasil keringat dan darah Hae Joo. Ia menyuruh Hae Joo pergi.

Tangis Hae Joo semakin bertambah, “Ibu...”
Ibu meminta Hae Joo berhenti membuatnya menjadi wanita jahat. Jadi lebih baik Hae Joo pergi. Kalau bukan karena dirinya Hae Joo tak akan putus dengan Chang Hee dan Hae Joo bisa hidup seperti seorang putri di rumah yang seperti istana. Seandainya ia ini monster yang memakai topeng manusia, ia mungkin akan menahan Hae Joo tinggal disini tapi ia tk ingin melihat Hae Joo lagi, jadi cepat pergi. “Pergi. Pergi. Kubilang pergi.” Ibu mendorong Hae Joo.
Ibu terduduk menangis tapi ia berusaha menguatkan hatinya. Hae Joo tak henti-hentinya menangis.

(sangat jelas terlihat kalau ibu melakukan ini agar Hae Joo hidup bahagia dengan ibu kandung Hae Joo, ibu angkat Hae Joo ini tak mau lagi menyusahkan Hae Joo)
San yang membuka buku yang diterimanya tanpa nama dan menemukan sebuah foto sepasang suami istri bersama bayi mereka.
(Hmm itu seperti buku harian atau buku catatan ya. Yang pasti ada surat/pesan yang tertulis disana).
San membaca tulisan yang tertera disana.
Chae Kyung Mi...... Bertemu dengannya adalah hari yang paling indah dalam hidupku. Diagram yang rumit, masa depan yang suram dan tekanan dari bisnis keluargaku benar-benar menyiksaku waktu itu. Tapi dia memberiku kehidupan dan kebebasan. Bagiku yang tak tahu apapun selain membuat kapal, dia mengajarkanku bagaimana indahnya mencintai seseorang.
Bagaimana pun cintaku dengannya juga merupakan awal dari hari-hari yang mengerikan. Saat ayahku mengetahui hubunganku dengannya, dia bahkan berusaha untuk menculik dan membunuhnya. Demi melindunginya aku terpaksa menyelundupkan diri kami ke Jepang.

Satu janjiku di tepi pantai yang gelap itu adalah aku berharap aku bisa memenuhi janjiku saat masih di universitas bahwa aku akan meninggalkan negaraku tapi aku tak akan menelantarkan negaraku.
Saat musim gugur, putra kami lahir. Aku memberinya nama ‘San’ dan mengajukan naturalisasi sebagai warga negara Jepang. Musim gugur dimana putraku lahir dan dia kuberi nama ‘San’ yang berati gunung. Akiyama berati musim gugur di gunung adalah namaku sekarang.

Karena esok hari akan menjadi masa depan anakku untuk pergi mengarungi lautan. Itu adalah bukti yang selalu kau ikrarkan, Hak Soo.
Ayahku akhirnya mengejar kami ke Jepang dan merebut San dari kami.
Kang Woon melawan orang-orang suruhan ayahnya. Kakek Kang memerintahkan anak buahnya untuk melawan menggunakan kekerasan.

Kekerasan digunakan.
Kang Woon dipukuli, si kecil San dibawa oleh mereka. Kyung Mi berteriak jangan bawa putranya. Kakek menggendong San yang menangis keras dan meninggalkan mereka.
Aku tak bisa melindungi istri dan putraku. Aku tak memiliki keinginan untuk hidup.
Sejak saat itu istriku menderita aphasia (kehilangan kemampuan memahami kata-kata) Keadaan mentalnya juga tidak normal. Meninggalkannya dalam keadaan seperti itu, aku pergi kembali mengarungi lautan. Kalau aku gagal lagi dalam eksplorasi kali ini, aku akan pergi meninggalkan dunia ini.

Kini mimpi dan cintaku semua sudah runtuh. Aku tak lagi memiliki alasan untuk hidup. Seandainya nanti aku tak lagi di dunia ini tolong sampaikan buku ini pada putraku.
Kang San menangis membaca tulisan ayahnya. (Jujur saya merecaps-nya sampai nangis sesenggukan, benar-benar banjir air mata)
Kang San menaiki motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Ia menemui kakeknya di pabrik.
Melihat San datang kakek menanyakan kenapa Sang Tae yang tak masuk kerja tanpa kabar, apa san tahu apa yang terjadi pada Sang Tae.
San tak menjawab ia menatap tajam kakek, “Kenapa kakek tak memberitahuku?”

“Apa?” tanya Kakek.

“Aku tanya kenapa kakek tak memberitahuku kalau orang tuaku meninggal karena kakek!” San meninggikan suaranya. Kakek terdiam.
Keduanya bicara pindah tempat untuk menghindari seseorang yang mendengar perbincangan mereka. Kakek bertanya bagaimana San tahu tentang ini. San minta kakek menjawab pertanyaannya, “Mereka meninggal karena kakek kan? Apa itu sebabnya kakek menyimpan kisah tentang orang tuaku sebagai rahasia?”

Kakek merasa kalau San sudah tahu semuanya jadi tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
San tak habis pikir bagaimana bisa kakek sekejam itu. Setelah memperlakukan orang tuanya seperti itu, apa kakek tak punya rasa bersalah. San meninggikan suaranya, “Kenapa kakek merebutku dari ibu?”
Kakek berkata kalau satu-satunya harapan baginya sudah direnggut oleh Ibu San, “Apa kau tahu orang seperti apa ayahmu? Dia orang yang 100 kali bahkan 1000 kali lebih pintar darimu. Dia jenius, lebih hebat dari pada si jenius lainnya. Kalau saja dia tak bertemu ibumu dia pasti bisa memiliki perusahaan perkapalan yang lebih besar daripada milik Jang Do Hyun. Seseorang sehebat itu bertemu dengan gadis pengelas dan mengabaikan ayah dan negaranya.”
San berkata kalau saja kakek menerima mereka bukankah hal itu tak akan terjadi.

Kakek menilai kalau San tak tahu apa-apa, yang namanya bisnis tak bisa dilakukan hanya dengan otak. Dulu dunia bisnis tidak seperti jaman sekarang. “Apa kau tahu kenapa aku kalah dari Jang Do Hyun? Itu karena aku tak memiliki kekuatan dan latar belakang.”
Kakek mengela nafas, “Dengan kemampuan ayahmu dia bisa bertemu dengan banyak wanita yang datang dari keluarga yang memiliki kekuatan.”

San tanya apa karena itu kakek menyuruhnya untuk menikahi In Hwa. San menilai kalau kakek dan Jang Do Hyun sama saja.

Kakek mulai bersedih, “Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan anak. Dunia terasa seperti akan runtuh dan penderitaan yang dalam masih tersisa padaku.”
San yang menangis berkata kalau sekarang ia tak memiliki keyakinan untuk bertemu dengan kakek lagi. “Apa kakek tahu betapa aku merindukan orang tuaku? Orang tua yang dimiliki semua orang. Orang tua yang tak pernah muncul di acara festival sekolahku ataupun pekan olah raga. Apa kakek tahu seberapa rindunya aku pada mereka? Meskipun begitu, aku khawatir kalau itu akan membuatmu sedih. Aku bahkan tak menanyakannya padamu. Tapi bagaimana bisa kakek....”
San menatap tajam kakek, “Kau tak hanya kehilangan anakmu. Mulai hari ini kau juga akan kehilangan cucumu. Apa kakek mengerti?”
San meninggalkan kakek sendirian, ia mengabaikan panggilan kakek. Kakek menangis melihat San berlalu mengendarai sepeda motor.

San memacu sepeda motornya kencang sambil tetap menangis.

(menurutku Kakek merasa bersalah, buktinya dia malah mendorong San untuk berkencan dengan Hae Joo)
Hae Joo ke tempat dimana ia menaburkan abu ayahnya. Ia berdiri di tepi tebing. Hae Joo teringat ketika pertama kali ia tahu kalau ibu bukanlah ibu kandungnya. Tapi saat itu ayahnya berkata lain.
Ayahnya mengatakan bukankah ia dan Hae Joo tak mirip sama sekali, apa Hae Joo mau bilang kalau Hae Joo bukan putrinya. Ketika itu Hong Chul mengatakan tak peduli apa kata orang meskipun langit runtuh Hae Joo tetap putrinya.
Hae Joo menitikan air mata, “Ayah... Sungguh kalau aku bukan putrimu kau tak akan sebaik itu padaku. Bagaimana mungkin kau bukan ayahku? Aku tak menyukai orang kaya atau orang pintar. Kau harus tetap menjadi ayahku. Ayah tolong jawab aku. Ayah, kau ayahku kan?”

Hae Joo berteriak memanggil ayahnya sambil menangis, “Ayah... ayah...”
In Hwa duduk melamun di depan rumah menatap lautan. Geum Hee menghampiri dan duduk di sampingnya. In Hwa menyadari kehadiran ibunya. In Hwa bertanya siapa cinta pertama ibunya ini. Geum Hee menjawab ayah In Hwa.

In Hwa berkata kalau kata orang yang namanya cinta pertama itu tak pernah berhasil, tapi bagaimana cinta pertama ibunya ini bisa berhasil. Geum Hee tak tahu, ia berfikir mungkin karena ayah In Hwa sangat berusaha keras. Mendengar cerita ibunya In Hwa jadi bertanya-tanya apa ia bisa berharap. Ia tak bisa dengan orang lain selain San.
Geum Hee menasehati In Hwa bahwa seiring berjalannya waktu In Hwa akan bertemu dengan orang yang lebih baik dari cinta pertama. In Hwa menilai kalau ibunya ini tak punya orang lain selain ayahnya. Kalau ibunya bicara begitu itu artinya curang.
Geum Hee berkata kalau ia juga memiliki seseorang. In Hwa terkejut ternyata ada orang lain selain ayahnya dihati ibunya. Geum Hee tersenyum mengangguk. In Hwa ingin tahu apa orang lain ibu itu lebih baik dari ayahnya, ibunya tak akan berhubunan dengan ayahnya kalau orang lain itu lebih baik.

Geum Hee kembali menasehati, “Dengan berlalunya waktu cinta pertama itu akan menjadi kenangan yang indah. Sekarang mungkin menyakitkan tapi saat kau mengenangnya suatu saat nanti itu tak akan menyakitkan.”

In Hwa berkata bagaimana pun ibunya ini menikahi cinta pertama. Jadi menurutnya ibunya tak punya hak berkata begini padanya. In Hwa sewot.
Hae Joo berada di luar pagar rumah keluarga Jang melihat Geum Hee yang bersama dengan In Hwa terlihat rukun penuh kasih antara seorang ibu dan anak.

Ya Hae Joo itu ibu kandungmu. Tapi Hae Joo tak menemui mereka.
Hae Joo pergi dari sana dan kembali ke tebing tempat ia menabur abu ayahnya, Chun Hong Chul. disana ia merenung.
Hae Joo mengingat ucapan ayahnya bahwa yang namanya keluarga tak harus yang memiliki hubungan darah. Yang namanya keluarga adalah berbagi penderitaan, kesedihan dan kelaparan bersama-sama. Itulah keluarga. Hae Joo menarik nafas semangat.
Ibu duduk melamun sendirian, menangis sedih. Hae Joo berada di luar pagar memandangnya. Hae Joo membuka pintu pagar, ibu mengusap air matanya menanyakan kenapa Hae Joo kembali. Apa Hae Joo datang untuk mengepak barang. Hae Joo masih memanggil Dal Soon dengan sebutan ibu. Tapi ibu menanyakan kenapa Hae Joo terus memanggilnya dengan sebutan ibu. Apa Hae Joo kembali kesini setelah bertemu dengan ibu kandung Hae Joo. Hae Joo ingin bicara sebentar dengan ibu. keduanya berada di kamar Hae Joo.
Hae Joo mengatakan kalau ia hanya menatap ibu kandungnya dari jauh. Ibu mengingatkan bukankah ia menyuruh Hae Joo untuk purgi ke ibu kandung Hae Joo. Kenapa begini, kalau Hae Joo berada disini Hae Joo akan menderita. Kalau Hae Joo pergi ke kaluarga kaya nasib Hae Joo akan berubah. Hae Joo mengatakan kalau tadi ia juga pergi ke laut dimana mereka menabur abu ayah. Ibu menegaskan kalau dia itu bukan ayah kandung Hae Joo.
Hae Joo menangis mengatakan bukankah ibunya tahu bagaimana ayah membesarkannya yang bukan darah dagingnya. Ayah membesarkannya selama 12 tahun. Bagaimana bisa ibu menyuruh dirinya untuk menyangkal itu.

Ibu bertanya apa Hae Joo tahu betapa ibu kandung Hae Joo ini bersungguh-sungguh mencari Hae Joo. Hae Joo menjawab tahu itu. Ia juga tahu kalau ayah kandungnya juga sudah meninggal. Ia sangat berterima kasih pada orang tua kandungnya karena sudah membawanya ke dunia ini. Tapi selama 27 tahun dimana ia tertawa, menangis dan menderita itu adalah tempatnya.
“Disinilah keluargaku, tak peduli bagaimana keluarga ini menyangkalku. Ibu adalah keluargaku. Jadi jangan katakan apapun pada Jung Woo samchoon.” Ibu terkejut dengan permintaan Hae Joo.
Hae Joo berkata kalau Jung Woo tetap samchoon-nya. Kita tetap tinggal dibawah satu atap ia tak ingin mengubah apapun. Ibu tak mengerti dengan jalan pikiran Hae Joo. Apa Hae Joo tak melihat kalau ia sudah berusaha untuk bermurah hati. Ia sudah menyuruh Hae Joo pergi tapi kenapa Hae Joo malah seperti ini. Hae Joo bertanya apa ibunya ini sungguh-sungguh menginginkannya pergi. Ibu berusaha memungkiri perasaannya dan berkata apa Hae Joo tak mengerti perkataannya.
Hae Joo menggenggam tangan ibu dan memintanya berhenti menyuruhnya pergi. Ibu harus tetap berada di sisinya. “Meskipun hanya dirimu, seperti aku yang menghargai kenangan 12 tahun bersama ayah. Aku juga menghargai 27 tahun yang kuhabiskan bersammu. Jadi ibu jangan lagi menyuruhku pergi.”
Ibu menangis menaboki Hae Joo, “Kau ini memang menyedihkan. Kau mau hidup susah seperti ini.” Keduanya saling memeluk dan menangis.
Chang Hee berada di ruangan Presdir Jang menyampaikan bahwa permintaan untuk surat perintah penahanan harus dilakukan 48 jam sebelumnya. kita harus mengurusnya dalam waktu tersebut. Presdir Jang bertanya maka dari itu bagaimana cara melakukannya. Chang Hee menyarankan sebaiknya mereka menggunakan para sub-kontraktor dari kasus yang lalu. Presdir Jang ingin tahu bagaimana caranya.
Chang Hee : “Aku akan menyuruh mereka untuk berkata kalau dia memaksa mereka memberikan kesaksian palsu untuk menangkapmu, Presdir. Dan dia menerima uang dari mereka setelah memeras kelemahan mereka. Aku akan membuat seolah penangkapan Il Moon merupakan bagian dari itu.” (hmm yang dimaksud dia ini Jung Woo)

“Maka kita harus mendapatkan nomor rekening dari Yoon Jung Woo.” sahut Sekertaris Choi.

Chang Hee tahu itu, ia sudah menghubungi para sub-kontraktor. Kalau Presdir Jang memberi sedikt penghargaan, mereka akan bekerja sama penuh karena ia sudah mengetahui kelemahan mereka.

Presdir Jang tak yakin bisakah menyingkirkan Jung Woo dengan cara itu. Chang Hee berkata bahwa pada akhirnya ia harus maju sendiri melawan Jung Woo dan sebagai gantinya ia meminta Presdir Jang untuk menangani beberapa masalah di level atas. Presdir Jang mengangguk.
Il Moon berada di ruang interogasi. Jung Woo melempar dokumen, hal itu membuat Il Moon terkejut. Jung Woo meminta Il Moon melihatnya jangan menunduk terus. “Dengan semua bukti apa kau mau terus menyangkalnya?”
Dengan sikap cuek Il Moon berkata kalau ia tak tahu apa-apa. Ia tak akan bicara sampai pengacaranya datang.

Jung Woo mengerti, ia pun akan meninggalkan kasus ladang minyak di Indonesia. Jung Woo membaca dokumen tentang aktivitas rekening Il Moon dari tahun 2010 sampai sekarang. Jung Woo melempar dokumen itu dan bertanya bukankah Il Moon ingat, ini adalah dana yang Il Moon gelapkan secara pribadi.
Brak... Jaksa yang ada di sana melempar buku. Ia marah karena Il Moon dari tadi diam saja. Il Moon ikut marah apa yang Jaksa itu lakukan.
Jaksa itu mendorong kepala Il Moon dengan pulpen, “Apa kau tak tahu.. apa.. ini?” Il Moon mengancam akan menuntut kalau mereka menggunakan kekerasan terhadapnya.
Jaksa itu bertanya apa Il Moon mau dipukul dengan buku tebal yang ia bawa. Kalau Il Moon dipukul dengan ini tak akan ada bekasnya.
“Coba saja tuntut kami. Lakukan!” jaksa itu menantang sambil menggertak Il Moon. “Apa kau tahu berapa banyak konglomerat yang menemui jaksa? Kau ini bukan apa-apa.” Il Moon mulai ketakutan nih. Jung Woo mengingatkan bawahannya jangan menggunakan cara itu, kita tak seperti dulu lagi.
Jung Woo mengatakan pada IL Moon kalau ia sudah menelusuri data pengeluaran Il Moon. Dana yang dihabiskan untuk menyogok dan hadiah sebesar 50 juta. Il Moon bahkan berjudi di Makau. “Apa ayahmu tahu tentang ini?”

Il Moon terhenyak kaget.

Jung Woo berkata kalau ia tahu Chang Hee menjadi Direktur Operasional dan Strategi. Ia mengatakan ini karena ia tahu sedikit tentang perusahaan itu. Kalau Presdir Jang tahu, Il Moon lebih baik jangan bermimpi menjadi penerus Cheon Ji.

Il Moon menunduk cemas. Jung Woo mengingatkan bukankah Il Moon menyadari kalau akhir-akhir ini para konglomerat berada dalam pengawasan kejaksaaan. “Kau akan membusuk di penjara selama 3 tahun. Tapi tentunya itu akan berbeda seandainya kau mau bekerja sama.”
Il Moon yang ketakutan bertanya apa yang Jung Woo inginkan darinya. (haha nyerah nih ceritanya)

Jung Woo : “Jang Il Moon, kau merasa diperlakukan tak adil kan? Kau melakukan apa yang bisa kau lakukan untuk perusahaan. Aku ingin tahu tentang ayahmu. Kau tak akan pernah mendapat jabatan yang tinggi selama Presdir Jang masih ada. kau paling tahu apa yang kumaksud kan?”

Il Moon serba salah, apa yang akan dikatakannya.
Young Joo dan Jin Joo sampai di rumah. Hae Joo langsung menanyakan darimana Young Joo mendapatkan jam tangan dan tas itu. Young Joo mencibir untuk apa Hae Joo peduli, bukankah Hae Joo ini bukan kakak kandungnya.
Hae Joo marah dan menaboki Young Joo, “Siapa yang bilang aku bukan kakak kandungmu? Siapa yang bilang?”

Jin Joo berkata bukankah mereka memiliki ayah yang sama, kenapa Young Joo bersikap seperti itu pada Hae Joo.

Hae Joo : “Aku tetap putri ayah dan kakakmu. Aku membesarkanmu di punggungku. Aku membantu melahirkan Jin Joo dengan tanganku sendiri. Siapa yang bilang aku bukan kakakmu?”

Young Joo menunduk diam. Hae Joo meninggikan suaranya, “Apa kau tak bisa bicara? Darimana kau mendapatkan tas dan jam tangan itu?”
Young Joo pun akhirnya mengaku kalau ia mendapatkan jam tangan dan tas itu dari direktur tempat Hae Joo bekerja. Dia yang memberikan itu padanya.
Hae Joo kaget kalau Young Joo menerima barang itu dari Il Moon. Ia bertanya kenapa Young Joo menerima barang-barang itu. Young Joo berkata Il Moon memberikan padanya karena Il Moon menyukainya. Hae Joo berkata kalau ia tahu orang seperti apa Il Moon itu, “Kau ini mau jadi apa kalau sudah besar?”
Young Joo menyampaikan kalau ia tak bermaksud menerima itu tapi Il Moon meneleponnya setiap hari dan terus-menerus mengejarnya. Hae Joo meminta Young Joo mendengarkannya baik-baik, mulai sekarang jangan menemui Il Moon lagi. Young Joo menunduk menjawab mengerti dengan pelan.

Hae Joo bertanya bagaimana dengan Sang Tae. Jin Joo mengatakan kalau ia sudah menghubungi oppa-nya tapi dia tak mau pulang. Hae Joo menghela nafas berkata kalau Sang Tae pergi tanpa membawa uang dan makanan, dia itu mau apa?
Sang Tae berjalan menyusuri jalan, ia merogoh saku jaketnya. Tak ada apa-apa hanya ada kertas. Hehe.
Sang Tae melihat dua anak kecil sedang bermain game. Ketika anak yang satunya kalah maka yang kalah harus memberikan cemilannya. Sang Tae ngiler melihat cemilannya. Ia pun mendekati kedua anak itu.
“Hei hei hei. Kau ini kalah karena apa yang kau lakukan.” seru Sang Tae mengomentari kekalahan salah anak kecil itu bermain game. Anak kecil itu bertanya kenapa.

Sang Tae jongkok berkata kalau ia akan membantu anak ini membalas kekalahan. “Kalau aku menang kau harus memberikan cemilan itu untukku. Bagaimana?” (haha kelaparan jadi ngerjain anak kecil nih ceritanya) Anak kecil itu bertanya apa Sang Tae bisa memainkannya. Sang Tae mengangguk yakin.
Anak kecil yang satunya (yang tadi menang) bertanya apa temannya ini tak bisa menilai penampilan Sang Tae. Anak kecil ini meremehkan penampilan Sang Tae hehe. Sang Tae berkata, “Asal kalian tahu. Meskipun penampilanku begini. Aku ini memiliki keahlian, percaya saja padaku.”
Sang Tae pun bermain game menggantikan anak yang tadi kalah main game. Tapi dia juga kalah haha.
Anak kecil yang kalah pun kesal karena Sang Tae sudah menghabiskan koinnya. Tapi Sang Tae mau main satu kali lagi. Anak kecil itu kesal, lupakan saja dan mengajak temannya pergi. Ia menilai kalau Sang Tae ini aneh.

Sang Tae memohon, “Kalau begitu berikan saja sisa cemilanmu, aku kan sudah berusaha.” Anak kecil yang menang main game menilai Sang Tae ini gelandangan. Ia mengambil cemilannya dan pergi mengajak temannya. Hahaha kasian Sang Tae.
San berdiri menatap lautan luas. Ponselnya berdering. Yang menelpon tulisannya si bodoh, siapa itu.
Sang Tae yang kelaparan akan mencuri makanan di warung. Dua pelajar yang sedang makan disana melihat Sang Tae.
“Hei pencuri” tiba-tiba ada seseorang yang berteriak. Sang Tae jelas terperanjat kaget dan menoleh ke belakang. Hahaha ternyata itu San yang datang. Sang Tae menghela nafas lega melihat kedatangan San. (jadi si bodoh di ponselnya San itu Sang Tae ya haha)
Sang Tae berkata kalau ia hampir saja mati karena kaget. Ia kesal kenapa San baru datang sekarang. Ia mengira kalau ia akan mati kelaparan.

Brak... San menendang pantat Sang Tae seperti yang kakek lakukan pada Sang Tae. “Dasar brengsek, apa hak mu meninggalkan rumah?”

Sang Tae tak menjawabnya ia mengatakan kalau ia tak punya tenaga untuk bicara. Berikan padanya 10rb won.
San menunjuk-nunjuk Sang Tae, “Kau harus menghasilkan uang dengan kedua tanganmu sendiri untuk memberimu makan. Kau ini hidup dari adikmu selama hidupmu.” Sang Tae terdiam.
San : “Apa kau kira aku tak tahu ini? Supaya kau masuk Universitas, Hae Joo bahkan tak bisa sekolah. Dia yang mengurus kebutuhanmu. Tapi kau malah menusuk hati Hae Joo dengan mengatakan kalau dia bukan adikmu. Apa kau ini punya hati nurani?”

Sang Tae mengaku kalau saat itu kondisinya sedang tak baik. San menilai kalau Sang Tae ini memang brengsek dengan kondisi tak baik. San juga mengatakan kalau Hae Joo itu menganggap Sang Tae kakaknya, bahkan Hae Joo sampai memohon-mohon agar Sang Tae bisa bekerja.

Sang Tae mengajak San meluruskan masalah ini. Apa San tahu betapa kerasnya kakek San bersikap padanya. Kakek hanya memberinya kesulitan. Karena dia kakek San, jadi San bisa membayar gaji-nya karena ia sudah bekerja selama seminggu.

San menggertak akan memukul Sang Tae, “Hei dengar orang yang mempekerjakanmu adalah kakekku. Jadi kau harus meminta gajimu padanya.”
Sang Tae memohon ya paling tidak San memberinya 1000 won. dalam kondisi seperti ini ia bisa saja berakhir mati kelaparan di jalan. Sang Tae memohon.
San menyarankan kalau Sang Tae tak punya uang, seharusnya Sang Tae pulang ke rumah dan membuat kue dadar untuk Sang Tae makan sendiri.
Sang Tae tak mau pulang, ia duduk bersila di jalan dan berkata kalau ia ini punya harga diri. Kalau ia bilang tak pulang ya tak akan pulang. San menepuk kepala Sang Tae. Ia mengeluh seandainya Sang Tae bisa bertahan selama sebulan bekerja di pabrik ia akan menempatkan Sang Tae ke bagian manajemen material, tapi sayangnya Sang Tae tak mau.
Mendengar itu Sang Tae langsung berdiri, “Apa kau bilang? manajemen material? apa kau serius?”

San berkata melihat sikap dan tingkah laku Sang Tae sebenarnya Sang Tae tak cocok untuk itu. Ia menilai kalau pekerjaan impian sudah terbang selamanya dari diri Sang Tae.
San melihat sekeliling dan mengambil kaleng. Ia menyerahkan kaleng itu pada Sang Tae. "Meskipun kau pengemis, kau seharusnya mengemis dengan gaya.” Kata San hehe.
San merogoh sakunya mengambil uang receh dan menaruhnya di kaleng yang dibawa Sang Tae. “Semoga beruntung.” ucap San sambil menepuk pipi Sang Tae dan berlalu dari sana.

“Hai San, Kang San!” panggil Sang Tae mengikuti San.
Sang Tae mengendap-endap pulang ke rumah. Di depan rumah ia berpapasan dengan Jin Joo. Sang Tae kaget setengah mati dan memberi kode agar Jin Joo diam. Sang Tae bertanya Hae Joo tidak ada kan.
“Untuk apa kau mencariku?” tiba-tiba Hae Joo muncul dari belakang membuat Sang Tae terkejut.

Bersambung di Part 2

15 comments:

  1. sedih banget pas san baca surat ortu nya n waktu haejo ingat ama ayah nya ampe berkaca'' nie mata baca sinopsis nya aplg klo liat langsung drama banjir air mata dech,, tapi cerita sangtae lucu,,thank mba sinopsis nya -flo-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks hiks... hu uh... nulisnya juga banjir air mata

      Delete
  2. Iya... sudah dua kali padahal ya ngeliat He Joo baca surat dari ortunya.... tapi masih tetep nangis aja. Tapi ada sedikit harapan nih... kalau Il Moon jatuh cinta setengah mati sama Young Joo gimana ya, soalnya lucu pas ngeliat scene mereka berdua tuh... :D
    Trims Annies

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau yang ini San yang baca surat Ortunya bukan Hae Joo.

      iya Il Moon - Young Joo lucu kalau keduanya beneran jadi couple hehe

      Delete
  3. sedih banget pas san baca surat ayah nya baca sinopsis nya aja aku ampe nangis apalgi waktu nonton banjir airmata dech T-T ngeliat nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwaaaa sama banjir air mata juga...

      Delete
  4. sista sinopsis i miss you knp blm d lanjutin? pdhl aku nunggu bgt sis poting..:(
    Semangat sis nulis sinopsis@nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I Miss You, sementara ku stop.

      Kalau mau baca sinopsis-nya ke kutudrama mbak dee aja ya.

      Delete
  5. thanks berat mba sinopsisnya
    ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  6. jd nggak sabar pengin baca sinopsis s'lanjutnya semangat mba \\(^-^)// -flo-

    ReplyDelete
  7. makasih mba sinopsisnya, jd penasaran part 2 dst...Tetap semangat mba! :)

    ReplyDelete
  8. Mksih sinopsis'a n dtnggu klnjut'n.a. ;)
    FIGHTING. ;)

    ReplyDelete
  9. lanjutkan min....
    selalu di tunggu sinopsis lanjutan y...

    ReplyDelete
  10. wah,,,,,kapan ya,,,hee joo suka ma kang san,,,,,jd kasihan ma kang san......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm kapan ya hehe... yang pasti untuk melupakan cinta pertama akan sulit untuk cepat-cepat melupakannya, apalagi hubungan asmara Hae Joo - Chang Hee udah 15 tahun...

      Delete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...